Techverse.asia - Toy Story 5 tayang global mulai 17 Juni kemarin, sementara akun-akun media sosial bioskop Indonesia telah mengunggah bahwa film ini juga bisa kamu tonton, namun pada kolom komentarnya sejumlah warganet pesimistis jika film ini seharusnya enggak perlu diproduksi lagi.
Bahkan, film Toy Story seharusnya cukup berhenti dalam triloginya saja, tak perlu ada sekuel keempat atau pun kelima. Tapi tampaknya keraguan tersebut mampu dipatahkan oleh Pixar yang dapat mengemas alur cerita Toy Story 5 tetap relevan dengan kondisi saat ini - anak-anak banyak yang kecanduan gadget.
Baca Juga: Teaser Pertama Toy Story 5 Mengancam Mainan Konvensional dengan Tablet
Sang sutradara Andrew Stanton menggambarkannya melalui karakter Bonnie (disuarakan oleh Scarlett Spears) yang mulai menginjak usia delapan tahun dan perlahan mulai meninggalkan mainan tradisional. Bonnie juga mulai kesulitan untuk menemukan teman bermain karena teman-teman sebayanya pun lebih sibuk bermain dengan tablet ketimbang berinteraksi secara nyata.
Khawatir Bonnie merasa kesepian, orang tuanya juga membelikan sebuah tablet yang disebut Lilypad (disuarakan oleh Greta Lee) agar dia tetap dapat 'terhubung' dengan teman-temannya. Kehadiran Lilypad di rumah Bonnie membuat mainan-mainnya merasa terancam bahwa posisi mereka bakal tergantikan oleh teknologi, utamanya Jessie (disuarakan oleh Joan Cusack).
Jessie beranggapan bahwa gawai tablet akan membuat anak-anak semakin berjarak dari dunia nyata dan tak imajinatif. Situasi tersebut membuatnya gusar dan tak ingin 'status quo-nya' tergantikan begitu cepatnya. Saat dia berupaya membuntuti Bonnie yang hendak menginap di rumah temannya, siapa sangka terjadi peristiwa yang membawanya kembali ke rumah pemilik lawasnya, Emily, yang mengantarkannya kepada trauma masa lalu.
Baca Juga: Toy Story 5 Diproyeksikan Tayang Juni 2026, Andrew Stanton Jadi Sutradaranya
Namun rumah tersebut sudah ditinggali oleh penghuni anyar bernama Blaze, gadis kecil yang gemar mengoleksi mainan dan juga pecinta binatang. Dengan begitu, bisa dibilang Jessie mendapat sorotan utama dalam film ini, mengingat penyampaian kisahnya yang cukup emosional.
Selama 102 menit berjalan, juga muncul karakter Woody (disuarakan oleh Tom Hanks) dan Buzz Lightyear (disuarakan oleh Tim Allen) beserta mainan-mainan yang pastinya familiar dari film Toy Story pendahulunya.
Selain itu juga diselipkan sub-plot mengenai Buzz Lightyear yang lebih advanced, yang berpetualang untuk menjalankan misinya. Meskipun demikian, Toy Story 5 mampu menjahit ceritanya menjadi ke dalam satu plot yang koheren.
Keputusan Pixar untuk mengambil tema teknologi yang dikhawatirkan akan mengubah cara anak-anak dalam bermain, khususnya dengan mainan konvensional, tidak dinarasikan siapa yang lebih baik antara keduanya, justru memberikan pendekatan yang berbeda.
Baca Juga: Review Inside Out 2: Gejolak Beragam Emosi pada Manusia
Teknologi tidak melulu menjadi kambing hitam atas pesatnya perkembangan zaman, melainkan keduanya bisa berjalan berdampingan. Kecerdikan Stanton dalam meramu jalan ceritanya inilah yang menjadi nilai tambah dalam Toy Story 5.
Dari aspek teknis, penonton pastinya mendapat apa yang mereka harapkan dari kualitas animasi buatan Pixar. Studio ini mampu menunjukkan peningkatan gambar dibanding dengan Toy Story yang rilis pada 2019 silam. Animasi seperti laut, tumbuhan, hingga hewan terasa sangat nyata dalam format tiga dimensi (3D).
Tim animator dan sinematografi garapan Matt Aspbury serta JC Kalache layak mendapat apresiasi. Musik pengiring karya Randy Newman semakin menambah emosional dalam cerita-cerita di Toy Story 5. Pria berumur 82 tahun ini masih konsisten menghadirkan musik-musik apiknya dalam saga tersebut.
Baca Juga: Review Kung Fu Panda 4, Karakter Antagonis The Chameleon Kurang Mendapat Eksplorasi
Namun, lagu You've Got Friend in Me enggak lagi jadi pembuka, melainkan diisi oleh Taylor Swift lewat tembangnya yang berjudul I Knew It, I Knew You sebagai soundtrack resmi bagi film Toy Story 5. Di sisi lain menurut penulis, lima seri Toy Story memiliki kualitas penulisan yang konsisten, di mana sanggup bertransisi dari generasi ke generasi tanpa kehilangan grip emosionalnya.