Techverse.asia - Memasuki 2026, pasar e-commerce (lokapasar) Indonesia semakin matang dengan pergeseran signifikan pada perilaku konsumen dan dinamika ekosistem. Lazada menyoroti tren konsumen yang kian cerdas dalam memilih produk, termasuk yang bernilai tinggi. Hal ini menuntut platform untuk meningkatkan standar autentisitas dan kualitas demi mewujudkan confident commerce yang berbasis kepercayaan.
CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera menyatakan bahwa industri lokapasar kini telah beranjak dari sekadar penyedia akses pasar menjadi model bisnis yang mengutamakan kualitas. Dengan semakin matangnya perilaku belanja konsumen, fokus lokapasar kini adalah membangun kepercayaan diri pelanggan.
"Ketika rasa percaya terhadap keaslian produk dan kualitas jangka panjang sudah terbentuk, konsumen secara alami akan berbelanja dalam jumlah lebih besar, bahkan membeli produk yang lebih bernilai. Dengan demikian, e-commerce bertransformasi dari sekadar tempat transaksi, menjadi infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan merek," ujarnya.
Transformasi ini didukung oleh data laporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company, yang memproyeksikan GMV lokapasae Indonesia mencapai sekitar US$140 miliar pada 2030, posisi tertinggi di Asia Tenggara. Berangkat dari kondisi tersebut, Carlos memaparkan lima tren utama yang akan membentuk lanskap e-commerce Indonesia sepanjang 2026.
Baca Juga: Tumi Rilis Koleksi Alpha Generasi Baru, Tersedia 4 Produk
Pertama, konsumen Indonesia kini belanja dengan tujuan yang lebih jelas: meningkatkan kualitas hidup. Bagi mereka, "nilai" sebuah produk tidak lagi hanya soal harga murah, melainkan perpaduan antara kualitas, keaslian, dan pengalaman berbelanja.
"Bahkan, konsumen yang sensitif terhadap harga pun kini lebih selektif. Mereka memilih produk yang lebih tahan lama demi menghindari biaya tambahan di masa depan," ujarnya.
Pergeseran ini sangat terlihat di kalangan keluarga muda dan konsumen aspirasional. Mereka kini mengandalkan lokapasar untuk membeli barang bernilai tinggi yang menunjang gaya hidup, seperti peralatan rumah tangga, elektronik, dan produk kesehatan.
Karena keputusan belanja kini lebih terencana, faktor kepercayaan berubah dari sekadar pelengkap menjadi penggerak pertumbuhan. Laporan Cube Asia 2025 mencatat bahwa kelas menengah dan konsumen muda sangat memperhatikan aspek keamanan, terbukti dengan 80% konsumen Indonesia yang lebih memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas.
Baca Juga: Garena Gelar Free Fire Nusantara Series 2026, Catat Jadwalnya
"Pelantar lokapasar harus melangkah lebih jauh dari sekadar menyediakan official store. Kami perlu membangun kepercayaan secara menyeluruh melalui sistem, tata kelola, dan perlindungan yang lebih kuat bagi seluruh ekosistem. Dengan meminimalkan risiko, pelantar dapat mendorong konsumen untuk lebih percaya diri dalam melakukan transaksi bernilai besar," katanya.
Kedua, sekarang perilaku belanja semakin erat kaitannya dengan fase kehidupan. Konsumen memanfaatkan lokalasar untuk mendukung berbagai transisi penting, seperti membangun keluarga, merenovasi hunian, hingga memulai gaya hidup yang lebih sehat.
Tren ini memicu lonjakan permintaan pada kategori produk life-upgrade, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, furnitur, otomotif, dan kesehatan.
Baca Juga: Bukan di Lokapasar, Orang Indonesia Ternyata Lebih Suka Belanja di Minimarket
Dalam tren ini, merek lokal maupun global memegang peran kunci dengan menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga. Hal ini memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk "naik kelas" dan mendapatkan produk berkualitas tinggi secara terencana, tanpa harus melampaui anggaran yang mereka miliki.
Ketiga, salah satu tren paling menonjol tahun ini adalah minat konsumen terhadap produk yang lebih premium tanpa meninggalkan aspek value-for-money. Konsumen yang kini lebih selektif memilih untuk melakukan "investasi", khususnya di produk yang kualitasnya berdampak langsung pada pengalaman pengguna.
"Hal ini mendorong permintaan untuk merek maupun produk lebih premium di kategori seperti kecantikan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga," tambahnya.
Baca Juga: Berkat Blibli Hasanah, Blibli Jadi E-commerce Halal Pertama di Indonesia
Keempat, konsep diskon kini telah berevolusi. Alih-alih hanya mengandalkan promosi sesaat, e-commerce beralih ke program keanggotaan, atau membership, yang menawarkan manfaat berjenjang berdasarkan besaran dan frekuensi belanja.
Dalam sistem ini, konsumen premium secara alami naik ke level keanggotaan yang lebih tinggi, sementara konsumen yang sensitif terhadap harga terdorong untuk memusatkan keranjang belanja mereka di satu platform demi mendapatkan keuntungan maksimal.
Kelima, di tengah tren belanja yang semakin dipengaruhi oleh ulasan autentik, kreator konten, terutama afiliator, kini berperan vital dalam menjembatani merek dengan konsumen. Mereka berfungsi sebagai jaringan luas untuk edukasi dan penjualan sebab mereka mampu menerjemahkan fitur teknis produk menjadi konten relevan dan mudah dipahami.
Ragam tipe afiliator pun kini hadir untuk membangun kedekatan dengan berbagai segmen, mulai dari pembeli aspirasional hingga konsumen yang mengutamakan nilai produk.
Baca Juga: Riset impact.com x Cube: Affiliate Marketing Jadi Sorotan dalam Evolusi Influencer E-commerce