Techverse.asia - Amartha telah resmi melansir produk investasi terbarunya yakni prosper, yang dibuat untuk mendanai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia dari modal publik.
Baca Juga: Aplikasi Ngaji.ai Bertransformasi dari Belajar Menjadi Pendamping Menuju Ibadah
Amartha prosper sendiri telah terintegrasi di aplikasinya dan memungkinkan investor guna mendapat imbal hasil sekaligus berkontribusi pada penguatan ekonomi komunitas, utamanya perempuan pengusaha ultra-mikro di wilayah pedesaan.
"Peluncuran Amartha prosper adalah langkah strategis jangka panjang kami untuk memperluas akses investasi berbasis dampak (impact investing) yang bertanggung jawab dan terukur," terang Chief Funding Officer (CFO) Amartha Julie Fauzie dalam keterangan tertulisnya kami kutip, Jumat (13/2/2026).
Menurut dia, produk tersebut menjadi alternatif investasi yang relevan dengan kebutuhan investor sekarang ini, sekaligus memperkuat sektor UMKM produktif dalam negeri. Sesuai dengan namanya, prosper, sebab ada manfaat bagi investor dan juga penerimanya, jadi keduanya bisa 'prosper' bersama.
"Itu adalah filosofi di balik Amartha prosper," katanya.
Baca Juga: Standard Chartered Indonesia Beri Pembiayaan Amartha, Berdayakan UMKM Perempuan
Lewat Amartha Prosper Grassroots Growth Series (GGS), investor bisa menyalurkan dana kepada pelaku UMKM mitra Amartha yang tersebar luas di seluruh Indonesia serta bergerak di banyak jenis usaha. Dengan begitu, investor dapat memperoleh eksposur portofolio yang lebih terdiversifikasi dengan risiko yang lebih terukur.
Produk prosper ini menjanjikan potensi imbal hasil mulai dari 6,5 persen sampai 14 persen, dengan empat profil investasi. Pertama, Balanced yang terbilang lebih resilien terhadap kondisi ekonomi. Kedua, Balanced-Flex dengan potensi imbal hasil bulanan yang lebih fleksibel.
"Ketiga, kami juga punya Dynamic yang menawarkan potensi imbal hasil paling tinggi yang disertai juga oleh risiko lebih besar. Keempat, ada Progressive dengan potensi pertumbuhan paling tinggi. Semua produk investasi ini sudah bisa diakses di aplikasi digital kami," ujar dia.
Lebih jauh dia menerangkan bahwa para investor juga dapat memilih profil risiko sesuai preferensi masing-masing, dengan akses produk sepenuhnya lewat aplikasi Amartha.
Baca Juga: Amartha Komitmen Bangun Ekosistem Finansial Inklusif di Asia Tenggara
Selain itu, Amartha juga menegaskan komitmennya dalam memperkuat mitigasi risiko supaya imbal hasil investor tetap terjaga sesuai ekspektasinya. Caranya antara lain dengan memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan risiko.
"Kami punya sistem pengelolaan risiko ynag berbasis teknologi, termasuk mitigasi risiko guna menjaga pengembalian investasi," klaimnya.
Amartha pun mengandalkan basis data UMKM yang telah dipetakan menurut profil risiko investor. Pendekatan tersebut diklaim memungkinkan penyaluran modal yang lebih presisi, sehingga potensi imbal hasil bisa lebih selaras dengan preferensi risiko masing-masing investor.
Dia menambahkan, Amartha prosper diharapkan bisa menjadi jembatan antara investor dan pertumbuhan ekonomi komunitas secara kontinu. Dengan tata kelola yang kuat serta fokus pada UMKM pedesaan, startup teknologi finansial ini optimistis jika produk tersebut bisa punya kontribusi masif terhadap ekonomi nasional atau pun daerah.
Baca Juga: Venteny Terima Kucuran Modal Rp83 Miliaran, Dorong Pendanaan UMKM
Selama 16 tahun beroperasi, Amartha menyebut telah menyalurkan kredit usaha lebih dari Rp37 triliun kepada lebih dari 3,7 perempuan pelaku UMKM di lebih dari 50 ribu desa di Tanah Air. Perusahaan ikut didukung oleh lebih dari 320 ribu peminjam ritel yang terdaftar.
Dampak sosial dari pendanaan ini tercermin dari terciptanya lebih dari 110 ribu lapangan kerja sepanjang tahun 2024 oleh mitra UMKM Amartha, dan peningkatan pendapatan serta kapasitas usaha di level komunitas. Sementara itu, tren investasi berbasis tujuan juga turut menguat.
Menurut laporan Global Impact Investing Network (GIIN) pada tahun lalu, sebanyak 31 persen pemodal berencana untuk meningkatkan alokasi investasi berdampak di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dalam kurun waktu lima tahun ke depan.