Perusahaan Media Sosial Harus Perbaiki Algoritma Supaya Lebih Ramah Anak

Rahmat Jiwandono
Selasa 07 April 2026, 16:37 WIB
Ilustrasi anak kecanduan media sosial. (Sumber: freepik)

Ilustrasi anak kecanduan media sosial. (Sumber: freepik)

Techverse.asia - Pemerintah secara resmi membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun mulai 28 Maret 2026 lalu melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital No.9/2026 sebagai aturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. 

Kebijakan ini menonaktifkan akun media sosial untuk melindungi anak dari konten negatif, perundungan siber, dan kecanduan digital. Apalagi kecanduan digital menjadi momok sehari-hari bagi tumbuh kembang usia muda karena terpaparnya konten yang menyasar penggunanya.

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM Gilang Desti Parahita mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai memberi perhatian serius terhadap perlindungan anak di ruang digital. Menurutnya, kebijakan ini hadir karena konsumsi media sosial tidak lagi terbatas pada orang dewasa, melainkan juga anak-anak, sehingga perlindungan perlu diperkuat, baik dari sisi regulasi, industri, maupun konten.

Baca Juga: ASUS ExpertCenter P600 AiO Ditawarkan dalam Ukuran Layar 27 dan 24 Inci

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembatasan usia saja belum tentu efektif dalam menekan dampak negatif media sosial. Ia menyebutkan Indonesia bukan negara pertama yang membatasi usia pengguna media sosial. Hal ini serupa dipraktikkan seperti di Australia, China, Uni Eropa, Amerika, hingga Vietnam.

Membawa tujuan yang sama untuk mengurangi dampak negatif akses konten terhadap anak usia dini yang perlu dilindungi. Di sisi lain, ia menilai anak-anak masa kini memiliki kecakapan digital yang tinggi dan mampu mencari celah untuk mengakses platform. “Semakin sesuatu dilarang, justru semakin dicari. Anak-anak sekarang juga sudah canggih, mereka bisa menggunakan VPN atau cara lain untuk mengakses,” ujarnya.

Ia menilai pendekatan berbasis pembatasan berpotensi kontraproduktif jika tidak diimbangi strategi lain yang lebih komprehensif. Dalam hal ini, ia menekankan perlunya alternatif mekanisme verifikasi usia yang tidak bergantung pada pengumpulan data pribadi sensitif.

Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah sistem persetujuan orang tua, di mana akun anak harus terhubung dan mendapat persetujuan dari akun orang tua sebagai bentuk kontrol dan pendampingan.

Baca Juga: Mulai 2026, Malaysia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Pakai Media Sosial

Dia juga mengingatkan adanya risiko baru terkait perlindungan data pribadi. Dalam proses verifikasi usia, pengguna kemungkinan harus menyerahkan data seperti KIA atau Kartu Keluarga kepada platform digital. “Potensi kebocoran data menjadi ancaman yang tidak kalah serius,” katanya.

Ia menilai bahwa perusahaan media sosial memiliki peran besar dalam membentuk perilaku pengguna, termasuk anak-anak. Salah satu hal yang disoroti adalah minimnya transparansi algoritma platform digital. Ia mencontohkan, format konten pendek yang terus-menerus disajikan dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berkonsentrasi.

Gilang juga menggarisbawahi praktik profiling dan iklan personalisasi yang menyasar pengguna. Hal ini kaitannya dengan pengamatan kebiasaan, keinginan, dan ketertarikan sehingga sukar untuk lepas dari berbagai paparannya.

Ia menegaskan bahwa praktik ini perlu dibatasi karena dapat membuat anak terus terpapar konten yang sama tanpa ruang eksplorasi yang sehat. “Isi dari konten medsosnya itu akan berisi semua hal yang dia sukai tentu tidak akan bisa lepas dari itu. Nah, ini iklan personalisasi dan profiling itu harus dibatasi, bahkan untuk anak tidak perlu diprofil,” terangnya.

Baca Juga: Resmi, Australia Setujui UU Pelarangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Gilang menyoroti pihak perusahaan media sosial yang juga perlu bertanggung jawab jika ada dampak buruk yang terjadi. Ia mencontohkan seperti dalam kasus anak yang terindikasi berkenalan dengan orang asing hingga ke ranah kekerasan. Menurutnya, tidak hanya pelaku yang mendapat jeratan, tetapi juga perusahaan media sosial terkait.

Fenomena kecanduan digital tidak bisa dilepaskan dari faktor yang luas. Tidak hanya berlaku ke anak, bahkan usia dewasa pun tergantung pada teknologi. Ia mencontohkan bagaimana kebutuhan sehari-hari seperti transportasi sekolah hingga pembelajaran daring membuat anak tidak bisa lepas dari perangkat digital.

“Kini gadget sudah dianggap menjadi hal yang lumrah sama halnya medsos. Terlebih konten di TV mungkin juga kurang terlalu menarik, sekarang dimana konten anak yang edukatif?” katanya.

Alih-alih hanya membatasi, ia menyarankan agar perusahaan media sosial memperbaiki sistem algoritma agar lebih ramah anak dan transparan. “Penyaringan konten dapat disesuaikan dengan usia pengguna berdasarkan data yang telah diverifikasi dan atas sepengetahuan orang tua,” katanya.

Baca Juga: Kecanduan Medsos Bisa Menyebabkan Depresi, Anxiety dan OCD?

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Startup07 April 2026, 18:45 WIB

Digital Edge Mau Bangun Pusat Data Terbesar di Bekasi

Gagasan ini muncul setelah mereka mendapat pinjaman hijau senilai Rp11,34 triliun.
Rencana pembangunan Digital Edge AI-Ready CGK Campus di Bekasi, Jawa Barat. (Sumber: istimewa)
Techno07 April 2026, 18:26 WIB

Samsung Galaxy A57 5G Dijual Mulai dari Rp7 Jutaan di Indonesia

Galaxy A Series Paling Tipis dengan AI Lebih Cerdas dan Performa Lebih Kencang.
Samsung Galaxy A57 5G resmi hadir di Indonesia. (Sumber: null)
Startup07 April 2026, 17:12 WIB

Scolla Education x Kemenag DIY Dorong Transformasi Digital di Tingkat Madrasah

Selain itu, startup edtech ini juga mengadakan program Smart School Awards.
Skolla Education x kantor wilayah Kemenag DIY (Sumber: istimewa)
Techno07 April 2026, 16:37 WIB

Perusahaan Media Sosial Harus Perbaiki Algoritma Supaya Lebih Ramah Anak

Ini menyusul berlakunya aturan pemerintah Indonesia tentang pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah umur 16 tahun.
Ilustrasi anak kecanduan media sosial. (Sumber: freepik)
Lifestyle07 April 2026, 14:56 WIB

Penggemar di Indonesia Bisa Mulai Voting untuk Crunchyroll Anime Awards 2026

Berikan suaramu dan perjuangkan serial anime favorit kalian.
Crunchyroll Anime Awards 2026. (Sumber: dok. crunchyroll)
Techno07 April 2026, 14:46 WIB

ASUS ExpertCenter P600 AiO Ditawarkan dalam Ukuran Layar 27 dan 24 Inci

Performa AI generasi berikutnya berpadu dengan desain imersif dan keamanan tingkat perusahaan untuk bisnis yang lebih cerdas dan cepat.
ASUS ExpertCenter P600 AiO. (Sumber: null)
Lifestyle07 April 2026, 13:52 WIB

Pacsun Rilis Koleksi Pakaian Renang dengan Tema Y2K

Peluncuran ini menyalurkan energi yang berani dan riang dari awal tahun 2000-an.
Iklan koleksi baju pantai Pacsun bergaya retro. (Sumber: Pacsun)
Techno07 April 2026, 13:32 WIB

Alibaba Qwen3.6-Plus: Akselerasi Adopsi Agentic AI di Perusahaan

Model terbaru hadirkan kemampuan agentic coding dan reasoning yang lebih matang untuk penerapan di dunia nyata.
Alibaba Qwen3.6-Plus. (Sumber: Dok. Qwen)
Techno06 April 2026, 18:38 WIB

TikTok Bermitra dengan Cameo Guna Meningkatkan Popularitas

Penggemar dapat meminta video yang dipersonalisasi tanpa beralih aplikasi.
Permintaan Cameo kini menjadi bagian dari aplikasi TikTok. (Sumber: TikTok)
Automotive06 April 2026, 17:48 WIB

Kabel Rem Belakang Suzuki Burgman Street 125EX Bermasalah, Apa Efeknya?

Untuk menyelesaikan isu ini, perusahaan menggelar program product quality update.
Suzuki Burgman Street 125EX.