AstraZeneca Gunakan AI untuk Membuat Obat Kanker

salah satu kegiatan di laboratorium AstraZeneca (Sumber: AstraZeneca)

Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh Pharmaceutical Technology mengungkapkan raksasa farmasi AstraZeneca telah mencapai kesepakatan dengan perusahaan bioteknologi AbSci Corporation, untuk mengembangkan terapi antibodi untuk kanker.

Yang istimewa dari laporan itu, kedua perusahaan diketahui menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung proyek kolaborasi tersebut.

Kesepakatan tersebut, seperti diungkap kali pertama oleh Financial Times, ditandatangani pada 3 November 2023, dengan total nilai $247 juta. Disebutkan, nominal itu mencakup juga pembagian royalti atas setiap penjualan produk, pembayaran pencapaian kerja sama dan jumlah pembayaran di muka.

"Kemitraan ini, menambah daftar kesepakatan antar perusahaan farmasi besar dan bisnis AI yang masih muda, untuk mengembangkan pengobatan baru sebuah penyakit dan memangkas biayanya," ulas laman tersebut, dikutip Selasa (5/12/2023).

Baca Juga: G-SHOCK x RICH BRIAN: Edisi Khusus Anniversary ke-40 G-Shock, Ada Penampilan Eksklusif dari Rapper untuk Kamu

Baca Juga: Riset Visa: Wisatawan Asia Pasifik Gunakan Metode Pembayaran Non Tunai Saat Liburan

Pendiri dan kepala eksekutif Absci, Sean McClain, mengatakan bahwa penerapan prinsip-prinsip teknik pada penemuan obat, meningkatkan potensi keberhasilan dan mengurangi waktu yang dihabiskan dalam pengembangan.

"Kami bangga dapat bekerja sama dengan AstraZeneca untuk memanfaatkan AI kami, guna menghadirkan pengobatan baru bagi pasien onkologi," lanjut Sean McClain.

Absci, berbasis di Washington dan memiliki laboratorium penelitian AI di New York, menghasilkan data eksklusif dengan mengukur jutaan interaksi antar protein. Jutaan sampel protein itu kemudian dimasukkan ke dalam model AI generatif mereka, dan dilatih sampai menemukan antibodi baru.

Teknologi semacam itu sangat menjanjikan dalam bidang penyakit langka. Manfaat AI dalam hal penghematan biaya dan waktu, telah memungkinkan uji coba obat-obatan yang sebelumnya tidak akan efektif dari segi biaya.

Pada akhirnya, laboratorium mereka juga merancang dan memvalidasi antibodi-protein viale yang menargetkan zat asing di dalam tubuh.

Baca Juga: Chery Omoda E5 Diproduksi di Indonesia, Bakal Masuk Daftar EV yang Dapat Subsidi?

Baca Juga: Igloo Mendapat Pendanaan Rp558 Miliar, Buka Peluang Merger dan Akuisisi

Perusahaan ini memiliki fokus pada obat-obatan onkologi, setelah menandatangani perjanjian kemitraan awal 2023 dengan perusahaan bioinformatika M2GEN, untuk memperluas perpustakaan antibodi dan proteinnya.

Kolaborasi Absci dengan AstraZeneca, bertujuan untuk menciptakan model AI generatif zero-shot, yang dirancang untuk menciptakan terapi antibodi baru dan lebih baik.

Diketahui, AstraZeneca juga sudah memiliki ambisi untuk menggantikan kemoterapi tradisional dengan obat-obatan bertarget generasi baru. Namun, tidak disebutkan jenis kanker apa yang akan mereka targetkan. Demikian diungkap Reuters.

AstraZeneca, bersama dengan raksasa farmasi lainnya, semakin tertarik pada terapi sel termasuk terapi antibodi sebagai pengobatan kanker. Meski demikian, belum ada tanggapan AstraZeneca mengenai berita ini.

Meskipun, kemungkinan besar tidak akan menggantikan kemoterapi dan radioterapi yang ada saat ini dalam waktu dekat, karena skalabilitas dan masalah biaya, manfaat obat-obatan ini berpotensi sangat besar.

Dengan mengkhususkan pengobatan untuk populasi pasien atau bentuk kanker tertentu, pengobatan ini dapat menawarkan tingkat remisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan pengobatan tradisional.

Onkologi tetap menjadi disiplin ilmu yang paling banyak berinvestasi untuk kesepakatan terkait AI, dengan lebih dari $250 miliar yang diinvestasikan pada tahun 2023 saja, menurut analisis dari GlobalData, perusahaan induk Pharmaceutical Technology.

Namun secara keseluruhan, nilai kesepakatan AI telah menurun sejak 2019. Hal ini mungkin disebabkan oleh semakin matangnya pasar. Seiring pertumbuhan pasar, tingkat investasi total semakin mendekati titik jenuh, yang berarti diperlukan tingkat investasi yang lebih rendah di masa depan.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI