Techverse.asia - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) mendorong sedikitnya empat startup untuk mengikuti gelaran Sustainable High Technologu (Sushi Tech) Tokyo 2026 di Jepang yang akan diselenggarakan pada 27-29 April. Keempat startup ini adalah Bell Society, Gapai, Ijo dan Spun.
Sebagai informasi Sushi Tech Tokyo merupakan konferensi inovasi dan startup internasional yang dilaksanakan oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo, mereka nanti akan bertemu dengan investor serta pemangku kepentingan guna memecahkan masalah masyarakat saat ini lewat teknologi yang berkelanjutan.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan, keikutsertaan empat startup itu diharapkan bisa membuka peluang kerja sama bisnis hingga menarik investasi global.
"Empat startup dari program tersebut akan kami kirimkan, disiapkan supaya bisa hadir dalam event akbar di Tokyo. Harapannya nanti di sana mereka dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas lagi atau bahkan mendapatkan bisnis partner, hingga investasi untuk mengembangkan bisnis mereka," ujarnya baru-baru ini kami kutip, Jumat (24/4/2026).
Baca Juga: Temasek Foundation Beri Modal Eratani Senilai Rp6,1 Miliar untuk Petani
Partisipasi startup-startup itu tak lepas dari program BEKUP Global Scale-Up 2026 yang digagas oleh Kemenkraf. Dijelaskannya bahwa pengiriman startup ini adalah bagian dari upaya pemerintah guna mendorong kekayaan intelektual (IP) Indonesia agar lebih dikenali luas di level internasional.
"Pastinya ini adalah sebuah kebanggaan seperti yang diinginkan oleh Pak Prabowo (Presiden RI), bagaimana IP kita semakin mendunia," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah memberi pendampingan kepada empat startup tersebut sebelum terbang ke Negeri Sakura, termasuk dalam menyusun proposal bisnis serta pemahaman pasar tujuan.
Pendampingan yang diberikan yakni persiapan. Pasalnya, bisnis proposal juga tergolong penting. "Saat mau hadir ke sebuah negara, penting untuk mengetahui bagaimanan sebetulnya kondisi pasar di sana, lalu storytelling yang menarik bagi pengusaha-pengusaha di negara itu, kan, lain-lain pula," katanya.
Baca Juga: Josys: Startup Teknologi Informasi Asal Jepang Siap Ekspansi ke Pasar Indonesia
Seperti, lanjutnya, pasar Jepang yang menaruh ketertarikan tinggi pada isu keberlanjutan atau sustainability, sehingga menjadi peluang bagi startup Tanah Air guna mengusung inovasi yang ramah lingkungan. Selain itu, pemerintah juga punya target adanya transfer teknologi dan kolaborasi bersama pelaku industri di Jepang.
"Target akhirnya adalah kerja sama bisnis, apakah itu memperluas pasar atau mungkin ketemu dengan bisnis partner yang juga bisa memberikan investasinya buat memberikan bisnis kepada empat startup ini," katanya.
Di samping itu, BEKUP Global Scale-Up 2026 juga didukung oleh Kumpul.id. Program ini bertujuan untuk memperluas market startup Indonesia ke kancah internasional. Yang telah dimulai sejak Februari tahun ini dan diikuti sebanyak 125 peserta dari seluruh Indonesia. Lewat proses seleksi, terpilih sepuluh startup terbaik yang kemudian dikurasi menjadi empat besar.
Proses kurasinya melibatkan ahli dari Jepang seperti TechShake dan Creww Inn untuk memastikan bahwa inovasi yang mereka bawa benar-benar sejalan dengan kebutuhan pasar industri global.
Baca Juga: LLV x MEDRiNG: Fasilitas Medis yang Hadirkan Dokter dari Jepang ke Indonesia
"Saat ini mereka yang telah terpilih untuk mengikuti benchmarking, bisnis matching, dan juga mencari kesempatan yang lebih besar lagi di Sushi Tech Tokyo 2026," ungkap pendiri Kumpul.id Faye Wongso.
Adapun profil Bell Society adalah usaha rintisan di bidang biomaterial terbarukan yang didirikan oleh beberapa alumni kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat ini mereka fokus kepada pengembangan material terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Salah satu produknya ialah material dari limbah kulit kopi yang kekinian digunakan oleh merek fesyen kondang seperti Gio Cardin. Capaiannya antara lain Good Design Indonesia dari IDCC Kemendag, G-Mark dari Jepang, dan gelar juara Swiss Innovation Challenge.
Sementara Ijo adalah startup di sektor bioteknologi rumput laut, fokus menyediakan solusi untuk masalah lingkungan, utamanya perubahan iklim dan pencemaran plastik. Produknya mencakup kemasan makanan, bioplastik, dan biostimulan bagi pertanian regeneratif.
Baca Juga: Komdigi x Google Cloud Hadirkan Program Akselerator bagi Perusahaan Rintisan Indonesia
















