Alasan Kecerdasan Buatan akan Menentukan Masa Depan Geopolitik Dunia

Rahmat Jiwandono
Rabu 29 Juli 2026, 15:28 WIB
(ilustrasi) kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) (Sumber: Freepik)

(ilustrasi) kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) (Sumber: Freepik)

Techverse.asia - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini tidak lagi dipandang sekadar sebagai teknologi pendukung produktivitas maupun aplikasi percakapan seperti ChatGPT. Di tengah meningkatnya rivalitas global, AI telah menjelma menjadi aset strategis yang diperebutkan berbagai negara karena dinilai mampu menentukan keseimbangan kekuatan ekonomi, militer, hingga geopolitik dunia pada masa depan.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Arie Kusuma Paksi menjelaskan bahwa AI merupakan teknologi yang memiliki dua dimensi sekaligus. Di satu sisi, AI mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan produktivitas. Di sisi lain, teknologi ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan sistem pertahanan, intelijen, serta keamanan siber.

“AI adalah teknologi dua wajah. Negara yang mampu menguasai AI akan memperoleh keunggulan ekonomi sekaligus keunggulan strategis di bidang militer dan intelijen. Karena manfaatnya sangat besar, AI kini mulai diperlakukan seperti minyak atau teknologi nuklir pada masa lalu, yakni sebagai aset strategis yang harus dikuasai negara,” terangnya.

Menurutnya, perubahan tersebut menjadi alasan mengapa persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok tidak lagi hanya berkutat pada perang dagang, tetapi telah bergeser menjadi kompetisi penguasaan teknologi. Inti persaingan itu, kata Arie, berada pada penguasaan chipset semikonduktor berteknologi tinggi yang menjadi “otak” bagi pengembangan AI modern.

Baca Juga: Palo Alto Networks Ungkap Identitas Mesin Kini Melampaui Jumlah Identitas Manusia

Amerika Serikat terus memperketat pembatasan ekspor chipset canggih kepada Tiongkok, termasuk mendorong pembatasan terhadap penjualan peralatan produksi chip dari perusahaan seperti ASML dan Tokyo Electron. Namun, Arie menilai kebijakan tersebut tidak selalu menghasilkan dampak yang diharapkan.

“Tekanan Amerika Serikat justru bisa menjadi bumerang. Ketika akses terhadap chip dibatasi, Tiongkok semakin terdorong membangun industri cipnya sendiri sehingga dalam jangka panjang dapat mempercepat kemandirian teknologi mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut, Arie menjelaskan bahwa penguasaan AI berpotensi mengubah peta kekuatan global. Negara yang memiliki akses terhadap data dalam jumlah besar, infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi, serta sumber daya manusia yang unggul di bidang AI akan memperoleh keuntungan kompetitif yang terus meningkat seiring perkembangan teknologi.

“Keunggulan AI bersifat akumulatif. Semakin banyak data, kapasitas komputasi, dan peneliti yang dimiliki, semakin besar pula peluang suatu negara untuk terus unggul dibandingkan negara lain. Namun, ini masih merupakan proyeksi karena perkembangan AI berlangsung sangat cepat,” katanya.

Baca Juga: TSMC Investasi Sebesar Rp1,645 Triliun di Amerika Serikat untuk Manufaktur Semikonduktor


Menurut Arie, perebutan pengaruh global kini tidak lagi hanya bertumpu pada penguasaan sumber daya alam, tetapi juga bergeser menuju penguasaan infrastruktur digital. Pabrik chipset semikonduktor, pusat data (data center), hingga jaringan kabel internet bawah laut kini menjadi aset strategis yang menentukan posisi tawar suatu negara di panggung internasional.

“Kita melihat dunia mulai terbelah ke dalam blok-blok teknologi. Persaingan ini membuat isu yang sebelumnya murni bisnis berubah menjadi isu keamanan nasional sehingga kerja sama perdagangan internasional pun menjadi semakin kompleks,” jelasnya.

Di tengah perlombaan tersebut, Arie menilai Indonesia saat ini masih lebih banyak berperan sebagai pengguna sekaligus pasar AI dibandingkan sebagai pengembang teknologi. Menurutnya, Indonesia belum memiliki industri semikonduktor maupun kapasitas riset AI yang mampu bersaing di tingkat global.

Baca Juga: Edgnex akan Bangun Pusat Data AI di Jakarta Senilai Rp37 Triliun Lebih

Meski demikian, pemerintah telah menyusun peta jalan pengembangan AI nasional serta berbagai kebijakan pemanfaatan AI untuk mendukung program prioritas periode 2026–2029. Pemerintah juga menargetkan kontribusi AI terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 12 persen atau setara USD366 miliar pada 2030.

Namun, Arie mengingatkan bahwa target tersebut masih berupa rencana yang harus diwujudkan melalui implementasi nyata.

“Itu masih target dalam dokumen perencanaan. Keberhasilannya harus diukur berdasarkan implementasi dan data yang benar-benar tercapai, bukan hanya berdasarkan target yang ditetapkan,” ungkapnya.

Baca Juga: SleekFlow Rilis AgentFlow: Kecerdasan Buatan dengan Etika Sebagai Fondasinya

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Lifestyle28 Agustus 2026, 15:17 WIB

Pertamina Eco RunFest 2026: Hadirkan 7 Inisiatif Keberlanjutan Lingkungan

Ajang yang memasuki tahun ke-13 pelaksanaannya ini menargetkan 14 ribu pelari dan 10 ribu pengunjung.
Pertamina Eco Run Fest 2026. (Sumber: istimewa)
Techno28 Agustus 2026, 15:16 WIB

Ditenagai Ryzen Z2 Extreme, ASUS ROG Xbox Ally 20 Bisa Dipesan Sekarang

Mennyambut hari jadi ke-20, ASUS ROG umumkan Xbox Ally X20 dengan performa AMD Ryzen AI Z2 Extreme dan dukungan kacamata Xreal R1.
ROG XBOX Ally X20. (Sumber: ASUS)
Startup28 Agustus 2026, 13:26 WIB

Asosiasi Blockchain Indonesia Gandeng Privy Perkuat Kepercayaan Digital

ABI bekerja sama dengan Privy untuk meningkatkan infrastruktur digital trust dan keamanan verifikasi identitas di industri blockchain Indonesia.
Asosiasi Blockchain Indonesia x Privy. (Sumber: ist)
Techno28 Agustus 2026, 13:23 WIB

SailPoint Hilangkan Blind Spot dengan Perlindungan Terpadu Identitas Manusia, non-human, dan AI agent

Solusi keamanan identitas yang dirancang untuk melindungi, mengelola, dan mendukung konvergensi tenaga kerja masa depan
SailPoint Identity Security. (Sumber: null)
Travel28 Agustus 2026, 11:58 WIB

Dragon Ball Z Bakal Punya Taman Hiburan Raksasa di Prancis, Gokunya Bisa Jadi Nyata!

Intip lokasi, konsep, dan detail lengkapnya di sini!
Taman hiburan bertemakan Dragon Ball Z. (Sumber: null)
Techno28 Agustus 2026, 11:57 WIB

Sony Meluncurkan Xperia 10 VIII dengan Fokus pada Peningkatan Kemudahan Penggunaan Sehari-hari

Handset ini menawarkan sedikit peningkatan dengan harga yang jauh lebih mahal.
Sony Xperia 10 VIII. (Sumber: Sony)
Automotive28 Agustus 2026, 09:40 WIB

Pendiri VeilSide Hironao Yokomaku akan Meriahkan Gelaran IMX 2026

Jangan lewatkan kesempatan langka bertemu sang legenda tuning dunia!
Pendiri VeilSide Hironao Yokomaku. (Sumber: istimewa)
Techno28 Agustus 2026, 09:40 WIB

Spesifikasi dan Harga Garmin Fenix 9 Series, Daya Tahannya Bisa Capai 57 Hari

Model Pro yang tangguh namun elegan ini menghadirkan casing jam tangan titanium pertama dan layar AMOLED terbesar pada seri Fenix.
Garmin Fenix 9 dan Fenix 9 Pro. (Sumber: Garmin)
Techno27 Agustus 2026, 14:49 WIB

Shokz OpenFit Air 2: Earbud Open-Ear Terringan dengan Hook yang Hampir Tak Terasa

Perangkat ini dirancang untuk kenyamanan ekstra tanpa menutup saluran telinga.
Shokz OpenFit Air 2. (Sumber: Shokz)
Techno27 Agustus 2026, 14:47 WIB

ASUS Hadirkan 2 Mouse Gaming yang Dapat Diskutomisasi

Mouse ROG Gladius IV Ace dan ROG Spatha X memadukan kontrol presisi dengan beragam opsi kustomisasi mendalam.
ROG Gladius IV Ace. (Sumber: ASUS)