UGM x Indosat x Nvidia Hadirkan AI Technology Center

Peluncuran AI Technology Center di kampus UGM. (Sumber: UGM)

Techverse.asia - Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Indosat Ooredoo Hutchison dan Nvidia telah resmi meluncurkan AI Technology Center di GIK UGM baru-baru ini. Peluncuran pusat teknologi AI ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem AI nasional yang menjadikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan pengembangan talenta berbasis AI yang dapat menjawab berbagai persoalan di Indonesia.

Baca Juga: Apple Mengumumkan Perubahan untuk Aplikasi di Uni Eropa

Rektor UGM Ova Emilia menyampaikan bahwa sejak tahun 2023, UGM berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pengembangan UGM AI Society sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin.

“Sejak 2023, UGM telah berkomitmen untuk mewujudkan universitas cerdas melalui optimalisasi pemanfaatan AI di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya tersebut adalah menginisiasi pengembangan UGM AI Society,” paparnya.

UGM, lanjutnya, telah melakukan berbagai riset AI yang telah berkembang dan memberikan kontribusi baik di tingkat nasional maupun internasional. “Pengembangan tersebut antara lain mencakup pemanfaatan AI dalam penanganan pandemi Covid-19, etika AI, dukungan terhadap diagnosis tuberkulosis, serta teknologi pertanian pintar,” katanya.

Baca Juga: Indosat x Nvidia Berambisi Beri Layanan AI hingga Pelosok Indonesia

Menurutnya, kolaborasi ini menciptakan berbagai produk unggulan yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. Di antaranya aplikasi manajemen bencana, platform AI untuk analisis dan pengambilan keputusan berbasis data. Selain itu, terdapat juga teknologi smart agriculture yang mengintegrasikan Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan AI.

Ia berharap, kolaborasi ini tidak berhenti pada pembangunan pusat teknologi, tetapi terus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi Indonesia sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan global.

“Kami berharap sinergi ini akan terus melahirkan solusi inovatif di bidang kecerdasan buatan, serta terobosan teknologi yang akan bermanfaat bagi Indonesia dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan di kancah global,” ujarnya.

Baca Juga: Wacana Blokir IMEI, CfDS UGM: Jangan Buat Kebijakan yang Bisa Meresahkan Masyarakat

Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha menuturkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pencipta inovasi AI. Menurutnya, persoalan Indonesia bukan karena kekurangan talenta, melainkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan yang belum merata.

Investasi pada manusia menjadi bagian penting agar Indonesia siap menghadapi perkembangan AI. Ia menambahkan, dalam pemanfaatannya perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat, termasuk pertanian, pendidikan, dan tenaga kesehatan.

“Namun yang terpenting, masyarakat harus merasakan manfaatnya. Kami memproduksi di Indonesia untuk Indonesia dan untuk dunia,” katanya.

Indosat memilih UGM sebagai salah satu mitra karena memiliki komitmen kuat terhadap riset dan inovasi. Menurutnya, komitmen yang dibutuhkan dalam pengembangan pusat AI bukan sekadar dukungan finansial, tetapi juga waktu dan keseriusan seluruh pihak yang terlibat.

Baca Juga: Nvidia Blackwell GeForce RTX 50 Series: Lompatan Baru Grafis Komputer AI

“Ini soal penelitian, ini soal inovasi. Jadi, komitmennya bukan soal uang, melainkan soal waktu bagi semua orang,” imbuhnya.

Vice President of Solutions Architecture and Engineering Nvidia, Marc Hamilton, menjelaskan pentingnya keberadaan infrastruktur AI atau AI factory untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut. Ia mengibaratkan AI factory seperti pabrik yang mengolah bahan baku berupa data menjadi model AI yang menghasilkan nilai.

AI Factory adalah konsep yang sangat menarik. Prinsip kerjanya sama seperti reaktor. Menerima bahan baku, mengolahnya, dan menghasilkan barang jadi,” katanya.

Baca Juga: Kian Meningkat, Kawasan Indo-Pasifik Hadapi Risiko Kecerdasan Buatan

Menurutnya, Indonesia memiliki modal talenta yang besar. Ia menyebut terdapat lebih dari 500 ribu pengembang perangkat lunak Indonesia yang terdaftar di GitHub. Akan tetapi, pengembangan AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang lebih besar.

Karenanya, akses terhadap AI Factory perlu diperluas agar mahasiswa, universitas, dan perusahaan di Indonesia dapat mengembangkan teknologi AI secara mandiri.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI