Techverse.asia - Google Cloud bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komunikasi) Indonesia dalam kerangka Google for Startups Accelerator: Southeast Asia, yang bertujuan untuk membantu para founder perusahaan rintisan (startup) melakukan komersialisasi maupun pengembangan produk AI agentik. Juga membangun koridor inovasi startup AI yang terkoneksi ke Silicon Valley, California, Amerika Serikat (AS).
"Penguatan ekosistem kecerdasan buatan (AI) menjadi penting dalam mengakselerasi transformasi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan," terang Direktur Jenderal Ekosistem Digital Komdigi Edwin Hidayat Abdullah dalam keterangan resminya disadur Techverse.asia, Rabu (10/6/2026).
Baca Juga: Chubb Life x Igloo Lakukan Ekspansi Asuransi Jiwa ke Indonesia dan Vietnam
Edwin menyatakan, Indonesia merupakan salah satu ekonomi digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Untuk itu, pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan dan adopsi solusi AI yang memberikan dampak nyata di pelbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.
"Berkat dukungan keberlanjutan dari Google Cloud dalam pengembangan kapasitas, akses akan teknologi frontier, hingga pengembangan ekosistem, kami berharap akan semakin banyak lagi founder Indonesia yang dapat membangun dan mengembangkan inovasi digital yang punya manfaat luas bagi masyarakat di seluruh penjuru negeri," katanya.
Google for Startups Accelerator: Southeast Asia menghadirkan sejumlah dukungan strategis yang didesain guna memperkuat kapabilitas product engineering serta mempercepat dampak bisnis.
Pertama, perusahaan rintisan bakal memperoleh akses ke teknologi full-stack AI Google Cloud dan dukungan pendanaan mencapai US$350 ribu dalam bentuk cloud credits via Google for Startups Cloud Program buat pelatihan fine-tuning, end-to-end, dan serving agen AI yang grounded dan aman.
Baca Juga: Google for Startups Accelerator: Percepat Adopsi AI di Indonesia
Kedua, mereka yang dinilai memenuhi syarat dapat memperoleh akses lebih awal atau first-mover advantage ke model kecerdasan buatan generasi teranyar Google - termasuk Gemini 3.5 - serta tools agentic enterprise lewat program Trusted Tester dan Early Access, sehingga mereka dapat mengawali pengembangan solusi sebelum model dan alat-alat itu tersedia secara luas di market.
Ketiga, startup juga akan mendapat peningkatan teknis melalui program bootcamp di Google Developer Space, Garuda Spark Innovation Hub, fasilitas NIC, hingga kantor pusat Startup and Innovation Hub Ho Chi Minh City (SIHUB), para founder bersama timnya bakal dibekali kemampuan lanjutan di bidang agentic coding, large language models operations (LLMOps), orkestrasi sistem multi-agent, dan AI context engineering.
Keempat, startup juga bakal mendapatkan kesempatan guna mempresentasikan produknya kepada para investor capital venture, angel investor, maupun pelanggan enterprise dalam demo day serta startup summit yang akan diadakan oleh raksasa teknologi tersebut di Singapura.
Baca Juga: Komdigi x Google Cloud Hadirkan Program Akselerator bagi Perusahaan Rintisan Indonesia
Kelima, perusahaan rintisan diberi dukungan ekosistem lintas fungsi, di mana mereka dapat memanfaatkan mentorship dari tim produk Android, Google Play, Google Ads, dan Google Pay, serta jaringan mitra yang terdiri atas perusahaan modal ventura, unicorn, konglomerasi, dan konsultan spesialis untuk membantu mengatasi beragam tantangan skala bisnis.
"Tantangan-tantangan ini mulai dari akuisisi talenta, menumbuhkan pemasaran, hingga pengelolaan kekayaan intelektual," tambahnya.
Terkahir, mereka juga akan mendapat pendampingan engineering secara intensif. Para perusahaan rintisan pun bakal mengikuti product development sprint dan agricultural review bersama para technical lead dari pusat engineering milik Google Cloud serta laboratorium riset kecerdasan buatan yakni Google DeepMind di Negeri Singa, ditambah dukungan wawasan dari tim AI global Google.
Kini, pendaftaran telah dibuka untuk 25 perusahaan rintisan pertama yang akan mengikuti program Google for Startups Accelerator: Southeast Asia selama tiga bulan tanpa pengambilan ekuitas (equity-free), yang akan dimulai pada Agustus 2026.
Baca Juga: Komdigi Gagas Program Garuda Spark Innovation Hub Bandung: Jaring 10 Startup













