Kue Keranjang Selalu Jadi Tradisi Saat Imlek, Begini Makna dan Cara Membuatnya

Pekerja membuat kue keranjang di Danurejan, Kota Yogyakarta, DIY. (Sumber: istimewa)

Techverse.asia - Jelang perayaan Hari Raya Imlek pada 17 Februari besok, di Kampung Tukangan, Kelurahan Tegal Panggung, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masih terdapat satu keluarga yang setia merawat warisan budaya kuliner yaitu membuat kue keranjang.

Baca Juga: Zona Paleozoic dan 180 Derajat akan Segera Dibuka di Taman Pintar Yogyakarta

Kue keranjang memiliki warna cokelat keemasan. Namun bagi orang China, itu bukan sekadar makanan, melainkan suatu doa, simbol harapan, dan ikatan keluarga yang tak lekang oleh waktu. Tak hanya jadi santapan saja, kue ini juga menjadi persembahan untuk para leluhur saat melakukan ritual penghormatan.

Pembuat kue keranjang, Sianywati mengatakan, dia adalah generasi kedua dari keluarganya yang membuat kue keranjang. Usaha tersebut telah dirintis sejak sebelum Indonesia merdeka. Ia meneruskan tradisi yang diwariskan langsung oleh sang nenek.

"Kue keranjang ini merupakan warisan dari nenek saya, jauh sebelum Indonesia merdeka. Sekarang saya yang menjadi penerusnya, jadi sudah generasi yang kedua," katanya.

Baca Juga: 3 Pecinan yang Bisa Dikunjungi Saat Tahun Baru Imlek 2575

Menurutnya, kue keranjang punya filosofi yang kuat. Bahan untuk membuatnya ialah ketan (simbol kerekatan), yang diilhami sebagai wujud "kelengketan" hubungan sesama manusia, khususnya hubungan dalam keluarga.

Kue keranjang.

"Ketan itu, kan, lengket, jadi artinya supaya keluarga tetap rukun, dekat, dan lekat satu sama lain. Rasanya pun manis, menggambarkan kehidupan yang juga manis. Selain itu, karir, rezeki, dan hubungannya juga manis," ujar dia.

Asal usul tentang nama kue keranjang, katanya, dahulu makanan ini dibuat di atas keranjang yang dialasi dengan daun pisang. Kemudian, keranjang itulah yang menjadi identitas utama kue tersebut. Namun, kekinian, menurutnya, daun pisang susah untuk ditemukan.

"Jadi sekarang kami menggunakan kertas kaca sebagai penggantinya," ujarnya.

Baca Juga: Sambut Tahun Naga Kayu, Sejumlah Kosmetik Hadirkan Koleksi Spesial Imlek 2024

Kue keranjang yang dia buat pun masih memakai cara tradisional, seperti yang diajarkan oleh nenek Sianywati. Proses pembuatannya dimulai dengan mencuci beras ketan sampai betul-betul bersih, lantas digiling menjadi tepung. Tepung kemudian diayak guna menghilangkan gumpalan supaya teksturnya halus.

Di samping itu, gula pasir direbus dengan air hingga mendidih, sehingga menghasilkan larutan manis yang selanjutnya dicampurkan ke dalam tepung ketan. Lantas, adonan yang telah tercampur rata enggak langsung dicetak, tapi didiamkan selama lebih dari satu hari.

"Seetelah itu, adonya baru dicetak ke dalam wadah, kemudian dikukus selama sembilan jam penuh," imbuhnya.

Proses memasak kue keranjang.

Menariknya, kompor yang ia pakai untuk mengukus adonan tersebut masih model jadul dengan bahan bakar minyak tanah. Alasannya, dibanding memakai kompor gas atau listrik, proses panasnya lebih merata. Ini juga bagian dari upayanya melestarikan budaya.

Baca Juga: Viral Toko Kue Sus Beard Papa's Dilaporkan Tutup, Ternyata Begini Sejarahnya

"Panasnya lebih rata kalau masaknya pakai minyak tanah. Dari segi rasa pun lebih legit," terangnya.

Usai dikukus selama sembilan jam, kue keranjang lalu diangkat dan didinginkan sebelumnya akhirnya dibungkus. Kue keranjang buatannya sama sekali tak memakai bahan pengawet, dan diklaim dapat bertahan kurang lebih satu tahun, dengan catatan disimpan di kulkas.

Dia dalam satu hari sanggup memproduksi sekitar 200 kilogram (kg) kue keranjang. Total ada lima variasi ukuran, dengan berat utama satu kilogram dan setengah kilogram. Sedangkan, untuk kemasannya, tersedia lima buah, empat buah, atau tiga buah. Disinggung mengenai harga, kue keranjang ini dijual senilai Rp55 ribu per buah.

"Harganya relatif terjangkau dan biasanya sebagian besar kue keranjang kami sudah banyak dipesan jauh-jauh hari oleh pelanggan setia. Jadi tinggal memproduksi sesuai pesanan saja," katnaya.

Baca Juga: Segoro Amarto: Motif Batik Baru Khas Kota Yogyakarta, Begini Filosofinya

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI