Dua Hal Pemicu Terjadinya Jam Kerja Panjang di Indonesia

Rahmat Jiwandono
Rabu 28 Januari 2026, 16:46 WIB
Ilustrasi bekerja (Sumber: freepik)

Ilustrasi bekerja (Sumber: freepik)

Techverse.asia - Fenomena overwork atau jam kerja panjang menjadi realitas yang dihadapi banyak pekerja di Indonesia. Fenomena ini digambarkan sebagai bekerja secara berlebihan atau melampaui kapasitas fisik dan mental seseorang. Seringkali disebabkan jam kerja panjang, beban kerja tidak realistis, atau tekanan tinggi, yang dapat menyebabkan kelelahan, stres, penurunan produktivitas, dan masalah kesehatan. 

Berbeda dengan workaholic (kecanduan kerja), overworked sering dipicu oleh faktor eksternal seperti tuntutan perusahaan. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakrenas) Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 25,47 persen penduduk bekerja lebih dari 49 jam per minggu.

Ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Wisnu Setiadi Nugroho mengatakan, kondisi masyarakat Indonesia termasuk mengalami overwork karena mengambil pekerjaan ganda bukan semata-mata akibat tekanan ekonomi tunggal.

“Fenomena tersebut merupakan gabungan dari kondisi struktur pasar tenaga kerja Indonesia yang kurang memberikan pekerjaan berkualitas, rendahnya upah layak, dan tingginya informalitas pekerjaan,” ujarnya.

Baca Juga: ASUS ROG Rilis Tas Archer Messenger 14 dan Archer Backpack 16

Lantas dengan bekerja yang berlebih secara otomatis akan meningkatkan output ekonomi atau justru sebaliknya menurunkan produktivitas jangka panjang?

Jawaban secara teori, menurutnya, semestinya dengan jam bekerja lebih panjang bisa meningkatkan output jangka pendek karena total jam yang dikerjakan bertambah, namun bukti empiris dari penelitian tenaga kerja memperlihatkan produktivitas per jam bekerja tidak otomatis meningkat seiring jam kerja panjang.

“Beberapa studi internasional menunjukkan bahwa meskipun pekerja di Indonesia bekerja lebih dari standar 40 jam/minggu, produktivitas per jam pekerja masih relatif rendah dibanding negara lain di Asia Tenggara,” terangnya.

Kesimpulannya, jam kerja yang panjang justru kita duga bisa menurunkan efektivitas kerja per jam karena kelelahan, penurunan konsentrasi, dan kenaikan risiko kesehatan serta kecelakaan kerja. Ada pun sejumlah langkah yang perlu diambil oleh pemerintah merespon fenomena overwork ini.

Baca Juga: Hasil Survey Herbalife: Warga Indonesia Ingin Tinggalkan Gaya Hidup Tidak Sehat

Menurutnya, perlu dilakukan peninjauan ulang kebijakan  pengupahan agar tidak mendorong praktik overwork. Pasalnya, praktik overwork seringkali tercetus karena pekerja mengejar pendapatan yang tidak tercukupi dari pekerjaan utama yang bergaji rendah.

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong upah layak dan formula upah yang mempertimbangkan produktivitas. Pemerintah perlu memastikan kebijakan upah minimum tidak hanya berdasarkan inflasi, tetapi juga produktivitas daerah serta kebutuhan hidup layak.

Di banyak studi negara maju maupun berkembang, kebijakan upah minimum yang kuat cenderung mengurangi jam kerja berlebih dan mengubah insentif pekerja untuk mencari multiple jobs. “Bukti menunjukkan bahwa kebijakan upah minimum di Indonesia dapat mengurangi jam kerja rata-rata sambil meningkatkan upah riil pekerja,” ungkapnya.

Berikutnya, pemerintah diharapkan mengatur ulang aturan kerja paruh waktu dan lembur. Dalam RUU Cipta Kerja, terdapat ketentuan mengenai waktu kerja reguler dengan maksimal 8 jam per hari atau 40 jam per minggu dan lembur maksimal 4 jam per hari atau 18 jam per minggu.

Baca Juga: Bukan Hanya Karyawan Kantoran, Karyawan Hybrid Tetap Butuh Ruang Kerja Yang Nyaman

Namun, saat ini pelaksanaan ketentuan aturan baru dilaksanakan masing-masing pekerjaan saja. “Idealnya, ada sistem terintegrasi yang dapat memonitor jam kerja tiap pekerja. Penegakan aturan dan ketentuan ini penting agar tidak terjadi eksploitasi jam kerja tanpa kompensasi yang adil,” ujar dia.

Langkah lain yang dapat dilakukan pemerintah, dalam pandangan Wisnu adalah meningkatkan keterampilan dan produktivitas tenaga kerja. Pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja  dapat mendorong pelatihan vokasi, upskilling, dan reskilling untuk meningkatkan produktivitas pekerja.

Sebab, produktivitas yang lebih tinggi dapat mengurangi kebutuhan jam kerja panjang karena nilai output per jam kerja meningkat. Disebutkan Indonesia memang menunjukkan pertumbuhan jumlah pekerjaan yang besar. Pada 2024 tercatat sekitar 4,8 juta pekerjaan baru dan antara 2018–2024 tercipta sekitar 18 juta pekerjaan.

Kendati begitu, lebih dari 80 persen pekerjaan ini terjadi di sektor informal seperti usaha rumah tangga, pedagang kecil, dan pekerja lepas, sedangkan pekerjaan formal di korporasi besar atau sektor publik sangat kecil jumlahnya. “Akibatnya, mereka yang bekerja sering berada di posisi yang tidak stabil, bergaji rendah, tanpa perlindungan sosial, dan tidak menawarkan jenjang karier jelas,” terangnya.

Baca Juga: Akhir Pekan Masih Kerja: Kamu Pekerja Keras Atau Gila Kerja?

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Startup28 Januari 2026, 19:41 WIB

Startup Milik Elon Musk Dapat Pendanaan Seri E Sebesar Rp335 Triliun

Startup dibalik chatbot Grok ini tampaknya masih menarik minat para investor.
xAI. (Sumber: istimewa)
Techno28 Januari 2026, 18:55 WIB

Motorola Signature Pakai Cip Snapdragon 8 Gen 5, Warnanya Terkurasi oleh Pantone

Motorola menetapkan standar baru untuk penyempurnaan kelas dunia dengan peluncuran Motorola Signature.
Motorola Signature. (Sumber: Motorola)
Automotive28 Januari 2026, 18:26 WIB

Yamaha Fazzio Hybrid 2026 Hadir dengan Kelir Anyar, Berapa Harganya?

Motor ini tersedia dalam tipe Lux, Neo, dan Hybrid.
Yamaha Fazzio Hybrid 2025 punya warna-warna baru. (Sumber: Yamaha)
Techno28 Januari 2026, 17:21 WIB

ASUS Rilis Laptop Gaming TUF Gaming A14 yang Telah Diperbarui

Model A14 terbaru menggabungkan desain ultraportabel dengan performa luar biasa yang didukung oleh AI.
ASUS TUF Gaming A14. (Sumber: ASUS)
Lifestyle28 Januari 2026, 16:46 WIB

Dua Hal Pemicu Terjadinya Jam Kerja Panjang di Indonesia

Ini menurut temuan ahli ekonom dari UGM.
Ilustrasi bekerja (Sumber: freepik)
Techno28 Januari 2026, 16:24 WIB

Sennheiser Meluncurkan Model-model Baru Headphone dan Earbud Berkabel

CX 80U dan HD 400U menghadirkan audio digital berperforma tinggi untuk pendengar modern.
Headphone Sennheiser HD 400U (kiri) dan earbud kabel CX 80U. (Sumber: Sennheiser)
Travel28 Januari 2026, 15:05 WIB

Sanggraloka Ubud Bali Banyak Dikunjungi Wisatawan Korea Selatan

Wisatawan Korea Dominasi Ubud, Menikmati Model Baru Eco-Luxury Retreat dari Bali.
Aktivitas jelajah sungai di Sanggarloka Ubud. (Sumber: istimewa)
Techno28 Januari 2026, 14:23 WIB

Sony Hadirkan 2 Turntable Nirkabel Baru, Cocok untuk Pemula dan Audiophile

Pemutar piringan hitam ini memiliki konektivitas nirkabel, pengoperasian yang mudah, kualitas suara yang tinggi, dan desain yang apik.
Sony PS-LX5BT. (Sumber: Sony)
Automotive27 Januari 2026, 19:53 WIB

Harley Davidson Perkenalkan Motor Baru 2026, Ada Tipe Grand American Touring

Koleksi Enthusiast Baru - Model Edisi Liberty Merayakan Ulang Tahun ke-250 Amerika Serikat.
Harley Davidson Street Glide Limited (kiri) dan Road Glide. (Sumber: Harley Davidson)
Lifestyle27 Januari 2026, 19:31 WIB

ASUS ROG Rilis Tas Archer Messenger 14 dan Archer Backpack 16

Dua tas ini menawarkan gaya, daya tahan, dan kenyamanan bagi para gamer yang selalu bepergian.
ASUS ROG Archer Messenger 14 (kiri) dan Archer Backpack 16. (Sumber: ASUS)