Techverse.asia - Fenomena digital fatigue atau kelelahan akibat penggunaan perangkat digital secara berlebihan semakin terasa di kalangan mahasiswa. Utamanya bagi kalangan Generasi Z, yang hampir seluruh aktivitasnya bersentuhan dengan dunia digital, dinilai paling rentan terhadap kondisi ini.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Taufiqur Rahman menjelaskan bahwa kondisi digital fatigue merupakan kelelahan fisik maupun mental yang muncul akibat paparan perangkat digital secara terus-menerus. Secara umum, istilah digital fatigue itu merujuk pada kelelahan, baik fisik maupun mental.
"Biasanya terjadi karena penggunaan media digital yang berlebihan. Fenomena ini paling banyak dialami mahasiswa, karena mereka merupakan generasi yang paling intens mengakses media sosial dan internet," ungkapnya baru-baru ini kami kutip, Senin (15/9/2025).
Baca Juga: Casing Spigen untuk Google Pixel 10 Series, Banyak Model
Menurutnya, kelelahan digital tidak hanya menurunkan kemampuan mahasiswa dalam berkonsentrasi, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan mental. Gejalanya bisa berupa kesulitan fokus, rasa lelah berlebih, hingga keluhan fisik seperti pusing dan mata tegang.
"Jika sudah sampai tahap tertentu, ini bahkan bisa memicu depresi. Awalnya memang menyerang fisik, misalnya mata lelah karena terlalu lama menatap layar, tetapi lama-kelamaan bisa berdampak pada psikis juga," katanya.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh derasnya arus informasi yang dikonsumsi mahasiswa setiap hari. Informasi yang simpang siur dengan konten beragam membuat beban mental semakin berat. Akibatnya, kelelahan fisik ikut dipengaruhi kelelahan psikis karena harus mencerna terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan.
Meski begitu, Taufiq menekankan bahwa penggunaan teknologi di era digitalisasi tidak bisa dihindari, terutama dalam dunia akademik. Karena itu, solusi bukanlah menjauhi gawai, melainkan menjaga keseimbangan dalam penggunaannya.
Baca Juga: Fenomena Influencer Fatigue, Brand Perlu Bangun Orisinalitas Melalui Komunitas
Ia juga merekomendasikan konsep digital detox sebagai salah satu langkah pencegahan maupun pemulihan. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Kalau sudah mulai muncul gejala tidak sehat, seperti sulit fokus, cepat lelah, atau mata terganggu, digital detox perlu dilakukan.
"Caranya bisa dengan mengurangi jam penggunaan media, membatasi akses hanya pada hal-hal penting, dan menghindari aktivitas scrolling yang tidak perlu," katanya.
Ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk detoks digital dari media sosial. Pertama, kamu bisa menonaktifkan ponsel pintar kalian saat sebelum tidur sampai esok hari. Kamu juga bisa menyalakan pengaturan do not disturb atau jangan ganggu yang akan membisukan panggilan, notifikasi, hingga peringatan.
Kedua, bila kamu termasuk orang yang setiap harinya bekerja di depan komputer, tentunya sulit untuk menghindarinya, yang artinya akan tambah sulit untuk mengutamakan waktu istirahat. Nah, langkah yang dapat dilakukan yakni atur alarm atau waktu di kalender yang ada di smartphone kalian guna mengingatkan kamu untuk jalan-jalan atau cari udara segar.
Baca Juga: Detoks Media Sosial dengan Gaya, Genggam HMD Barbie™ Phone yang Punya Fitur Selfcare Reminder
Ketiga, membuat teritorial yang memang tidak boleh ada perangkat digital, seperti di kamar tidur. Sebab, terkadang membatasi penggunaan aplikasi tertentu tak selalu berhasil dalam menjalankan digital detox tersebut. Dan misal kamu harus pergi ke ruangan lain untuk memakai gadget, maka tanpa disadari bisa membuatmu menggulir layar tanpa disadari.
Keempat, mengganti smartphone yang spesifikasinya tidak bisa dipasangkan aplikasi media sosial. Ini dipercaya akan membantu kalian fokus lantaran gawai tersebut hanya bisa berfungsi untuk mengirim pesan atau melakukan panggilan telepon.
Terakhir, ambil waktu istirahat secara berkala dari perangkat digital. Kamu bisa mulai untuk menghapus aplikasi yang sekiranya akan mudah mengalihkan perhatian kalian. Aplikasi yang dihapus bisa sifatnya sementara atau selamanya. Misal, TikTok yang kekinian sangat sering diakses baik oleh anak-anak sampai orang dewasa membuat konsumsi waktu layar lebih lama di depan gadget.
Baca Juga: Resmi, Australia Setujui UU Pelarangan Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun













