Polyworking Tak Hanya Berlaku Bagi Gen Z, Malah Didominasi Gen X

Rahmat Jiwandono
Rabu 08 Juli 2026, 11:15 WIB
Ilustrasi polyworking (Sumber: freepik)

Ilustrasi polyworking (Sumber: freepik)

Techverse.asia - Fenomena polyworking semakin banyak diperbincangkan seiring berkembangnya pola kerja yang lebih fleksibel dan meningkatnya pekerja yang memiliki lebih dari satu sumber pendapatan. Dalam literatur, polyworking menggambarkan seseorang yang menjalankan beberapa aktivitas kerja yang sama-sama menghasilkan pendapatan secara bersamaan.

Namun, data ketenagakerjaan Indonesia belum secara khusus mengukur fenomena tersebut sehingga gambaran mengenai fenomena ini perlu didekati melalui data pekerja yang memiliki pekerjaan tambahan.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM Qisha Quarina menjelaskan bahwa fenomena tersebut perlu dipahami sesuai konteks pasar kerja Indonesia. Menurutnya, memiliki lebih dari satu pekerjaan bukanlah fenomena yang baru dalam pasar kerja Indonesia.

Selama ini Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) telah mengenal konsep pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan, meskipun belum secara spesifik menggunakan istilah polyworking. Oleh karena itu, fenomena pekerja yang memiliki lebih dari satu sumber pendapatan perlu dilihat berdasarkan karakteristik pekerjaan maupun tujuan pekerjanya.

Baca Juga: Arummi Hadirkan Susu Kacang Mede dengan 3 Varian Rasa

“Kalau kita berbicara polyworking dalam arti ada pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan, itu tentunya tidak spesifik hanya untuk Gen Z. Tinggal lagi konteksnya apa dulu,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

Hasil olahan data Sakernas Agustus 2024 menunjukkan sekitar 19,29 juta pekerja atau 13,34 persen dari total pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan. Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa pekerja dengan pekerjaan tambahan justru didominasi kelompok usia 45–54 tahun (generasi Generasi X) sebesar 25,83 persen, disusul kelompok usia 55 tahun ke atas sebesar 25,66 persen dan usia 35–44 tahun sebesar 25,40 persen.

Sementara itu, pekerja berusia 15–24 tahun hanya mencapai 4,95 persen dan kelompok usia 25–34 tahun sebesar 18,17 persen. “Kalau kita melihat skala yang lebih besar, fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi pada generasi tertentu,” terangnya.

Dalam perspektif ekonomi ketenagakerjaan, keputusan seseorang mengambil pekerjaan tambahan merupakan pilihan rasional untuk meningkatkan kesejahteraan. Setiap pekerja menghadapi trade-off antara waktu bekerja, waktu istirahat (leisure), dan aktivitas lain di luar pekerjaan.

Ketika seseorang bersedia mengurangi waktu luangnya demi pekerjaan tambahan, terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai. “Secara rasional ketika orang bekerja sampingan di luar pekerjaan utama, artinya pekerjaan utamanya belum cukup untuk memenuhi standar hidupnya,” ungkapnya.

Baca Juga: Pekerjaan yang Beda dengan Jurusan Kuliah Memang Menantang, Ini Tips PD Menjalaninya

Data Sakernas juga menunjukkan mayoritas pekerjaan tambahan berada pada sektor informal. Sekitar 86,79 persen pekerjaan tambahan berstatus informal, sedangkan hanya 13,21 persen yang berstatus formal. Bahkan pada pekerja yang pekerjaan utamanya formal, sekitar 78 persen pekerjaan tambahannya tetap berada di sektor informal.

Kondisi tersebut, kata Qisha, menjadi alasan mengapa fenomena pekerja dengan pekerjaan tambahan belum tentu dapat disimpulkan mempersempit kesempatan kerja formal bagi pencari kerja baru.

Ia menambahkan bahwa pengalaman menjalani beberapa pekerjaan dapat menjadi nilai tambah apabila relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.

Sebaliknya, riwayat pekerjaan yang terlalu singkat di banyak tempat juga dapat dipersepsikan sebagai sinyal kurang baik oleh pemberi kerja, terutama ketika perusahaan mencari pekerja untuk jangka panjang.

Baca Juga: Performa dan Budaya Perusahaan Jadi Daya Tarik Utama Karyawan untuk Bekerja

Penilaian tersebut bergantung pada kesesuaian pengalaman kerja, durasi bekerja, dan kebutuhan organisasi. Ada dua sisi yang harus kita lihat, apakah itu membantu enhancing CV, atau justru menjadi signaling mengenai motivasi pekerjanya,” katanya.

Qisha memandang keterlibatan aktif di pasar kerja tetap memberikan manfaat bagi pengembangan human capital. Seseorang yang terus bekerja akan terus mengasah keterampilan dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja dibandingkan mereka yang menganggur dalam waktu lama.

Baginya, mempertahankan keterlibatan di pasar kerja lebih penting karena kemampuan yang tidak digunakan berisiko mengalami penurunan. “Selama orang itu engage actively in the labor market itu lebih baik dibanding dia disengage. Ketika aktif bekerja, dia terus meng-exercise human capital-nya,” tambahnya.

Baca Juga: Kamu Bekerja 365 Hari Tanpa Satu Haripun Berlibur? Katakan Selamat Datang Pada Burnout

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Techno08 Juli 2026, 18:12 WIB

Eropa Dilanda Gelombang Panas, Aecooly Hadirkan Kipas Portabel Cold Air

Perangkat ini menggabungkan aliran udara berkecepatan tinggi dan teknologi kabut ultra-halus untuk pendinginan pribadi yang lebih cepat selama aktivitas di cuaca panas.
Aecooly Cold Air Series. (Sumber: Aecooly)
Culture08 Juli 2026, 17:50 WIB

Mengenal Batik Valiri Khas Sigi Sulawesi Selatan

Hidden gem di luar destinasi mainstream Indonesia.
Batik valiri asli Sigi, Sulawesi Selatan. (Sumber: Ist)
Startup08 Juli 2026, 16:35 WIB

Omoway Menyelesaikan Putaran Pendanaan A dan A Plus

Indonesia menjadi pasar peluncuran pertama untuk sepeda motor listrik Omo X.
Omo X. (Sumber: dok. omoway)
Techno08 Juli 2026, 14:49 WIB

Fujifilm Rilis QuickSnap Black and White serta QuickSnap Active, Ini Harganya

Fujifilm meluncurkan edisi khusus tahan air dan hitam-putih dari kamera instan retro QuickSnap miliknya.
QuickSnap Black and White. (Sumber: Fujifilm)
Techno08 Juli 2026, 12:28 WIB

Tecno Camon Slim Hadir dengan Desain Melengkung Tipis

Perangkat ini memiliki lima varian model menarik.
Tecno Camon Slim. (Sumber: Tecno)
Automotive08 Juli 2026, 12:26 WIB

Honda Monkey Punya 3 Warna Baru, Motor Kompak Seharga Rp88 Juta

Motor ini menjadi pilihan ideal bagi konsumen yang ingin tampil beda sekaligus menikmati pengalaman berkendara yang fun dan berkarakter.
Honda Monkey warna Pearl Cadet Grey. (Sumber: Astra Honda Motor)
Lifestyle08 Juli 2026, 11:15 WIB

Polyworking Tak Hanya Berlaku Bagi Gen Z, Malah Didominasi Gen X

Fenomena ini muncul karena kebutuhan ekonomi dan harga-harga kebutuhan yang semakin hal.
Ilustrasi polyworking (Sumber: freepik)
Techno08 Juli 2026, 10:00 WIB

Apple Beri Banyak Pembaruan pada Creator Studio, Cek Selengkapnya

Pembaruan Apple Creator Studio tersedia hari ini untuk pelanggan lama sebagai pembaruan gratis, dan untuk pelanggan baru.
Apple Creator Studio. (Sumber: Apple)
Lifestyle07 Juli 2026, 20:08 WIB

Arummi Hadirkan Susu Kacang Mede dengan 3 Varian Rasa

Menghadirkan Kebaikan Kacang Mede Indonesia dalam Setiap Momen Keseharian.
Duta merek Arummi Indonesia Mikael Jasin memperkenalkan susu kacang mede. (Sumber: ist)
Techno07 Juli 2026, 19:56 WIB

Alibaba Siapkan Akselerasi Pertumbuhan AI Memasuki Paruh Kedua 2026

Penyelarasan organisasi, peningkatan model AI, serta ekspansi infrastruktur global mendorong pertumbuhan AI yang lebih bertanggung jawab dan dapat dikembangkan secara luas.
kantor Alibaba (Sumber: Reuters)