Techverse.asia - Gelaran Kerontjong Pesisir pada tahun ini adalah pelaksanaan yang ke-5 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang didukung dari Dana Keistimewaan (Danais).
Baca Juga: Review Backrooms: Manifestasi Pikiran Manusia dalam Lorong Tak Berujung
Dalam acara tersebut akan ada dua gelaran awal di Pantai Samas, dua gelaran berikutnya di Pantai Gua Cemara, dan pada tahun ini juga akan digelar di Pantai Cangkring Poncosari Srandakan pada Sabtu (20/6/2026) mulai pukul 10.00 WIB.
Kerontjong Pesisir 26 akan mengusung tema “Gita Yuvaka-Yuvatinam atau dalam bahasa Indonesia: senandung Muda-Mudi. Yang akan diisi oleh muda-mudi, baik pria maupun wanita musisi Bantul dari HAMKRI Bantul.
Adapun pengisi lainnya adalah Dapur Musik, Kharisma Keroncong, keroncong Moeda Birama. Diramaikan juga dengan bintang tamu Nufi Wardhana dan Puspa Jelita pimpinan Lilik Shaggy Dog feat Heruwa.
Baca Juga: Permudah Wistawan Jelajahi Asia Tenggara, Mastercard Rilis 3 Kampanye Ini
Tak ketinggalan, gelaran Kerontjong Pesisir tahun ini juga akan berkolaborasi dengan komunitas janur dan komunitas sastra, yang keduanya dari Bumi Projotamansari.
Dari komunitas sastra akan mengadakan workshop menulis puisi/geguritan bareng Syamsu Setiaji dan cerita pendek (cerpen) bareng Bang Tedy Way. Acara ini sama sekali tak dipungut biaya dan akan dimulai pukul 10.00 WIB. Kemudian dilanjutkan pementasan sastra bersama Ok Irama Baru Bersastra.
Sementara dari komunitas janur akan ada edukasi pembuatan pernak-pernik dari janur yang akan digawangi sahabat difabel janur.
Selain itu juga akan ditampilkan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bekerja sama dengan Dinas KUKMP dari masyarakat setempat antara lain manggleng, wajik, dimsum, mie letheg, tape singkong, adrem, peyek, onde-onde, getuk goring, mendoan, pesisir coffee, aneka camilan, dan lain-lain.
Baca Juga: Kenali Proses Pembuatan Camilan Tradisional Tape Singkong Khas Watugedug Bantul
Sementara dari UMKM sahabat difabel akan menampilkan tahu bakso, batik, dan kaos lukis. Cukup dengan membayar retribusi seharga Rp15 ribu per orang dan biaya parkir, kamu sudah dapat menikmati music kerontjong, indahnya Pantai Cangkring, kuliner, dan terlibat dalam aktivitas sastra dan janur.
Sekadar diketahui, sejarah musik keroncong di Bantul tak lepas dari sentuhan budaya lokal yang dimainkan oleh penduduk sekitar pesisir guna menghidupkan kembali kawasan wisata bersejarah seperti Pantai Samas yang pernah berjaya di tahun 80-an dan 90-an silam.
Otoritas lokal menggabungkan kekayaan alam laut selatan dengan pertunjukkan musik keroncong. Tujuannya tak lain guna menggerakkan ekonomi lokal, mempromosikan UMKM, hingga memberikan panggung kolaborasi bagi generasi muda.
Baca Juga: Bosan Lari di Stadion dan Jalan Raya? Lari ke Pantai!
Aliran musik keroncong sendiri merupakan campuran musik yang berakar dari musik rakyat Portugis yakni Fado. Keroncong pertama kali masuk ke Indonesia dibawa oleh pelaut dan budak Portugis di abad ke-16, musik ini kemudian mengalami asimilasi dengan budaya lokal, melahirkan ciri khas seruling, dawai, dan ritme bunyian crong-crong.
Pada abad ke-17 atau lebih dikenal dengan Masa Kampung Tugu di mana komunitas keturunan Portugis di Kampung Tugu (Jakarta) mengembangkan keroncong memakai alat musik dawai seperti gitar dan ukulele.
Pada periode abad ke-19 sampai awal abad ke-20, musik tersebut dikombinasikan dengan pertunjukan teater Komedi Stambul, yang membuatnya terkenal, lantas dengan cepat menyebar luas dari Jakarta sampai Surabaya. Alat musik seperti biola serta suling bambu mulai dilebur ke dalam orkes.
Masa kejayaan musik keroncong terjadi pada abad 20 yang semakin diwarnai unsur tradisional gamelan dan vokal sinden. Lahirlah para maestro legendaris seperti Gesang - pencipta tembang Bengawan Solo - yang membawa keroncong dikenal hingga ke internasional.
Baca Juga: Glamping Pinus Pengger di Bantul Resmi Dibuka, Beroperasi Penuh Pertengahan 2026













