Techverse.asia - Seiring kawasan Asia Tenggara yang menghadapi lingkungan energi yang semakin bergejolak, peran energi terbarukan pun semakin bergeser dari keberlanjutan menuju ketahanan ekonomi.
Baca Juga: Alasan Xurya Memperluas ke Off-Grid dan Produsen Listrik Independen
Selama hampir dua dekade terakhir, pertumbuhan di kawasan ini didukung oleh biaya energi yang relatif stabil. Dinamika tersebut kini bergeser. Ketegangan geopolitik baru-baru ini telah berkontribusi pada kenaikan harga energi, peningkatan tekanan fiskal, dan efek inflasi yang lebih luas di pasar negara berkembang.
Di Indonesia, subsidi energi yang awalnya ditetapkan sekitar US$22 miliar untuk tahun ini membutuhkan tambahan sekitar US$6 miliar untuk mempertahankan harga bahan bakar saat ini, yang semakin menambah tekanan pada keseimbangan fiskal.
Di seluruh Asia Tenggara, di mana perekonomian masih bergantung secara struktural pada impor bahan bakar fosil, dinamika ini menjadi semakin penting bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Pada saat yang sama, investasi energi bersih di kawasan ini mencapai sekitar US$47 miliar pada 2025, yang mencerminkan kemajuan berkelanjutan menuju bauran energi yang lebih terdiversifikasi.
Baca Juga: Bybit Beri Modal Seri A ke Hata Sebesar US$8 Juta, Ini 3 Fokus Utamanya
Pada praktiknya, transisi bergantung pada seberapa efektif solusi tersebut diterapkan. Xurya, usaha rintisan penyedia solusi energi surya terkemuka di Indonesia, menunjukkan bagaimana solusi energi terbarukan diterapkan dalam skala besar di segmen komersial dan industri.
Berdiri delapan tahun lalu, Xurya berfokus pada peningkatan adopsi energi surya dengan menghilangkan hambatan biaya awal melalui model energi surya atap tanpa biaya modal (zero-capex). Pada akhir 2025, perusahaan telah menyelesaikan lebih dari 300 proyek energi surya di seluruh Indonesia, mewakili lebih dari 200 MWp kapasitas terpasang di seluruh sistem on-grid dan hybrid off-grid.
Tingkat penerapan ini mencerminkan meningkatnya permintaan dari pengguna industri yang mencari efisiensi biaya dan keandalan energi yang lebih besar. Energi surya semakin diintegrasikan ke dalam strategi operasional inti, daripada diperlakukan sebagai inisiatif keberlanjutan yang berdiri sendiri.
“Kami melihat energi surya menjadi bagian integral dari strategi operasional jangka panjang bagi perusahaan di Indonesia. Seiring dengan semakin jelasnya kerangka peraturan, kami melihat peluang untuk lebih memperkuat posisi kami sebagai perusahaan energi terbarukan lokal dengan standar global,” ungkap Eka Himawan selaku Managing Director Xurya.
Baca Juga: 6 Tahun Beroperasi, Xurya Membangun Lebih dari 100 MW PLTS
Secara paralel, kata dia, Xurya telah fokus pada penguatan fundamental bisnis yang mendasar. Hal ini termasuk pengembangan proyek yang layak dibiayai bank, peningkatan kualitas instalasi untuk memenuhi standar nasional dan internasional, dan peningkatan kemampuan layanan purna instalasi.
Perusahaan juga telah mulai melakukan diversifikasi ke segmen hybrid off-grid dan Independent Power Producer (IPP), yang mencerminkan permintaan yang berkembang untuk solusi energi yang lebih andal dan hemat biaya, khususnya dari pengguna industri yang membutuhkan kepastian pasokan.
Bersamaan dengan ekspansi komersial, Xurya terus berinvestasi dalam pengembangan ekosistem. Melalui Solar Academy Indonesia (SAI), yang diluncurkan pada 2024, perusahaan mengatasi kendala struktural utama di sektor ini yaitu ketersediaan tenaga kerja lokal yang terampil.
Pada 2025, SAI telah melatih ratusan peserta di seluruh mitra Engineering, Procurement, and Construction lokal, dengan program yang berfokus pada kualitas instalasi, keamanan sistem, dan mitigasi risiko. Inisiatif ini diharapkan akan berkembang lebih lanjut pada 2026 seiring dengan peningkatan skala dan kompleksitas proyek.
“Kami percaya transisi energi harus didukung oleh kemampuan lokal yang kuat. Tanpa talenta lokal yang terampil, pertumbuhan industri tidak akan berkelanjutan,” tambah Wakil Presiden Operasi Xurya Philip Effendy.