Techverse.asia - Program Futurepreneur Lab 2026 yang digagas oleh Wu Hub Coworking Space telah bergulir. Ini merupakan program percepatan kolaboratif dan validasi market yang dibuat untuk membantu startup tahap awal mengubah inovasinya menjadi produk yang tervalidasi pasar dan lebih siap memperoleh modal.
Futurepreneur Lab tahun ini hadir sebagai jawaban atas tantangan yang masih ditemui ekosistem inovasi Indonesia, di mana banyak hasil riset dan inovasi mahasiswa mandek di tengah pengembangan lantaran belum punya akses dan jalur yang jelas menuju pasar.
Selain itu, para investor juga memerlukan bukti permintaan pasar yang lebih kuat sebelum menggelontorkan uang kepada startup tahap awal. Dengan demikian, bagi 20 startup yang akan terpilih nanti dari 20 perguruan tinggi unggulan di Tanah Air yang bakal mengikuti serangkaian akselerasi dan validasi pasar selama program berlangsung.
Khong Guan juga ikut serta dalam program ini yang berkomitmen untuk mendukung pengembangan talenta muda dan ekosistem kewirausahaan Indonesia.
Baca Juga: Loreal Resmi Buka Pendaftaran Big Bang Beauty Tech Innovation Program
Proses seleksinya bakal dilakukan oleh para juri yang terdiri atas peneliti dan investor, termasuk peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hanif Fakhrurroja, Investor and Founder Wu Hub Charles Lee, Vice President of Investment SPIL Ventures Sumarny Elisabeth Manurung. Mereka akan memastikan startup lolos punya potensi inovasi sekaligus siap buat memasuki pasar.
"Futurepreneur Lab 2026 dirancang untuk memperkuat kapasitas pendiri startup dan mendorong pertumbuhannya yang berkelanjutan serta berdampak bagi perekonomian negara kita," kata Charles.
Dia optimistis terhadap masa depan ekosistem usaha rintisan Indonesia. Wu Hub Coworking Space berharap dapat melahirkan startup bernilai besar dari ekosistemnya, tetapi visinya lebih besar dari sekadar nilai valuasi.
"Kami mau membangun generasi pengusaha yang mampu membuat solusi nyata bagi tantangan global dan menghasilkan dampak positif yang berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia," terangnya.
Baca Juga: Perusahaan Coworking Space GoWork Tumbuh 2 Kali Lipat, Ubah Target Pasar
Pihaknya juga turut mengumumkan Katalyst: sebuah program pelantar validasi produk dan crowdfunding startup yang memungkinkan para peserta untuk menguji minat pasar secara langsung lewat dukungan publik, kampanye digital, hingga solusi permintaan produk sebagai bukti awal market traction.
Berkat pendekatan itu, startup tak cuma dinilai dari presentasi atau penilaian juri, namun juga berdasarkan respons nyata dari pasar dan masyarakat. Program ini juga fokus kepada pengembangan inovasi yang mampu menjawab tantangan masa depan, utamanya di sektor keberlanjutan, agrikultur, dan energi.
"Hal itu sejalan dengan visi kami yaitu innovate, connect, dan empower guna mendorong lahirnya inovasi, mempertemukan talenta dengan peluang strategis, hingga memberdayakan individu maupun komunitas guna memberikan dampak yang berkelanjutan," katanya.
Baca Juga: Merah Putih Fund: Dukung Akselerasi Startup Lokal Menjadi Unicorn
Salah satu startup dari Universitas Indonesia yaitu Salman optimistis kalau program yang saat ini sedang mereka kerjakan akan mendapat pendanaan dari Futurepreneur Lab 2026. Adapun proyeknya ialah produk pakan ikan yang diolah dari limbah feses ikan.
"Idenya adalah limbah feses ikan dari kolam di daerah Ciseeng sebelumnya dibuang ke sungai sehingga mencemari lingkungan. Untuk itu, kami berupaya mengolahnya kembali menjadi pakan ikan, jadi biaya ikan yang semula bisa menghabiskan 60 persen biaya bisa turun menjadi 30 persen," kata Salman.
Sumarny menambahkan, investor tak hanya mencari ide yang menarik, tapi juga bukti bahwa solusi itu betul-betul dibutuhkan oleh pasar. "Futurepreneur Lab 2026 membantu startup muda memvalidasi asumsi, memahami pelanggan, dan membangun bisnis yang lebih siap untuk bertumbuh dan berkembang," kata Sumarny.
Program puncak dari Futurepreneur Lab 2026 akan mengadakan Investment Day pada Oktober mendatang, yang menjembatani antara startup dengan juri, investor, dan mitra strategis. Di fase ini, mereka akan menunjukkan hasil validasi pasar yang telah didapatkannya sepanjang tahun sebagai bentuk kesiapan guna memasuki fase pertumbuhan selanjutnya.
Baca Juga: Telkom Resmikan IndigoSpace Bali, Akselerasi Pertumbuhan dan Inovasi Startup Anak Muda Bali













