Techverse.asia - Niat yang sama terbetik di benak setiap Muslim saat menyambut datangnya Ramadan yakni ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an dan lebih konsisten beribadah. Namun, niat baik itu sering berbenturan dengan kenyataan sehari-hari.
Pekerjaan yang menumpuk, energi yang terbagi, serta ritme hidup yang cepat membuat upaya mendalami ajaran Al-Qur’an terasa tidak sederhana. Bukan karena kurang keinginan, melainkan karena tak jarang muncul kebingungan harus mulai dari mana dan bagaimana menjaganya agar tetap berlanjut.
Di titik inilah ngaji.ai menemukan peran idealnya. Berawal sebagai aplikasi belajar mengaji, ngaji.ai kini bertransformasi menjadi pendamping ibadah harian yang selalu ada dalam genggaman. Hingga kini, sudah 403 ribu pengguna telah menggunakan ngaji.ai, dengan sekitar 39 ribu di antaranya berlangganan premium.
Jumlah ini bukan semata pencapaian, melainkan cerminan kebutuhan akan cara beribadah yang terasa lebih dekat, terarah, dan relevan dengan kehidupan modern.
Baca Juga: Green Rebel Foods Umumkan Pendanaan Senilai Rp209 Miliar
Fara Abdullah, Chief Business Development Officer (CBDO) Vokal.ai, startup edukasi digital yang menaungi ngaji.ai melihat fase ini sebagai momentum penting. “Kami ingin aplikasi initumbuh menjadi produk yang matang secara strategi, berdampak nyata dalam penggunaan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Antusiasme dari pengguna di Indonesia menunjukkan bahwa kebutuhan akan pendamping ibadah yang kontekstual itu nyata. Banyak orang ingin hidupnya lebih selaras dengan nilai Al-Qur’an, tapi merasa kewalahan.
Oleh karena itu, katanya, ngaji.ai ingin hadir bukan untuk menghakimi atau membebani, melainkan menemani. Perlahan, konsisten, dan relevan dengan kehidupan hari ini. Berbekal pengalamannya mengelola aplikasi panduan gaya hidup Muslim berskala global, Fara optimistis ngaji.ai siap melangkah lebih jauh.
Bagi banyak pengguna, kehadiran ngaji.ai membuat ajaran Al-Qur’an terasa lebih membumi. Tidak lagi hadir sebagai tuntutan besar yang terasa menakutkan, tetapi sebagai langkah-langkah kecil yang bisa dijalani setiap hari.
Baca Juga: Startup Teknologi Pendidikan Batas Dapat Investasi dari Mantan Pendiri Bukalapak
“Semua terstruktur dengan rapi, sehingga pengguna tidak perlu merasa kewalahan menghadapi banyaknya amalan dan tuntunan. Satu aplikasi, satu fokus, satu ikhtiar dalam satu waktu,” katanya.
Aplikasi tersebut tumbuh bersama penggunanya. Bukan hanya dari jumlah, tetapi dari cara aplikasi ini digunakan. Rata-rata waktu penggunaan harian mencapai lebih dari tujuh menit per pengguna. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bermakna besar karena menunjukkan bahwa ngaji.ai benar-benar hadir dalam rutinitas ibadah sehari-hari.
“Ini bukan aplikasi yang dibuka sekali lalu ditinggalkan. Pengguna kembali setiap hari karena merasa ditemani,” imbuh Vanya Sunanto selaku COO Vokal.ai.
Menurutnya, keterlibatan ini sebagai tanda bahwa pendekatan yang diambil ngaji.ai selaras dengan kebutuhan pengguna Muslim modern di Indonesia. Transformasi paling terasa hadir lewat pengembangan tampilan homepage serta fitur-fitur baru: sholat, untuk bantu pengguna ‘absen’ ibadah wajib lima kali seharinya; doa, dzikir, dan ikhtiar.
Baca Juga: Ruangguru Akuisisi Mclass, Platform Belajar Mengajar Terbesar di Vietnam
Melalui fitur ikhtiar, pengguna tidak dihadapkan pada daftar panjang amalan yang melelahkan, tetapi diajak memilih satu fokus ikhtiar. Bisa sesederhana menjaga lisan, lebih disiplin salat tepat waktu, atau meluangkan waktu untuk dzikir harian. Setiap ikhtiar dibagi ke dalam tugas-tugas kecil selama tujuh hari, membuat prosesnya terasa ringan dan realistis.
Transformasi ini juga menjadi fondasi bagi langkah ngaji.ai ke depan. Tahun ini dipandang sebagai momentum penting. Rencana untuk menjalin kerja sama strategis dengan lebih banyak institusi bisnis dan pemerintah telah dirintis dan dijalankan tahun ini.
Untuk jangka lebih panjang lagi ngaji.ai juga tidak menutup kemungkinan untuk melirik pasar Asia Tenggara, wilayah dengan sekitar 290 juta populasi Muslim. Dengan meningkatnya adopsi teknologi AI, cara orang belajar dan beribadah pun ikut berubah.
“Kami percaya teknologi ini akan sangat berguna untuk banyak individu dan institusi yang kami akan bangun kerja samanya,” kata Fara.













