Techverse.asia - Berawal dari sebuah kompetisi fotografi satwa pada 1990 silam, organisasi International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) merupakan ajang fotografi dan videografi satwa tahunan yang diselenggarakan oleh Taman Safari Indonesia (TSI) sebagai bagian dari komitmennya dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi satwa dan kelestarian alam.
Baca Juga: Paddle Board Bisa Jadi Wisata Alternatif Saat Berkunjung ke Bantul
Selama 35 tahun, IAPVC telah berkembang menjadi ruang yang mempertemukan fotografer, videografer, komunitas, pecinta alam, hingga masyarakat umum dalam satu cerita besar tentang kehidupan satwa. Ribuan karya telah merekam keindahan, perilaku, dan keberagaman satwa dari berbagai penjuru dunia.
Melalui foto dan video, IAPVC mengajak masyarakat untuk mengenal satwa lebih dekat, menumbuhkan empati, serta membangun kepedulian terhadap upaya pelestarian dan konservasi. Seiring perjalanannya, IAPVC terus mengembangkan cara dalam menceritakan kehidupan satwa.
Pada 2023, IAPVC mengusung tema “Story of the Wild, Capture Through Your Lens”, dilanjutkan “Soul of the Wild” pada 2024 dan “The Picture of Secret Nature” pada 2025. Memasuki usia ke-35, IAPVC mengusung tema “From Lens to Legacy”; yang menempatkan karya visual bukan hanya sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai warisan kepedulian terhadap satwa bagi generasi berikutnya.
Baca Juga: Tren Kembalinya Fotografi Kamera Analog Masih Bertahan, Apa Saja Keseruannya?
Perkembangan tersebut turut diiringi meningkatnya partisipasi masyarakat, dengan jumlah peserta bertambah dari 2.998 orang pada 2022 menjadi 9.115 orang pada 2025, sementara jumlah karya meningkat dari 8.789 menjadi 26.291 karya.
Chief Marketing Officer (CMO) Taman Safari Indonesia Alexander Zulkarnain mengatakan bahwa IAPVC tidak hanya menjadi ruang untuk menghasilkan karya visual, tetapi juga sarana untuk membawa isu konservasi lebih dekat dengan masyarakat.
“Bukan sekadar lomba, ajang ini adalah momentum mengedukasi masyarakat tentang konservasi satwa melalui media yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu foto dan video,” ujar Zulkarnain pada Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: Sering Jadi Buruan Pemancing Mania, Ikan Wader Masuk Daftar Satwa Rentan Punah
Semangat tersebut turut tercermin melalui karya para pemenang IAPVC dalam beberapa edisi terakhir. Pada 2023, Gerdie Hutomo Nurhadi meraih penghargaan utama melalui foto yang mengabadikan perilaku orangutan menyedok air menggunakan daun kering.
Sementara itu, pada 2025, Adhitiya Wibhawa memenangkan Grand Prize melalui potret Elang Jawa. Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa fotografi satwa tidak hanya mengabadikan momen, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan pesan konservasi.
Tahun ini, IAPVC kembali mengajak masyarakat untuk terlibat melalui berbagai kategori kompetisi, rangkaian roadshow, serta aktivitas yang mempertemukan peserta dengan satwa dan kawasan konservasi secara langsung.
Baca Juga: Foto Menggemaskan Xin Bao dan Yun Chuan, Sepasang Panda Raksasa China di Kebun Binatang San Diego
Pada 2026, roadshow IAPVC berlangsung di Taman Safari Bogor, Solo Safari, dan Taman Safari Prigen dengan aktivitas yang mencakup kompetisi regional dan keterlibatan komunitas secara langsung.
IAPVC 2026 juga menghadirkan beragam kategori, mulai dari Wildlife Photo Story, Wildlife Young Creator, Wildlife Short Video Story, hingga Wildlife Roadshow Story Challenge, serta kategori baru Wildlife Journalist Story dan People's Choice Awards. Pendaftaran International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026 telah dibuka hingga 30 September 2026.














