Techverse.asia - Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menyelenggarakan program Garuda Spark dengan tujuan utama guna menghidupkan lagi kepercayaan dan daya tahan ekosistem startup alias usaha rintisan nasional di tengah tekanan berat yang tengah dihadapi industri digital kekinian.
Garuda Spark Innovation Hub Bandung telah beroperasi selama tiga bulan terakhir. Sejak resmi beroperasi, program ini terus dibentuk sebagai hub kolaborasi yang konkret, tak sekadar ruang inkubasi simbolik semata.
"Saya hari ini datang untuk mengecek Garuda Spark di Kota Bandung yang sudah berjalan selama tiga bulan. Saya mau melihat perkembangan aktivitasnya seperti apa dan sudah sejauh mana startup yang telah difasilitasi di sini," kata Menkomdigi Meutya Hafid pada Senin (5/1/2026).
Baca Juga: TransTRACK x DJBC KPPBC Tanjung Emas akan Perkuat Sistem E-Seal Nasional
Politisi Golkar ini memaparkan, industri usaha rintisan berbeda dari saat dilahirkan dengan sekarang yang sudah penuh tantangan. Jadi, menurutnya, bagaimana menghadapi tantangan itu bersama-sama yang dicoba dilakukan oleh Garuda Spark Innovation Hub Bandung tersebut melalui cara membuat sebuah ekosistem.
"Di dalamnya terdapat para investor, startup, pemerintah, dan lain-lain," ujarnya.
Garuda Spark Innovation Hub Bandung telah dimulai sejak 27 September 2025, dan hingga kini sudah mengkurasi sedikitnya sepuluh usaha rintisan anyar yang sebagiannya sudah diluncurkan ke publik. Jawatannya mendorong agar startup-startup ini memiliki tingkat kepercayaan (confidence level) tinggi.
"Kami hadir untuk memastikan para usaha rintisan tersebut tidak berjalan sendiri," ujarnya.
Selama tiga bulan pelaksanaannya, sejatinya telah terjaring sebanyak 150 usaha rintisan. Dia pun menilai bahwa tahun lalu menjadi periode yang menantang untuk industri startup. Ini didasarkan pada reportase-reportase yang telah dibuat.
Baca Juga: Waterhub Umumkan Pendanaan Awalnya, Memperluas Akses Air Minum
"Startup yang berada di kawasan Asia Tenggara, termasuk kita pada tahun lalu memang berada di fase yang enggak mudah, tapi kita harus bangkit bersama-sama. Karena pada tahun ini pun juga belum tentu lebih mudah, kita ingin membangun kebangkitan yang lebih berkelanjutan dan sehat," papar dia.
Namun demikian, dia optimistis bahwa Indonesia punya kekuatan startup di sejumlah daerah seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kota Malang dan Surabaya, Provinsi Jawa Timur.
"Kota Bandung saya rasa cukup baik, tapi harapannya bisa lebih berkembang lagi. Sementara itu, kekuatan startup di tiga kota tersebut tergolong kuat. Kami punya target para startup bisa tumbuh sebesar delapan persen pada 2026," imbuhnya.
Guna dapat mencapai target tersebut, pelbagai kegiatan Garuda Spark Innovation ke depannya akan diintensifikan di seluruh daerah di Tanah Air.
Baca Juga: Telkomsel NextDev Tahun ke-11, Cetak Technopreneurs Berbasis Kecerdasan Buatan
Lebih lanjut, menurutnya, program ini memiliki pendekatan lain dengan inkubasi konvensional. Sebab Garuda Spark dirancang seabgai ekosistem terbuka yang menjadi wadah pertemuan antara pendiri startup, perusahaan modal ventura, komunitas, akademisi, hingga pemerintah dalam satu ruang kolaboratif.
Pemerintah tak akan mengambil peran kreatif, tapi hadir sebagai penguat fondasi kesinambungan dan kepercayaan. Alasan dipilihnya Kota Kembang adalah sebagai percontohan nasional lantaran dianggap punya modal talenta, kreativitas, dan ekosistem yang cukup matang dibanding daerah lain.
"Keberhasilan di sini kami harapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain, termasuk yang ada di luar Pulau Jawa," katanya.
Ia menambahkan bahwa program Garuda Spark tersebut sifatnya jangka panjang, bukan jangka pendek. Di sini peran negara bukan hanya sebagai regulator semata, namun mitar strategis untuk startup dalam menghadapi era digital yang kian kompleks dan kompetitif.
"Kami harus hadir bersama para pendiri startup untuk bangkit," ujarnya.
Baca Juga: Komdigi x Google Cloud Hadirkan Program Akselerator bagi Perusahaan Rintisan Indonesia













