Jenis Obesitas Pada Setiap Orang Berbeda-beda, Kenali Obesitas Sentral

Rahmat Jiwandono
Kamis 25 Desember 2025, 22:36 WIB
Ilustrasi buncit. (Sumber: istimewa)

Ilustrasi buncit. (Sumber: istimewa)

Techverse.asia - Proses tumbuh kembang manusia, status gizi menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kondisi kesehatan tubuh. Di antara kategori status gizi tersebut, obesitas merupakan kondisi yang paling berisiko karena tidak hanya menunjukkan kelebihan berat badan, tetapi juga berkaitan erat dengan berbagai penyakit serius.

Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih menyampaikan bahwa jenis obesitas ini tidak selalu sama pada setiap orang. Risiko kesehatan sangat ditentukan oleh pola penumpukan lemak di dalam tubuh, salah satunya adalah ketika lemak terakumulasi di area perut, atau yang dikenal sebagai perut buncit atau Obesitas Sentral.

Untuk memahami obesitas sentral, perlu terlebih dahulu memahami konsep status gizi. Status gizi ditentukan berdasarkan rasio antara tinggi badan dan berat badan yang dikenal sebagai Indeks Massa Tubuh (IMT). Standar WHO membagi status gizi menjadi kurus, normal, kelebihan berat badan, hingga obesitas.

Namun begitu, perlu diingat bahwa IMT hanya menunjukkan jumlah lemak tubuh secara umum, bukan lokasi penumpukannya. “Kalau pakai standar WHO, normal itu IMT 18 sampai 23, overweight 23 sampai 25, dan di atas 25 itu sudah obesitas. Yang paling berbahaya itu yang nilainya sudah di atas 30,” ujarnya.

Baca Juga: Seiko C038 EVA-01: Jam Tangan Kolaborasi dengan Anime Neon Genesis Evangelion

Perbedaan lokasi penumpukan lemak inilah yang membedakan obesitas sentral dengan obesitas lainnya. Penilaian obesitas sentral pun tidak cukup hanya menggunakan IMT. Lingkar perut yang ada diatas 90 menjadi indikator penting.

Pada perempuan, hormon estrogen menyebabkan lemak tersebar di berbagai bagian tubuh seperti lengan, dada, paha, pinggul, dan perut. Sementara pada laki-laki, obesitas sentral lebih sering terjadi karena penumpukan lemak cenderung terpusat di perut karena tidak adanya estrogen.

Obesitas sentral ini menjadi perhatian serius karena berkaitan erat dengan sindrom metabolik karena lemak banyak menumpuk di perut. Sindrom metabolik ini ditandai dengan peningkatan gula darah, tekanan darah tinggi, serta kolesterol yang tidak normal.

Ketika kondisi ini berlanjut, risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan hipertensi pun meningkat. “Kalau biokimia di dalam darah sudah bermasalah, nanti akan muncul berbagai penyakit tidak menular lain yang akhirnya berisiko juga pada kematian,” katanya.

Baca Juga: Kenali Tanda-tanda Obesitas Pada Anak dan Remaja, Atur Pola Makan Buah Hati Mulai Sekarang

Secara alami, obesitas sentral lebih sering muncul pada usia di atas 40 tahun karena faktor hormonal. Hormon menjadi faktor adanya penumpukan lemak, memang risikonya terjadi pada usia di atas 40, terutama pada perempuan.

Namun, kondisi ini bisa muncul lebih dini akibat gaya hidup tidak sehat sejak usia muda. Pada kelompok usia muda, faktor utama obesitas sentral adalah kurangnya aktivitas fisik dan pola makan tinggi gula, garam, dan lemak.

“Asupan berlebih ini akan disimpan tubuh sebagai lemak dan mengubah metabolisme,” terangnya.

Untuk mengatasi obesitas, Mirza menekankan pentingnya untuk mengubah pola pikir terlebih dahulu sebelum melakukan diet. Penurunan berat badan harus dipahami sebagai proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.

Baca Juga: Begini Cara Mencegah Diabetes Melitus Pada Anak, Menurut Ahli Gizi

Setelah itu, barulah pola makan diperbaiki sesuai usia dan kebutuhan tubuh, dengan mengurangi gula, garam, dan lemak serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur. “Mindset yang harus dibangun adalah ini ‘turning point saya, saya mau berubah.’ Kalau nggak ada ini, mau sebagus apa pun programnya tidak akan masuk tegasnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Mirza menyampaikan bahwa pada usia muda, metabolisme yang masih baik memungkinkan berat badan terkoreksi lebih cepat ketika pola makan dan aktivitas fisik diperbaiki.

Namun pada usia di atas 40 tahun, metabolisme melambat sehingga diperlukan strategi tambahan seperti pengaturan jendela makan atau Intermitten Fasting (IF). Meski demikian, ia menekankan bahwa setiap intervensi harus bersifat personal dan didampingi tenaga profesional, karena kondisi kesehatan setiap individu berbeda.

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Techno06 Januari 2026, 20:13 WIB

Mengenal Punkt 3: Ponsel yang Mengutamakan Privasi dan Dirakit di Jerman

Iterasi terbaru dari smartphone Punkt yang berfokus pada privasi ini meningkatkan perangkat kerasnya.
Punkt MC03. (Sumber: Punkt)
Techno06 Januari 2026, 19:28 WIB

Acer Meluncurkan 3 Laptop Gaming Baru, Semuanya Pakai Prosesor Intel Core Ultra Series 3

Tiga laptop gaming ini baru akan tersedia pada kuartal kedua 2026.
Acer Predator Helios Neo 16S AI. (Sumber: Acer)
Techno06 Januari 2026, 19:01 WIB

Infinix Umumkan Sistem Operasi dan Smartphone Anyar

Tapi sejauh ini perusahaan belum mengungkap kapan gawai dan perangkat lunak tersebut diluncurkan global.
Infinix XOS 16. (Sumber: Infinix)
Techno06 Januari 2026, 18:43 WIB

TCL NXTPAPER 70 Pro: Smartphone Android yang Memberikan Kenyamanan Mata

NXTPAPER 70 Pro ditenagai chipset MediaTek Dimensity 7300.
TCL NXTPAPER 70 Pro. (Sumber: TCL)
Techno06 Januari 2026, 16:58 WIB

Xreal Rilis Kacamata Pintar 1S dan Power Hub Neo

Kedua produk ini dipamerkan di event CES 2026.
Xreal 1S. (Sumber: Xreal)
Techno06 Januari 2026, 16:20 WIB

2 Laptop LG Gram Baru Menggunakan Material Aerominum, Sangat Ringan

LG gram Meluncurkan Aerominum untuk Tampilan Metalik Premium dan Daya Tahan yang Lebih Baik.
Dua laptop LG Gram baru. (Sumber: LG)
Techno06 Januari 2026, 15:50 WIB

Samsung Hadirkan TV Micro RGB Terbesar Pertama di Dunia, Segini Ukurannya

TV Micro RGB ini diluncurkan dengan performa gambar yang canggih.
Televisi Samsung Micro RGB berukuran 130 inci. (Sumber: Samsung)
Techno06 Januari 2026, 15:36 WIB

Clicks Luncurkan Communicator dan Power Keyboard, Lihat Harga dan Speknya

Kedua gadget anyar ini diperkenalkan di event CES 2026.
Clicks Communicator punya keyboard QWERTY dan pelat belakang yang dapat diganti-ganti. (Sumber: Clicks)
Startup05 Januari 2026, 20:28 WIB

Komdigi Gagas Program Garuda Spark Innovation Hub Bandung: Jaring 10 Startup

Namun program tersebut baru terbatas di Kota Bandung saja sejauh ini.
Ilustrasi startup. (Sumber: pexels)
Techno05 Januari 2026, 19:48 WIB

Spek Lengkap Realme GT 8 Pro, Ada Edisi Kolaborasi dengan Aston Martin

Ponsel flagship terbaru Realme menghadirkan performa tinggi, dipadukan dengan kamera bermerek Ricoh.
Realme GT 8 Pro. (Sumber: Realme)