Mengenal Gejala Duck Syndrome, Setop Berpura-pura Terlihat Baik-baik Saja

Rahmat Jiwandono
Kamis 14 Agustus 2025, 18:47 WIB
Ilustrasi duck syndrome.

Ilustrasi duck syndrome.

Techverse.asia - Seseorang yang terlihat tenang dan baik-baik saja, padahal dia sebenarnya sedang berjuang melawan tekanan mental dan emosional. Hal semacam ini mudah ditemui di sekitar lingkungan kita tanpa disadari, dan ternyata mereka sesungguhnya sedang mengalami duck syndrome.

Fenomena tersebut diambil dari metafora seekor bebek yang mengapung di permukaan air, tapi di bawahnya dia sedang berupaya mengayuh dengan panik supaya tak tenggelam.

Psikolog dari Career and Student Development Unit (CSDU) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Anisa Yuliandri menjelaskan, berdasarkan konsep self-determination theory, manusia punya tiga kebutuhan psikologis dasar yaitu rasa kendali (autonomy), rasa mampu (competence), dan rasa terhubung (relatedness).

"Fenomena duck syndrome ada kaitannya erat dengan konsep tersebut, sebab saat pilihan hidup enggak lagi didasarkan pada keinginan pribadi melainkan pada tekanan eksternal, keseimbangan psikologis individu pun kemudian akan terganggu," kata Anisa, Kamis (14/8/2025).

Baca Juga: Cara Mengatasi Kesepian bagi Seseorang dan Ketahui Apa Penyebabnya

Selain itu, budaya untuk selalu 'terlihat baik-baik saja' menjadikan kita menekan atau cenderung menyembunyikan emosi yang sesungguhnya sedang kita rasakan. Tak sedikit yang berupaya untuk tidak boleh terlihat lelah maupun menyerah lantaran ada kekhawatiran dianggap lemah.

"Sikap perfeksionisme yang tinggi ini membuat kita cenderung menutupi kelemahan dan kesulitan. Padahal kita ini manusia biasa, punya batas, namun karena ingin mempertahankan citra sempurna, akhirnya semuanya dipendam sendirian," ujarnya.

Ia berpandangan, keberadaan media sosial turut punya andil dalam memperkuat hal itu. Ia mencontohkan, saat beranda media sosial seseorang dipenuhi dengan pencapaian orang lain seperti kemenangan lomba, liburan, lulus lebih cepat, hingga pengalaman magang.

Hal-hal semacam itu dapat memicu orang lain untuk memunculkan rasa tertinggal. "Dalam upaya agar enggak kalah bersinar, manusia sering kali memaksakan diri untuk terlihat produktif. Ini sesuai dengan impression management theory. Seseorang cenderung mengatur dan mengendalikan citra supaya mereka terlihat mampu dan kuat, walau sebenarnya di balik itu mereka aslinya sangat lelah," ungkapnya.

Baca Juga: Taylor Swift Umumkan Album Barunya: The Life of a Showgirl

Menurutnya, fenomena duck syndrome bisa menjadi sangat berbahaya sebab sifatnya yang enggak tampak. Sesuatu yang tampak baik-baik saja, tapi banyak yang tak sadar bahwa diri mereka sedang mengalami distress psikologis.

"Kalimat-kalimat seperti semua orang juga capek atau kalimat memang harus begitu kalau mau sukses, menjadi suatu pembenaran untuk manusia terus memaksakan diri," katanya.

Padahal kondisi ini kalau terus dibiarkan bakal bisa berkembang menjadi gangguan yang lebih serius, seperti kecemasan kronis, insomnia, depresi, bahkan mengalami burnout. Konflik perasaan internal dan ekspresi internal ini menciptakan disonasi kognitif yang berat.

"Lama-kelamaan orang bisa merasa asing dengan dirinya sendiri, tidak dapat membedakan antara bahagi dan sibuk. Gejala duck syndrome juga bisa mempengaruhi hubungan sosial dan pada akhirnya seseorang mulai menarik diri, menghindari interaksi, dan merasa enggak cukup baik," terang dia.

Baca Juga: Konten Anomali: Ancaman Tersembunyi bagi Perkembangan Psikologis Anak

Ada perasaan takut dihakimi atau dianggap gagal, padahal sebetulnya yang dibutuhkan hanya ruang untuk didengar. Untuk itu, ada baiknya bagi seseorang untuk mulai mengenali gejala duck syndrome dan mengambil langkah kecil untuk mengatasinya.

Langkah pertama adalah jujur pada diri sendiri, dan mengakui bahwa ia sedang lelah bukan kelemahan. "Sikap jujur ini merupakan bentuk keberanian. It’s okay to not be okay. Kita tidak harus selalu produktif atau terlihat bahagia. Menerima semua, dan mengizinkan diri merasa sedih adalah bagian dari pemulihan," katanya.

Menyoal mengelola ekspektasi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Manusia perlu menyadari bahwa tidak semua standar harus diikuti, dan tidak semua peran harus diambil. Menolak suatu tanggung jawab demi menjaga kesehatan mental adalah hal yang sah.

"Belajar mengatakan tidak tanpa rasa bersalah adalah keterampilan penting," katanya.

Baca Juga: Apakah Pasangan Yang Melakukan PDA Hubungannya Pasti Bahagia?

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Automotive29 April 2026, 18:21 WIB

Wuling Resmi Umumkan Harga untuk Eksion, Hadir dengan 2 Varian

SUV 7-seater terbaru Wuling yang memadukan Superior Comfort, Ultra-high Efficiency, dan Versatile Safety.
Wuling Eksion.
Automotive29 April 2026, 17:48 WIB

Pre-order Omoway Omo X di Indonesia Resmi Dibuka, Tersedia 2 Varian

Sepeda motor listrik dibanderol mulai dari Rp44,5 juta plus subsidi eksklusif Rp9 juta dan garansi baterai 7 tahun.
Omoway Omo X.
Techno29 April 2026, 17:16 WIB

Huawei FreeBuds Pro 5 Dijual di Indonesia, Ada 4 Kelir

TWS tersebut resmi diluncurkan dengan peredam bising aktif dan audio lossless.
Huawei FreeBuds Pro 5. (Sumber: Huawei)
Techno29 April 2026, 16:01 WIB

Sennheiser Meluncurkan Headphone HD 480 Pro dengan Desain Tertutup

Respons frekuensi rendah yang akurat dan kenyamanan maksimal untuk perekaman dan pemantauan profesional.
Sennheiser HD 480 Pro. (Sumber: Sennheiser)
Techno29 April 2026, 15:36 WIB

Instagram Sedang Menguji Instants, Aplikasi Berbagi Foto yang akan Menghilang

Instants meluncurkan aplikasi baru di Italia dan Spanyol minggu lalu.
Bocoran aplikasi Instants yang tengah digodok Instagram. (Sumber: Meta)
Techno29 April 2026, 14:20 WIB

Harga dan Spesifikasi Infinix GT 50 Pro, Dibekali Mechanical Light Waves

Gawai ini memperkenalkan Arsitektur Pendinginan Cair HydroFlow, mesin termal khusus yang dirancang untuk mengatasi masalah panas berlebih.
Infinix GT 50 Pro. (Sumber: Infinix)
Lifestyle29 April 2026, 13:43 WIB

Casio G-LIDE Hadir dengan Fitur Pemantauan Detak Jantung dan Grafik Pasang Surut

Jam Tangan G-LIDE Sangat Cocok untuk Olahraga Ekstrem.
Casio G-LIDE GBX-H5600 tersedia dalam dua warna. (Sumber: Casio)
Lifestyle29 April 2026, 13:06 WIB

Survei: 56% Karyawan Enggak Punya Dana Darurat

Stres Finansial Jadi “Biaya Tersembunyi” Perusahaan.
Ilustrasi dana darurat. (Sumber: bank jago)
Techno28 April 2026, 18:54 WIB

Sony Inzone M10S II: Monitor Gaming QHD untuk Gim FPS

Monitor ini dikembangkan bersama tim e-sports ternama global, Fnatic.
Sony Inzone M10S II. (Sumber: Sony)
Startup28 April 2026, 18:38 WIB

Bybit Beri Modal Seri A ke Hata Sebesar US$ 8 Juta, Ini 3 Fokus Utamanya

Pendanaan tersebut juga melibatkan sejumlah family office global yang berfokus pada sektor teknologi dan pasar keuangan di Asia Tenggara.
Para pendiri startup Hata. (Sumber: istimewa)