Techverse.asia - Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan kekinian telah mengubah bagaimana industri menjawab tantangan yang terjadi di lapangan. Di Indonesia sendiri, fokusnya tak sekadar mengadopsi teknologi AI, tapi bagaimana kecerdasan buatan mampu memberi solusi yang relevan dengan kebutuhan lokal dan bisa memberikan dampak riil.
Guna merealisasikan visi itu, Google x Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) x Garuda Sparks Innovation Hub menghadirkan program Google for Startups Accelerator sebagai bagian dari inisiatif Google Bangkit Bersama AI. Kolaborasi jangka panjang tersebut bertujuan untuk memperkuat kapasitas serta daya saing usaha rintisan (startup) Indonesia mulai 2025-2029 atau selama empat tahun ke depan.
Lewat program Google for Startups Accelerator, para pendiri startup akan mendapatkan dukungan teknologi, pendampingan, hingga akses ekosistem untuk membangun solusi kecerdasan buatan yang berdampak dan relevan. Sejak diluncurkan pada tahun lalu, program ini telah membina sebanyak 63 usaha rintisan lewat Google for Startups Accelerator dan AI Solutions Lab Indonesia.
Dua program itu mendampingi para pendiri startup, mulai dari fase eksplorasi awal sampai pengembangan solusi AI yang siap untuk dimanfaatkan di pelbagai sektor strategis yang sejalan dengan prioritas pemerintah, seperti kesehatan, pendidikan, keuangan, pertanian, dan beragam sektor lainnya.
Baca Juga: Carsome Memasuki Fase Pertumbuhan Berkelanjutan Selanjutnya
Dengan akses langsung ke infrastruktur AI Google Clodu dan pendampingan teknis secara intensif, diharapkan para startup dapat mempercepat proses pengembangan dari tahap konsep sampai implementasi.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan, ekosistem startup tak cukup ditopang oleh modal saja. Penguatannya membutuhkan mentorship, jejaring industri, akses pasar, eksposur investor, hingga ruang eksperimen yang terstruktur. Meski demikian, ekosistem perlu diaktivasi lewat program yang konkret serta kolaborasi strategis.
"Salah satu bentuk aktivasi dilakukan lewat beragam kemitraan dengan banyak pihak, termasuk kolaborasi bersama Google dalam program akselerasi usaha rintisan, utamanya mereka yang mengembangkan produk berbasis kecerdasan buatan," ungkap mantan reporter Metro TV itu lewat keterangan resminya kami lansir, Jumat (27/2/2026).
Sedikitnya tiga startup peserta program ini telah berhasil melahirkan inovasi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan di sejumlah sektor, yakni Analitca di sektor pendidikan, DayaTani di sektor pertanian, dan Nexmedis di sektor kesehatan.
Baca Juga: Komdigi Gagas Program Garuda Spark Innovation Hub Bandung: Jaring 10 Startup
Pertama, Analitica adalah startup edtech yang mengembangkan Interactive Cognitive Assistant (ICA) dari sekadar tutor berbasis teks menjadi suatu ekosistem pembelajaran generatif dan multimodal dengan mengintegrasikan Gemini 3, Gemini TTS, dan Nano Banana Pro di atas Firebase.
Berkat dukungan Firebase, Cloud Storage, dan Cloud Run Functions, sekarang ICA dapat menghasilkan siniar (podcast) berkualitas tinggi dan video penjelasan singkat hampir untuk seluruh topik secara instan, mengatasi keterbatasan produksi konten pembelajaran konvensional. Dengan begitu, siswa bisa mengubah pertanyaan menjadi audio maupun visual yang dipersonalisasi sesuai preferensi belajar masing-masing.
"Pendekatan ini mendorong pemahaman materi yang lebih mendalam sekaligus memperluas akses terhadap pembelajaran adaptif berbasis AI," katanya.
Kedua, DayaTani menghadirkan Pak Dayat, asisten pertanian berbasis LLM yang terintegrasi langsung dengan WhatsApp, platform yang sudah digunakan sehari-hari oleh para petani sehingga meminimalkan hambatan adopsi, khususnya di wilayah dengan literasi digital yang masih terbatas.
Baca Juga: Everpro Gandeng SMESCO dan Google Indonesia, Dorong Digitalisasi UMKM
Melalui teknologi AI generatif, petani dapat mengirimkan pesan suara terkait kondisi tanaman, gejala penyakit tanaman, input pertanian, hingga pola cuaca. Sistem kemudian menyimpan informasi tersebut sebagai memori kontekstual jangka panjang, sehingga rekomendasi yang diberikan bersifat spesifik sesuai jenis tanaman, fase pertumbuhan, riwayat lahan, dan praktik agronomi setempat.
"Pendekatan ini membantu mengurangi kesalahan akibat rekomendasi generik serta mendorong peningkatan produktivitas, konsistensi pengambilan keputusan, dan keterlibatan petani secara berkelanjutan," tambahnya.
Terakhir, Nexmedis mengembangkan MCU AI, sistem berbasis AI yang mengotomatiskan pembuatan laporan medical check-up. Didukung oleh Gemini Flash 2.0, solusi ini menganalisis data klinis, mengidentifikasi temuan abnormal, serta menghasilkan rekomendasi tindak lanjut yang dipersonalisasi dan berbasis bukti yang dapat dimanfaatkan oleh tenaga medis maupun pasien.
Baca Juga: Tak Mau Disaingi Microsoft, Google Investasi Besar ke Anthropic
Untuk memastikan perlindungan data sensitif, Nexmedis memanfaatkan Model Armor guna mendukung proses de-identifikasi dan mencegah paparan informasi pribadi selama pemrosesan AI.
Seluruh siklus pengembangan AI, mulai dari eksperimen, deployment, hingga pemantauan, dikelola melalui Vertex AI, memungkinkan iterasi model yang lebih efisien, pembaruan sistem yang andal, serta pemantauan performa secara terpadu. Dengan mengotomatisasi alur pelaporan sambil tetap menjaga standar privasi yang ketat, MCU AI membantu meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan kesehatan.
















