Techverse.asia - Ghost in the Cell, film satir komedi sosial-politik yang dibumbui dengan mistis tentang kehidupan sejumlah narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas), sudah mendapat penayangan lebih awal pada Sabtu (4/4/2026) walau hanya satu hari saja. Pemerannya pun enggak kaleng-kaleng karena ensembel dari beberapa aktor papan atas Indonesia.
Sang sutradara, Joko Anwar sengaja memilih tema penjara pada film terbarunya itu lantaran dianggap mewakili kehidupan masyarakat Indonesia 'tersandera', bak para penghuni di dalamnya. Seperti diketahui bahwa di penjara itu ada petugas lapas, petugas keamanan, dan para napi itu sendiri.
"Petugas lapas itu seperti pejabat pemerintahan kita, petugas keamanannya adalah polisi, sedangkan napinya itu warga negara," ungkap sutradara Pengabdi Setan itu. Dia membangun dinamika kekuasan serta hierarki kaitannya dengan realita sosial yang kuat antara masyarakat dan penguasa.
"Jadi kami pilih penjara buat menggambarkan kehidupan bangsa Indonesia," ujarnya. Film dengan set penjara pun sebetulnya bukan hal baru, seperti The Shawshank Redemption (1994), The Green Mile (1999), hingga serial drama Prison Break (2005-2017). Jadi, sangat dimungkinkan dia terinspirasi dari sana.
Baca Juga: Review Legenda Kelam Malin Kundang, 'Warna Baru' Genre Film Indonesia
Ghost in the Cell dibuka dengan Dimas (Endi Arfian), seorang jurnalis muda yang sedang menulis berita sensitif mengenai pembabatan hutan di Kalimantan yang beralih fungsi menjadi resort. Luas hutan yang digunduli pun tak main-main, mencapai ratusan ribu hektare.
Saat menulisnya, Dimas dikejar deadline karena batas waktu untuk naik cetak dari tempat printing-nya. Setelah selesai, tulisan itu dikirim ke bosnya Endy (Rio Dewanto), namun angle berita yang ia tulis dinilai kurang seksi oleh Endy dan meminta untuk merevisinya. Tapi, tetiba, suatu hal aneh terjadi dan Endy tewas dalam kondisi mengenaskan.
Kejadian tersebut membuat Dimas dijebloskan ke dalam sel dengan tuduhan pembunuhan kepada bosnya sendiri. Saat datang ke penjara, Anggoro (Abimana Aryasatya) bersama rekan-rekannya khawatir kalau dia enggak akan bisa bertahan lama di dalam penjara akibat jiwa psikopat tahanan lainnya.
Di fase awal, Dimas juga menjalani masa orientasi pengenalan tahanan bersama Irfan (Dimas Danang Suryonegoro). Ia diberi penjelasan perihal jenis-jenis tindak kriminal yang telah dilakukan oleh napi-napi dan juga siapa saja penghuni blok-blok Lapas Labuhan Angasana. Yang menarik, ada blok K khusus para koruptor beserta fasilitasnya yang lengkap dan mewah.
Baca Juga: Review Sinners: Film Vampir Berbalut Sejarah Kelam, Musik, dan Budaya
Selama masa pengenalan, Irfan bertanya di blok mana Dimas akan ditempatkan. Dimas bilang dia dimasukkan ke dalam blok C bersama satu napi lainnya yaitu Tokek (Aming Sugandhi) yang dikenal sadis, kejam, dan digambarkan menyukai sesama jenis. Irfan berpesan agar Dimas untuk bisa menjaga diri dari Tokek.
Alih-alih jadi target Tokek yang akan dibunuh selanjutnya, namun dia justru terbunuh lebih dahulu dengan cara yang mengenaskan. Kecurigaan tertuju Dimas sebagai pelaku utamanya (mengingat kasus yang menjeratnya), walau pun saat kejadian bahkan sama sekali tidak berada di dekat tempat kejadian perkara.
Setelah tokek, satu per satu napi lainnya juga mengalami kejadian serupa, yaitu Anton (Tora Sudiro) dan Novilham (Magistus Miftah). Anggoro dan kawan-kawan meyakini bahwa Dimas diikuti oleh sosok tak kasat mata dan bakal membunuh orang-orang yang punya aura negatif.
Baca Juga: Review Mickey 17: Film Fiksi Ilmiah Berlatar Luar Angkasa Penuh Satir
Sesuai dengan sinopsisnya, supaya enggak jadi korban berikutnya, para napi pun berlomba-lomba menjadi 'baik' dengan beragam cara - ibadah maupun berkesenian - tapi setelah dijalani, cara tersebut dianggap sulit. Melarikan diri dari penjara juga bukanlah sebuah pilihan, maka mereka bersatu guna menemukan solusinya, atau berupaya mencari siapa target yang dituju oleh hantu tersebut.
Perjuangan ini menunjukkan orang-orang Indonesia yang cenderung abai terhadap persoalan-persoalan utama yang ada, justru malah saling bertikai daripada berkolaborasi bersama.
Unsur komedi dalam film tersebut sukses mengubah intensitas tinggi dan ketegangan yang dirasakan oleh para penonton sepanjang film diputar. Penonton dibuat tertawa terbahak-bahak di tengah-tengah scene yang lagi serius dan menegangkan. Jadi, tak cuma menghibur, pria lulusan ITB itu juga membuatnya bermakna dalam konteks tema film Ghost in the Cell.
Baca Juga: Review One Battle After Another, Kritik PTA Terhadap Realitas Dunia Barat















