Techverse.asia - Timothée Chalamet kembali memerankan karakter yang diadaptasi dari dunia nyata, Marty Reisman, seorang atlet pingpong asal Amerika Serikat (AS) dalam film Marty Supreme arahan Josh Safdie. Sebelumnya, Chalamet juga pernah terlibat dalam film biopik Bob Dylan berjudul A Complete Unknown (2024).
Jika saat memerankan Dylan memang kejadiannya nyata, namun dalam Marty Supreme, plotnya tidak selaras dengan kehidupan sang atlet sebetulnya, alhasil film ini dianggap fiksi. Reisman sendiri mantan atlet tenis meja yang pernah meraih kejuaraan nasional dengan total 22 piala sepanjang tahun 1942-2022.
Meski begitu, terdapat persamaan yang diadaptasi di film tersebut yaitu semangat, kegigihan, dan tipu daya Chalamet untuk bisa menjadi juara dunia tenis meja. Film ini dibuka dengan Chalamet yang bekerja sebagai seorang salesman sepatu andal di tempat pamannya, bahkan dia sudah menjabat sebagai manajer, tapi dia berbakat dalam hal tenis meja.
Baca Juga: Review Sinners: Film Vampir Berbalut Sejarah Kelam, Musik, dan Budaya
Marty pun bertekad untuk menjadi atlet pingpong dan mengincar gelar juara di event British Open. Namun, dia membutuhkan uang sebesar US$700 supaya bisa terbang ke London, Inggris. Sayangnya, upayanya enggak pernah mudah, ada saja cobaan yang harus ia hadapi. Di sinilah dia mulai menggunakan kecerdikan dan tipu dayanya.
Dalam segala upayanya agar bisa menjadi seorang atlet pingpong profesional, Chalamet pun memiliki seorang kekasih Rachel (Odessa A’zion), teman masa kecilnya yang sejatinya sudah menjadi istri orang. Walau sudah punya kekasih, Chalamet berselingkuh dengan Kay Stone (Gwyneth Paltrow) ketika berada di Inggris.
Sebagian orang mungkin mengira kalau film Marty Supreme mengisahkan kehidupan mantan seorang atlet, karena ada unsur olahraga pingpong. Namun sebenarnya pingpong enggak menjadi bagian dari inti ceritanya. Pingpong justru yang membuat alur film ini terasa begitu intens mulai dari awal sampai akhir.

Film-film karya Josh Safdie sendiri seperti Uncut Gems yang rilis tujuh tahun lalu dan dibintangi oleh Adam Sandler juga menawarkan hal serupa, sangat kacau dan intens. Hidup Marty yang sangat berantakan dan tak bisa ditebak. Juga terdapat banyak kejadian-kejadian yang enggak terbayangkan sepanjang film diputar.
Baca Juga: Review Avatar Fire and Ash: Konflik Keluarga yang Berlapis dan Kritik Ekologis
Seperti scene saat bagaimana dia bisa mendapat ongkos untuk membeli tiket pesawat ke London, yakni dengan cara mengancam teman kerjanya memakai senjata api guna membuka isi brankas. Peristiwa bathtub terperosok ke kamar yang ada di bawah tempat dia menginap. Bathtub tersebut menimpa seekor anjing.
Kemudian, Marty dan Rachel juga terlibat dalam adu tembak yang menegangkan. Belum lagi kepiawaiannya dalam bersilat lidah yang tak jarang justru membawanya ke dalam permasalahan baru. Dengan begitu, alurnya terasa cepat, layaknya permainan tenis meja yang bolanya dipukul bolak balik.
Secara sinematografi enggak perlu diragukan lagi karena berada di bawah kendali Darius Khondji. Marty Supreme tampil dengan kesan kasar melalui warna-warna neon yang redup. Gambarnya sengaja dibuat tak mulus agar berkelindan dengan segala kekacauan yang coba ditampilkan oleh sang sutradara. Hal inilah yang membuat vibes-nya berkarakter dan hidup.
Baca Juga: Timothée Chalamet Berlatih Harmonika Selama 5 Tahun untuk Memerankan Bob Dylan
Di samping itu, film produksi A24 studio ini sukses diganjar sembilan nominasi dalam ajang Oscar 2026, yang membuat Chalamet sebagai salah satu kandidat kuat untuk menyabet kategori aktor terbaik. Ini mencakup Best Picture, Best Actor, Best Director, Best Original Screenplay, Best Cinematography, Best Film Editing, Best Costum Design, Best Production Design, dan Achievement in Casting.
Melalui Marty Supreme, dia telah membuktikan sebagai aktor muda modern berbakat yang tampil sangat gemilang. Totalitasnya dalam berakting sejatinya juga sudah terlihat dalam film-filmnya seperti Dune, Wonka, hingga A Complete Unknown.













