Bitcoin Anjlok, Ini Faktor Pendorong dan Potensi Kenaikannya

Rahmat Jiwandono
Kamis 25 September 2025, 17:51 WIB
Ilustrasi Bitcoin.

Ilustrasi Bitcoin.

Techverse.asia - Sepekan pascabank sentral AS, The Fed, memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, harga Bitcoin masih bergerak volatil dan bahkan sempat turun ke level US$111,5 ribu pada hari ini setelah sebelumnya sempat melonjak ke US$117,7 ribu.

Pergerakan ini menimbulkan pertanyaan menarik. Sebab, rendahnya suku bunga biasanya mendorong aset berisiko seperti kripto dan saham untuk naik.

Baca Juga: Redmi Pad 2 Pro Series: Tablet Layar Lebar untuk Beragam Aktivitas

Merespons kondisi tersebut, Fahmi Almuttaqin sebagai Analyst Reku mengatakan penurunan harga Bitcoin dan Ethereum saat ini disebabkan oleh pasar kripto yang sudah mengantisipasi pemangkasan suku bunga jauh sebelum pengumuman resmi pekan lalu.

"Likuiditas jangka pendek sempat mengalir deras ke aset risk-on, termasuk Bitcoin dan altcoin, sehingga ketika keputusan akhirnya keluar, sebagian investor justru melakukan aksi profit taking (ambil untung)," ujarnya, Kamis (25/9/2025).

Selain itu, alasan pelemahan ekonomi termasuk pelemahan sektor tenaga kerja AS yang melatarbelakangi penurunan suku bunga tersebut membuat kekhawatiran investor terhadap risiko lonjakan inflasi meningkat.

Baca Juga: IDRX Dapat Pendanaan Pre-seed Senilai Rp4,8 Miliar, Bangun Stablecoin Rupiah

Terlebih lagi, meskipun The Fed memangkas suku bunga, data neraca keuangan The Fed menunjukkan bank sentral tersebut sebenarnya belum agresif memperluas likuiditas. Mengacu rilis mingguan H.4.1 Federal Reserve, total aset The Fed per 17 September 2025 tercatat sebesar US$6,608 triliun.

Jumlah tersebut masih jauh di bawah puncak pandemi (sekitar US$9 triliun), menandakan proses Quantitative Tightening (QT) atau pengetatan kebijakan moneter, masih berlangsung meski dengan tempo yang melambat.

Dalam kondisi ini, pasar menyadari bahwa penurunan suku bunga saja belum cukup, yang menentukan adalah ketersediaan likuiditas dolar secara riil di pasar global. Meskipun demikian, data on-chain saat ini memperlihatkan kondisi yang sudah relatif netral.

"Indikator SOPR yang mengukur perbandingan aksi ambil untung dan cut loss mengindikasikan bahwa aksi profit taking memang terjadi namun saat ini berada pada level yang relatif normal, sehingga tekanan jual jangka pendek mungkin akan cukup minim," katanya.

Baca Juga: Fenomena September Effect di Pasar Saham dan Kripto, Adakah Potensi Reli?

Kondisi ini cukup suportif untuk menunjang proyeksi positif Bitcoin dan pasar kripto secara umum di sisa tahun ini. Meskipun masih banyak ketidakpastian, termasuk namun tidak terbatas pada risiko shutdown pemerintah AS, outlook pemangkasan suku bunga lanjutan sebanyak dua kali, mengacu hasil jajak pendapat dot plot pada FOMC pekan lalu dapat memberikan sentimen positif bagi pasar kripto khususnya jika didukung oleh kondisi inflasi yang stabil.

Di tengah masih relatif solidnya tren akumulasi investor institusi dan potensi berkembangnya adopsi ETF altcoin, Bitcoin dan Ethereum berpeluang kembali mencetak new all time high. Namun, skenario downside tetap ada seperti terjadinya shutdown pemerintah AS yang dapat memicu tekanan arus kas jangka pendek serta pemangkasan lapangan pekerjaan dalam skala besar.

"Selain itu potensi lonjakan inflasi atau mulai menguatnya dolar, juga dapat memicu berkembangnya sentimen negatif dengan risiko koreksi Bitcoin ke bawah US$100 ribu," imbuhnya.

Baca Juga: Indeks Saham AS Cetak Level Tertinggi Baru, Pasar Kripto Tunjukkan Potensi

Bagi investor di Indonesia, proyeksi penurunan suku bunga The Fed di sisa tahun ini membuka prospek diversifikasi ke aset risk-on. Walau demikian, masih terdapat kecenderungan volatilitas tinggi pada Bitcoin.

"Oleh karena itu, strategi Dollar Cost Averaging (DCA) bisa lebih strategis dibanding investasi atau trading sekaligus dalam jumlah besar. Lebih dari itu, perlu diingat bahwa pasar kripto kini tidak bisa dipisahkan dari dinamika makro global," katanya.

Sehingga investor perlu memantau bukan hanya harga Bitcoin, tetapi juga indikator likuiditas dolar dan arus dana institusional.

Baca Juga: Forbes Gunakan Blockchain Ethereum untuk Menyimpan Daftar 30 Under

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Automotive29 Juli 2026, 15:59 WIB

Manson Cheung Siap Hadir di IMX 2026

Dia adalah Sosok di Balik Kolaborasi Ikonik Pop Culture Hingga Hot Wheels Formula 1 Collection.
HWCCI x IMX Dinner. (Sumber: istimewa)
Techno29 Juli 2026, 15:28 WIB

Alasan Kecerdasan Buatan akan Menentukan Masa Depan Geopolitik Dunia

Pesatnya perkembangan AI juga akan berdampak terhadap konstelasi politik dunia.
(ilustrasi) kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) (Sumber: Freepik)
Startup29 Juli 2026, 14:07 WIB

East Ventures Sebut Talenta Muda Jadi Kunci Kemajuan Indonesia di Era AI

Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam membangun fondasi digitalnya.
Ilustrasi talenta digital muda. (Sumber: East Ventures)
Techno29 Juli 2026, 14:05 WIB

Palo Alto Networks Ungkap Identitas Mesin Kini Melampaui Jumlah Identitas Manusia

Dengan semakin pesatnya adopsi AI agentik, tool identitas yang terfragmentasi menciptakan kesenjangan tata kelola yang tidak mampu ditangani oleh arsitektur keamanan tradisional.
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). (Sumber: istockphoto)
Travel29 Juli 2026, 12:08 WIB

The St. Regis Bali Gelar Jack's Club Mulai Juli-September 2026, Suguhkan Musik Jazz

Pengunjung dapat menikmati musik jazz sekaligus makanan atau minuman khas yang fancy.
Jack's Club hadir di The St Regis Bali. (Sumber: ist)
Techno29 Juli 2026, 11:34 WIB

Qualcomm akan Segera Menaikkan Harga Mulai 1 September 2026

Kenaikan harga akan diterapkan pada prosesor yang dikirim setelah tanggal tersebut.
Qualcomm. (Sumber: Getty Images)
Lifestyle29 Juli 2026, 09:53 WIB

Ryan Gosling Bakal Membintangi Film Ghost Rider, Tayang 2028?

Sementara itu, Black Panther III akan tayang pada tanggal 15 Desember 2028.
Ryan Gosling akan memainkan karakter Ghost Rider. (Sumber: Marvel Studio)
Techno29 Juli 2026, 09:51 WIB

Oppo A6c: Ponsel Entry Level dengan Baterai 7000mAh

Perangkat ini memiliki dua varian memori.
Oppo A6c. (Sumber: Oppo)
Techno28 Juli 2026, 16:15 WIB

ASUS ExpertBook P5 G2 Resmi Dijual di Indonesia, Beda Varian Beda Harga

Gawai ini diposisikan sebagai solusi ideal bagi profesional yang membutuhkan performa AI kuat, portabilitas tinggi, serta keandalan bisnis dalam satu paket.
ExpertBook P5 G2. (Sumber: ASUS)