3 Penyebab Utama Kegagalan Startup di Asia Tenggara Versi Wright Partners

Rahmat Jiwandono
Selasa 14 Oktober 2025, 19:33 WIB
ilustrasi startup (Sumber: freepik)

ilustrasi startup (Sumber: freepik)

Techverse.asia - Venture builder Wright Partners baru-baru ini telah menerbitkan whitepaper berjudul The Corporate Venture Valley of Death yang mengungkap bahwa penyebab kegagalan startup alias perusahaan rintisan rupanya bermuara pada faktor rapuhnya struktural dalam hal tata kelola serta perancangannya, bukan karena kurangnya modal.

Laporan itu disusun bersama konsultan MING Labs melalui program Corporate Venture Launchpad 3.0 yang didukung oleh EDB Singapura, menemukan bahwa masalah yang sama juga terjadi pada startup berbasis Venture Capital (VC), mulai dari tata kelola yang rapuh, keliru dalam pemetaan masalah, dan ketidakcocokan profil pendirinya dengan kebutuhan skala serta disiplin eksekusi.

Baca Juga: Jawab Tantangan Industri Armada, TransTRACK Academy Hadirkan Pelatihan Fleet Engineering

Founding Partner di Wright Partners Ziv Ragowsky menyampaikan, corporate venture building memberi gambaran langsung ke dinamika lapangan yang menjelaskan mengapa banyak startup di Asia Tenggara enggak mampu bertahan dalam waktu lama.

"Pada dasarnya, tanpa adanya tata kelola yang baik, pendiri yang tepat, dan disiplin eksekusi, maka kegagalan bakal terus berulang," ujar Ziv kami kutip, Selasa (14/10/2025).

Secara global, sekitar 90 persen perusahaan rintisan mengalami kegagalan, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Namun begitu, menurutnya, penyebab kegagalan perusahaan rintisan di kawasan ini tak cuma sekadar siklus pendanaan saja atau sentimen investor, melainkan kendala utamanya ialah kegagalan struktural yang menjalar di seluruh ekosistem.

Tata kelola yang lemah masih jadi permasalahan utamanya. Mulai dari perusahaan rintisan berskala unicorn yang didukung oleh VC sampai ventura korporat, terlalu banyak perusahaan rintisan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang bangkrut gegara skandal, pengelolaan yang melesat, dan pengawasan yang lemah.

Baca Juga: Pendanaan Startup di Indonesia Seret, Modal Ventura Kini Semakin Selektif

Pada saat yang sama, kawasan tersebut juga menghadapi kualitas pendiri. Bila dibandingkan dengan Silicon Valley yang terletak di California, Amerika Serikat (AS), jumlah pendiri startup yang punya pengalaman panjang dan pengusaha gelombang kedua atau second-time founders di Asia Tenggara jauh lebih sedikit.

"Hal tersebut mengakibatkan banyak perusahaan rintisan berada di tangan pemimpin yang kurang pengalaman dalam menskalakan perusahaan (scale-up) atau disiplin tata kelola," katanya.

Di samping itu, faktor lain yang tambah memperparah situasi ialah banyak startup yang mengejar ide yang sedang populer, bukan malah merampungkan kebutuhan nyata dan potensi monetisasinya. Di saat yang sama, pendanaan ventura juga sering menyuntik dana ke model bisnis yang masih dalam tahap pematangan.

"Jadi terbentuk dinamika pertumbuhan yang didorong oleh ekspektasi, namun belum tentu berkelanjutan," terangnya.

Baca Juga: Meet The Investors #2 Pertemukan Pengusaha, Startup, dan Modal Ventura

Di pasar berkembang seperti Indonesia, hambatan struktural, mulai dari rantai pasok yang terpecah sampai ketidakpastian regulasi menjadi faktor yang sering menyulitkan eksekusi. "Kami melihat di Asia Tenggara tak hanya tentang ketersediaan modal, namun juga struktur," katanya.

Tata kelola yang lemah, pendiri yang minim pengalaman, hingga cenderung mengutamakan tren jangkan pendek dibandingkan membangun ketahanan model bisnis adalah pola yang berulang di banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Tanpa membenahi hal-hal dasar itu, sebesar apapun investasinya, sulit melahirkan bisnis yang berkelanjutan.

Contoh startup yang mengalami kendala tersebut antara lain eFishery, TaniHub, dan Investree. Ketiga perusahaan ini mengalami pertumbuhan yang sangat cepat dengan dukungan investor yang kuat pula, tapi kinerja mereka tersendat lantaran celah tata kelola, ekspansi yang sulit untuk dipertahankan, dan guncangan eksternal.

Kejadian ini menunjukkan bahwa startup yang mendapat pendanaan masif pun masih bisa goyah dalam waktu yang singkat kalau fondasinya kurang tangguh, entah karena tata kelola yang lemah, model bisnis yang rentan, maupun volatilitas pasar.

Baca Juga: Setia dan Antler Ibex Meluncurkan Tantangan AI dan PropTech di Asia Tenggara

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Techno13 Maret 2026, 17:33 WIB

X Memperbarui Creator Subscriptions dengan Sejumlah Fitur Anyar

Ini adalah bagian dari upaya monetisasi yang lebih luas yang disebut 'Creator Subscriptions 2.0.'
Aplikasi X/Twitter. (Sumber: Getty Images)
Techno13 Maret 2026, 17:13 WIB

Realme Perkenalkan Ramadan Campaign 2026 Lewat TVC

Kompetisi #MakeSorryReal, mendorong anak muda membagikan momen permintaan maaf dengan hadiah ratusan juta rupiah.
Hadiah yang bisa kamu menangkan dari program TV Commercial. (Sumber: Realme)
Techno13 Maret 2026, 16:53 WIB

Roblox Tambahkan Fitur Penyaring Obrolan Berbasis AI untuk Kata-kata Terlarang

Fitur ini akan mengganti dan mengedit bahasa yang tidak diizinkan berdasarkan kebijakan Roblox.
Roblox sensor omongan yang tak pantas di kolom chat. (Sumber: Roblox)
Techno13 Maret 2026, 16:28 WIB

Kamera GoPro Generasi Berikutnya akan Ditenagai Prosesor GP3, Mendukung AI

Menetapkan standar kualitas gambar baru dalam pengambilan gambar cahaya rendah, waktu pengoperasian, dan kinerja termal.
Contoh hasil jepretan gambar GoPro yang ditenagai cip GP3. (Sumber: GoPro)
Techno13 Maret 2026, 14:36 WIB

Damac Digital Hadirkan Data Center di Tengah Kota Jakarta

Fasilitas ini akan memperkokoh infrastruktur digital di Indonesia.
Damac Digital. (Sumber: istimewa)
Techno13 Maret 2026, 14:25 WIB

Laporan Coursera: Perempuan Selesaikan Kursus AI Generatif Lebih Tinggi Ketimbang Pria

Temuan ini menyoroti ketekunan yang tinggi di kalangan peserta didik perempuan.
Ilustrasi AI generatif.
Techno13 Maret 2026, 14:11 WIB

Colorful Hadirkan Seri iGame GeForce RTX 50 Ultra

Ada dua kartu grafis yang ditawarkan.
Colorful iGame GeForce RTX 50 Ultra Series. (Sumber: Colorful)
Techno13 Maret 2026, 13:52 WIB

2 Headphone Live Terbaru JBL Menawarkan Masa Baterai hingga 80 Jam

Suara lebih jernih. Peredam kebisingan yang lebih cerdas. Dirancang untuk tampil beda.
JBL Live Series. (Sumber: Harman)
Lifestyle12 Maret 2026, 20:38 WIB

Rooster Fighter Bakal Tayang di Crunchyroll Mulai 15 Maret 2026

Anime ini dipastikan tayang di Asia Tenggara dan India.
Anime Rooster Fighter. (Sumber: Crunchyroll)
Techno12 Maret 2026, 20:23 WIB

Honor Robot Phone akan Didukung Sistem Pencitraan oleh ARRI

Intip sekilas bocoran Robot Phone: spesies smartphone baru.
Honor Robot Phone. (Sumber: Honor)