Techverse.asia - Nvidia terus maju dengan taruhan lain pada booming perihal kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dengan menyetujui kesepakatan lisensi dengan usaha rintisan (startup) perangkat keras (hardware) AI, Groq.
Baca Juga: Edimakor V4.5.0 Meluncurkan NanoBanana Pro dan Multi-Avatar Dialogue
Sebagai bagian dari kesepakatan ini, maka Nvidia akan mempekerjakan pendiri Groq yakni Jonathan Ross, Presiden Sunny Madra, dan karyawan lainnya. Groq diharapkan untuk terus beroperasi secara independen setelah apa yang mereka sebut sebagai kesepakatan lisensi non-eksklusif.
Nvidia dilaporkan mengakuisisi aset dari Groq senilai US$20 miliar atau setara dengan Rp335 triliunan. Disadur dari Techcrunch, Nvidia menyebutkan bahwa ini bukan akuisisi perusahaan dan tidak berkomentar tentang cakupan kesepakatan tersebut.
Jika nominal akuisisi yang dilaporkan tersebut akurat, maka pembelian ini diperkirakan akan menjadi pembelian terbesar Nvidia, dan dengan Groq di pihaknya, Nvidia siap untuk menjadi lebih dominan dalam manufaktur chipset.
Baca Juga: Apple Hadirkan Chipset M5, Lompatan Besar Berikutnya dalam Kinerja AI
Saat perusahaan teknologi bersaing untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan buatan mereka, pastinya mereka membutuhkan daya komputasi, dan GPU Nvidia telah muncul sebagai standar industri.
Tetapi Groq telah mengerjakan jenis chipset yang berbeda yang disebut Language Processing Unit (unit pemrosesan bahasa), yang diklaim dapat menjalankan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) sepuluh kali lebih cepat dan menggunakan sepersepuluh energi.
Chief Executive Officer (CEO) Groq Jonathan Ross, dikenal karena inovasi semacam ini - ketika bekerja untuk Google, dia membantu menciptakan TPU (tensor processing unit), sebuah chipset akselerator AI khusus.
Selain Ross, pendiri Groq adalah Douglas Wightman. Dia merupakan mantan seorang insinyur di Google yang juga memulai proyek yang menjadi chipset TPU pertama Google, sebelum meninggalkan raksasa teknologi tersebut untuk mendirikan Groq.
Baca Juga: SoftBank Batalkan Rencana Kerja Sama Chip AI dengan Intel
TPU tersebut memang dirancang khusus untuk mempercepat tugas pembelajaran mesin skala besar yang dirancang untuk menangani beban kerja kecerdasan buatan, dan merupakan pesaing utama GPU Nvidia.
Groq sendiri dikenal karena unit pemrosesan bahasanya, yang merupakan chipset khusus yang dirancang untuk inferensi kecerdasan buatan, yaitu, proses di mana model AI terlatih membuat prediksi atau keputusan. Startup ini bernilai sekitar US$6,9 miliar tiga bulan lalu dan mengumpulkan sekitar US$750 juta dalam putaran pendanaan terbarunya.
Sementara itu, pertumbuhan Groq juga terbilang cepat dan signifikan - perusahaan menyatakan bahwa mereka mendukung aplikasi berbasis kecerdasan buatan lebih dari dua juta pengembang, meningkat dari sekitar 356 ribu aplikasi pada tahun lalu.
Baca Juga: Lintasarta Rilis GPU Merdeka dengan Dukungan Nvidia: Dorong Capai Potensi Digital
Dengan pembelian ini, semua pekerja Groq dan anggota tim lainnya diperkirakan akan bergabung dengan Nvidia, perusahaan paling berharga di dunia dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$4,5 triliun. Di samping itu, kesepakatan antara kedua perusahaan ini muncul seiring dengan meningkatnya jenis kesepakatan baru di Silicon Valley, Amerika Serikat (AS).
Sementara perusahaan rintisan tradisional bertujuan untuk go public atau diakuisisi, kesepakatan akuisisi-perekrutan baru dapat meninggalkan sebagian karyawan perusahaan rintisan, hanya menguntungkan sebagian kecil anggota staf dengan keterampilan kecerdasan buatan yang diinginkan dan para pendiri.
Sebagai contoh, pada tahun lalu, Google setuju untuk membayar US$2,5 miliar untuk melisensikan teknologi Character.AI tetapi hanya mempekerjakan dua pendiri bintangnya dan 20 persen karyawan perusahaan rintisan tersebut. Pada tahun yang sama, pengembang AI Adept dan Inflection juga membuat kesepakatan serupa dengan Amazon dan Microsoft, masing-masing.
Baca Juga: Amazon Meluncurkan Ocelot, Chipset Komputasi Kuantum Pertamanya