Narajiwa: Aplikasi yang Dampingi Anak Muda Mengelola Emosi & Mencegah Perilaku 'Self-Harm'

Narajiwa (Sumber: UNS)

Tim Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, berhasil membuat aplikasi layanan kesehatan mental yang dinamakan Narajiwa. Aplikasi ini dibuat untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada mahasiswa.

Proyek pengembangan aplikasi Narajiwa adalah hasil dari program Hibah Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dilakukan UNS.

Ketua tim Narajiwa, Naurah Nazifah, menyebut bahwa aplikasi ini telah digunakan oleh ratusan mahasiswa.

Tercatat, sebanyak 185 mahasiswa telah mengakses Narajiwa. Secara rinci angka ini terdiri dari 70 orang mahasiswa berperilaku NSSI dan 115 mahasiswa yang tidak berperilaku NSSI.

Aplikasi Narajiwa dikembangkan oleh Naurah bersama rekannya, yakni Eka Yulianasari Nurfathonah, Fatimah Nur Muhammad, Lolya Wagmi Atindriya, Ni Putu Gita Indah Cahyani dan Nikta Rosyida Nurul Izzati.

"Narajiwa merupakan aplikasi berbasis web progresif yang dapat diakses melalui narajiwa.web.id," kata dia, dalam wawancaranya bersama tim website kampus setempat, dilansir Rabu (13/12/2023).

Baca Juga: Anak Muda Rentan Alami Gangguan Kesehatan Mental, Sosiolog: Bisa Berdampak pada Ekonomi

Baca Juga: Ini Perbedaan Antara 'Gangguan Mental' Dan 'Masalah Kesehatan Mental'

Naurah menjelaskan, pengembangan aplikasi ini bermula pada keresahan akan perilaku Non Suicidal Self Injury (NSSI) yang dilakukan oleh mahasiswa. Melalui Narajiwa, Mahasiswa Psikologi UNS berupaya menurunkan tingkat atau frekuensi perilaku NSSI tersebut.

Menurut dia, penggunaan Narajiwa akan membantu mahasiswa dalam meregulasi emosi negatif menjadi lebih positif.

Aplikasi ini dikembangkan atas penerapan teori psikologi positif, yang mampu membantu mengurangi frekuensi dan intensi perilaku NSSI bagi pengguna. Hal ini diperkuat oleh penelitian terdahulu, yang menunjukkan bahwa regulasi emosi berpengaruh terhadap perilaku NSSI.

"Kami tergerak untuk membuat aplikasi yang dapat membantu mahasiswa meregulasi emosi," tuturnya.

"Melihat karakter mahasiswa yang sangat senang akan digitalisasi dan kepraktisan sesuatu, maka kami merasa intervensi regulasi untuk menangani perilaku NSSI melalui aplikasi Narajiwa adalah hal yang tepat," lanjut Naurah.

Baca Juga: Menjaga Kesehatan Mental Saat Hadapi Tekanan Kiri Kanan: Cukup Tidur Dan Jangan Lupa Makan

Baca Juga: Bvlgari Luncurkan Omnia Universe dalam Wajah Baru

Terdapat berbagai macam fitur di dalam Narajiwa. Beberapa di antaranya, fitur Mood Tracker guna mencatat dan memonitor emosi setiap harinya. Para pengguna juga dapat menuangkan dan menuangkan perasaan melalui fitur-fitur seperti Nara Cerita dan Nara journal.

Adapun fitur Night Capsule berupa afirmasi positif yang dapat didengar, kapan pun dan dimana pun. Untuk menikmati fitur-fitur tersebut, pengguna cukup mengakses narajiwa.web.id melalui smartphone, laptop, atau komputer mereka.

Lebih jauh dia menerangkan, para pengguna Narajiwa mengaku bahwa aplikasi ini mampu membuat mereka menyadari setiap kegiatan yang mereka lakukan, dan bersyukur atas apa yang mereka lalui.

"Saat ini, Aplikasi Narajiwa sudah memiliki HAKI dan bisa diakses oleh semua masyarakat di Indonesia. Aplikasi Narajiwa juga dapat diakses secara gratis," imbuhnya.

Dengan adanya Narajiwa, Tim Mahasiswa Psikologi UNS ini berharap pengguna dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosi dan tentunya dapat mengurangi perilaku NSSI utamanya pada mahasiswa.

Mereka juga berharap Narajiwa dapat berkontribusi dalam upaya meningkatkan kesehatan mental di Indonesia.

Dosen pembimbing tim Narajiwa, Farida Hidayati, menyatakan Narajiwa dapat dimanfaatkan oleh remaja dalam mengatasi masalah yang dihadapi.

Farida menilai, salah satu hambatan remaja dalam mencari bantuan adalah takutnya penilaian negatif dari orang lain. Hadirnya Narajiwa diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengguna.

Baca Juga: Mahasiswa Perlu Jaga Kesehatan Mental: Miliki Support System dan Hobi yang Digemari

“Aplikasi ini menyediakan fitur yang lengkap. Bahkan bisa menjadi kawan berbagi dengan Nara Cerita. Model-model intervensi seperti ini sepantasnya terus dikembangkan dan terus ditingkatkan kualitasnya," ujarnya.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI