Techverse.asia - Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), badan perencana ekonomi tertinggi China, baru-baru ini menyatakan bahwa telah memblokir akuisisi Manus senilai US$2 miliar oleh Meta, sebuah startup AI berbasis agen yang didirikan oleh para insinyur Negeri Tirai Bambu yang pindah ke Singapura sebelum Mark Zuckerberg mengakuisisinya akhir tahun lalu.
Langkah ini menandai salah satu intervensi paling signifikan China dalam kesepakatan lintas batas, yang meluas jauh melampaui ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dengan Chian dan ke industri Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang lebih luas.
Baca Juga: Meta akan Menutup Situs Web Messenger yang Berdiri Sendiri Mulai April 2026
Bagi Meta, ini dapat memberikan pukulan serius terhadap ambisinya di bidang agen AI yang berkembang pesat. Tanpa penjelasan yang diberikan, NDRC China telah memerintahkan kedua pihak untuk membatalkan kesepakatan tersebut sepenuhnya.
“Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) telah membuat keputusan untuk melarang investasi asing dalam proyek Manus sesuai dengan hukum dan peraturan, dan telah meminta pihak-pihak yang terlibat untuk menarik transaksi akuisisi,” tulis NDRC dilansir Techverse.asia, Jumat (1/5/2026).
Namun situasinya jauh dari sederhana. Sekitar 100 karyawan Manus telah pindah ke kantor Meta di Singapura pada Maret 2026, dengan para pendiri mengambil peran eksekutif. CEO Xiao Hong kini melapor langsung kepada COO Meta, Javier Olivan.
Baca Juga: TikTok Go by Tokopedia Bantu Dorong Bisnis Dine-in dan Kreator
CEO Manus, Hong, dan Kepala Ilmuwan Yichao Ji dilaporkan berada di bawah larangan keluar, yang mencegah mereka meninggalkan daratan China. “Transaksi tersebut sepenuhnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Kami mengantisipasi penyelesaian yang tepat untuk penyelidikan ini,” kata juru bicara Meta.
Didirikan pada 2022 oleh Hong, Ji, dan Tao Zhang, Manus memindahkan kantor pusatnya dari Tiongkok ke Singapura sekitar pertengahan tahun 2025. Hanya beberapa bulan kemudian, Meta datang.
Perusahaan tersebut mengumumkan akuisisi Manus pada Desember 2025 dengan nilai sekitar US$2 miliar hingga US$3 miliar, dengan rencana untuk menggabungkan teknologi agennya langsung ke dalam Meta AI.
Baca Juga: Meta AI Telah Diluncurkan di 6 Negara, Selanjutnya Ada Indonesia Coy!
Meta telah setuju untuk mengakuisisi startup AI yang berbasis di Singapura, Manus, dengan kesepakatan tersebut mensyaratkan pelepasan penuh kepemilikan dan operasional dari China, menurut Nikkei Asia.
Namun demikian, asal usul perusahaan ini dapat ditelusuri kembali ke China. Para pendiri Manus sebelumnya mendirikan perusahaan induknya, Butterfly Effect, di Beijing pada 2022 sebelum pindah ke Singapura.
Latar belakang tersebut telah menarik perhatian di Washington, AS, di mana Senator John Cornyn telah menyuarakan kekhawatiran tentang investasi Benchmark di perusahaan tersebut, mempertanyakan apakah modal Amerika Serikat harus mengalir ke perusahaan yang terkait dengan China.
Baca Juga: Meta Mengakuisisi Limitless: Startup Pembuat Liontin Bertenaga AI
Sebelumnya diberitakan, pada Januari tahun ini Meta telah resmi engakuisisi usaha rintisan alias startup di bidang kecerdasan buatan bernama Manus dengan kesepakatan senilai lebih dari Rp33,44 triliun. Manus mengklaim bahwa kinerjanya lebih baik daripada Deep Research milik OpenAI.
Manus dirancang untuk mengotomatiskan tugas-tugas tertentu, seperti riset pasar, pengkodean, analisis data penjualan, dan kloning serta pembuatan situs web. Mereka mengklaim bahwa Manus "sudah melayani kebutuhan sehari-hari jutaan pengguna dan bisnis" dan memiliki pendapatan rata-rata tahunan lebih dari US$100 juta hanya delapan bulan setelah peluncuran.
Meta menyatakan bahwa akan tetap menjalankan Manus secara independen dan mengintegrasikan agen AI startup tersebut ke dalam Facebook, Instagram, dan WhatsApp, di mana chatbot Meta sendiri, Meta AI, yang sudah tersedia untuk pengguna.
Baca Juga: Facebook Sekarang dapat Menganimasikan Foto Profil Pengguna dengan AI















