Sah! UU yang Mengharuskan ByteDance Menjual TikTok

Uli Febriarni
Jumat 26 April 2024, 20:26 WIB
Amerika sahkan UU yang mewajibkan ByteDance menjual TikTok (Sumber: Shopify)

Amerika sahkan UU yang mewajibkan ByteDance menjual TikTok (Sumber: Shopify)

Amerika Serikat mengesahkan Undang-undang (UU) yang mendesak perusahaan China, ByteDance, menjual operasional TikTok. Disahkan pada Selasa (24/4/2024), Presiden Joe Biden telah menandatanganinya.

Beberapa analis memperkirakan aplikasi tersebut bisa dijual dalam harga US$50 miliar atau Rp808 triliun.

Melansir DW, digadang-gadang hanya perusahaan seperti Apple, Amazon, Google, Meta, Microsoft atau Netflix yang dapat membeli TikTok.

Tetapi, perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi menjadi sasaran penyidikan terkait anti-monopoli, jika membeli operasional TikTok di Amerika. Maka alternatifnya, seluruh atau sebagian TikTok dapat dipisahkan menjadi perusahaan publik independen, atau raksasa ekuitas swasta yang berbasis di Amerika Serikat kemudian mengambil tindakan.

Baca Juga: PLans: Aplikasi Pemantau Kesehatan Reproduksi Perempuan, Pengguna Bisa Terhubung dengan Layanan Kesehatan

Baca Juga: Bijak Bermedia Sosial, Jangan Sampai Ada Galih Loss Berikutnya

Lewat UU tersebut, Amerika Serikat memberikan waktu sembilan bulan kepada ByteDance dan potensi perpanjangan tiga bulan untuk menjual TikTok. Jika TikTok gagal melakukan divestasi hingga April 2025, maka aplikasi itu tidak akan bisa diunduh di App Store milik Apple dan Google Play Store.

UU itu juga memberikan wewenang kepada presiden, untuk menetapkan aplikasi lain sebagai ancaman keamanan nasional, jika berada di bawah kendali negara yang dianggap bermusuhan dengan Amerika Serikat.

Politikus AS menilai, kepemilikan ByteDance atas TikTok merupakan ancaman bagi keamanan Amerika, karena perusahaan tersebut berbasis di China. Mereka khawatir, data pengguna akan diberikan kepada pemerintah China.

Pakar keamanan siber Institut Teknologi Georgia, Milton Mueller, menilai bahwa secara teori, penjualan operasional TikTok di Amerika Serikat mungkin terjadi. Tetapi hal itu akan sangat rumit.

"Pemerintah China mungkin tidak mengizinkannya, dan tidak jelas apa keuntungannya, atau bahkan apa artinya, menjual 'bagian' dari layanan media sosial yang saling terhubung secara global," kata Mueller, masih di laman berita yang sama.

Baca Juga: Taman Hiburan Peppa Pig akan Dibangun di China, Dibuka pada 2027

Baca Juga: The Death of Slim Shady Bakal Jadi Album Eminem yang ke-12

Baca Juga: Converse Hadir Bertabur Berlian Swarovski Pada Model Chuck 70 De Luxe Squared

Pada akhirnya, UU tersebut bukan soal perbaikan bisnis atau bahkan keamanan nasional, kata dia.

"Ini adalah pion dalam persaingan kekuatan Amerika - China yang lebih luas, dan juga dieksploitasi untuk alasan simbolis," katanya.

Menurut dia, menyamakan aplikasi media sosial komersial dengan spionase, dan menyebut CEO TikTok di Singapura sebagai agen Partai Komunis Tiongkok, jelas tidak akurat. Demikian juga memaksa penjualan kepemilikan TikTok, juga akan menjadi preseden berbahaya yang dapat digunakan oleh pemerintah lain untuk melawan perusahaan media sosial Amerika.

Mueller memperkirakan proteksionisme digital akan menyebabkan berkurangnya persaingan dan inovasi di pasar media sosial. Selain itu, selalu ada ancaman keamanan nasional berikutnya.

Sementara itu, dalam sebuah laporan Reuters disebutkan, ByteDance sepertinya lebih memilih untuk menutup aplikasi TikTok ketimbang menjualnya.

Baca Juga: vivo V30e: Punya Desain Slim dan Layar Curved, Meluncur ke Indonesia 2 Mei 2024

"Algoritma yang diandalkan oleh TikTok untuk operasional, dianggap inti dari keseluruhan operasional ByteDance. Ini yang akan membuat penjualan TikTok sangat kecil kemungkinannya," kata sumber yang dikutip media itu.

TikTok menyumbang sebagian kecil dari total pendapatan dan pengguna aktif harian ByteDance. Oleh karena itu untuk skenario terburuk, induk perusahaan akan lebih memilih aplikasi ini ditutup di Amerika, daripada menjualnya.

Penutupan aplikasi TikTok di Amerika akan berdampak terbatas pada bisnis ByteDance, tetapi perusahaan tidak harus melepaskan algoritma inti.

Dalam sebuah pernyataan, ByteDance menyatakan mereka tidak akan menjual TikTok. Sementara itu, CEO TikTok, Shou Zi Chew, mengatakan bahwa perusahaan berharap dapat memenangkan gugatan hukum untuk memblokir UU tersebut.

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait
Techno

ByteDance Diminta Menjual TikTok

Rabu 06 Maret 2024, 16:08 WIB
ByteDance Diminta Menjual TikTok
Berita Terkini
Techno13 Maret 2026, 17:33 WIB

X Memperbarui Creator Subscriptions dengan Sejumlah Fitur Anyar

Ini adalah bagian dari upaya monetisasi yang lebih luas yang disebut 'Creator Subscriptions 2.0.'
Aplikasi X/Twitter. (Sumber: Getty Images)
Techno13 Maret 2026, 17:13 WIB

Realme Perkenalkan Ramadan Campaign 2026 Lewat TVC

Kompetisi #MakeSorryReal, mendorong anak muda membagikan momen permintaan maaf dengan hadiah ratusan juta rupiah.
Hadiah yang bisa kamu menangkan dari program TV Commercial. (Sumber: Realme)
Techno13 Maret 2026, 16:53 WIB

Roblox Tambahkan Fitur Penyaring Obrolan Berbasis AI untuk Kata-kata Terlarang

Fitur ini akan mengganti dan mengedit bahasa yang tidak diizinkan berdasarkan kebijakan Roblox.
Roblox sensor omongan yang tak pantas di kolom chat. (Sumber: Roblox)
Techno13 Maret 2026, 16:28 WIB

Kamera GoPro Generasi Berikutnya akan Ditenagai Prosesor GP3, Mendukung AI

Menetapkan standar kualitas gambar baru dalam pengambilan gambar cahaya rendah, waktu pengoperasian, dan kinerja termal.
Contoh hasil jepretan gambar GoPro yang ditenagai cip GP3. (Sumber: GoPro)
Techno13 Maret 2026, 14:36 WIB

Damac Digital Hadirkan Data Center di Tengah Kota Jakarta

Fasilitas ini akan memperkokoh infrastruktur digital di Indonesia.
Damac Digital. (Sumber: istimewa)
Techno13 Maret 2026, 14:25 WIB

Laporan Coursera: Perempuan Selesaikan Kursus AI Generatif Lebih Tinggi Ketimbang Pria

Temuan ini menyoroti ketekunan yang tinggi di kalangan peserta didik perempuan.
Ilustrasi AI generatif.
Techno13 Maret 2026, 14:11 WIB

Colorful Hadirkan Seri iGame GeForce RTX 50 Ultra

Ada dua kartu grafis yang ditawarkan.
Colorful iGame GeForce RTX 50 Ultra Series. (Sumber: Colorful)
Techno13 Maret 2026, 13:52 WIB

2 Headphone Live Terbaru JBL Menawarkan Masa Baterai hingga 80 Jam

Suara lebih jernih. Peredam kebisingan yang lebih cerdas. Dirancang untuk tampil beda.
JBL Live Series. (Sumber: Harman)
Lifestyle12 Maret 2026, 20:38 WIB

Rooster Fighter Bakal Tayang di Crunchyroll Mulai 15 Maret 2026

Anime ini dipastikan tayang di Asia Tenggara dan India.
Anime Rooster Fighter. (Sumber: Crunchyroll)
Techno12 Maret 2026, 20:23 WIB

Honor Robot Phone akan Didukung Sistem Pencitraan oleh ARRI

Intip sekilas bocoran Robot Phone: spesies smartphone baru.
Honor Robot Phone. (Sumber: Honor)