Techverse.asia - Hari Raya Idulfitri di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri yang membedakan dengan perayaan di negara-negara muslim yang lain. Perayaan Idulfitri di Indonesia identik dengan kembali berkumpul bersama keluarga. Fenomena ini tidak lepas dari akar budaya masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi nilai leluhur dan kekerabatan.
Baca Juga: Mau Rumah Aman Saat Ditinggal Mudik? Lakukan 5 Hal Ini
Dosen Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Sita Hidayah menjelaskan bahwa esensi lebaran di Jawa sendiri berkaitan erat dengan tradisi nyadran atau ziarah kubur yang dilaksanakan menjelang ramadhan. Beberapa masyarakat urban memaknai tradisi tersebut dengan melakukan ziarah dan sungkeman pada saat lebaran.
Momen ini juga menjadi momen penting untuk menjaga guyub rukun pada masyarakat. “Tradisi halal bihalal dan sungkeman menjadi bentuk kekerabatan dan penghormatan kepada yang lebih tua. Budaya setempat mempengaruhi tradisi perayaan lebaran di masing-masing daerah,” kata Sita.
Bagi Sita, tren baju baru dan seragam keluarga pada perayaan Idulfitri merupakan persepsi sosial yang wajar. Fenomena ini juga didukung dengan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat dan memaknainya sebagai ekspresi kegembiraan dan persatuan untuk berkumpul bersama keluarga yang dilakukan satu tahun sekali.
Baca Juga: Kawasan Malioboro Dibanjiri Wisatawan Selama Libur Lebaran 2026
Lebih lanjut, Sita mengatakan bahwa sekarang ini terdapat pergeseran nilai Lebaran yang paling menonjol yaitu dalam hal konsumerisme. Dahulu, penggunaan baju baru saat lebaran sudah menjadi suatu hal yang sangat istimewa.
Namun begitu, sekarang beberapa masyarakat sering menonjolkan aspek pamer dan tren semata. “Momen Idulfitri seharusnya menjadi momen yang bagus dan bermakna untuk kembali mengingatkan tidak hanya memperbaiki hubungan baik dengan Allah tetapi juga dengan orang-orang terdekat. Membangun kebersamaan dan solidaritas sosial yang lebih tinggi,” paparnya.
Hari Raya Idulfitri sendiri tentunya tak bisa dilepaskan dari aktivitas mudik. Secara etimologi, terdapa dua versi ternama tentang asal usul kata mudik. Pertama, dalam Bahasa Jawa, kata mudik merupakan singkatan dari 'mulih dhisik' yang artinya pulang sebentar.
Kedua, dari Bahasa Melayu, berasal dari kata 'Udik' yang berarti pedalaman atau hulu. Bagi perantau yang tinggal di pesisir maupun kota besar akan pulang ke arah hulu (kampung halamannya) dengan cara menyusuri sungai.
Baca Juga: Sudah Balik dari Mudik Pakai Mobil Pribadi? Cek Kaki-Kaki!
Lantas istilah mudik mulai populer di era tahun 1970-an yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti libur panjang, urbanisasi pesat, hingga transformasi budaya. Ketika libur panjang tiba, para perantau yang tinggal di kota-kota besar biasanya akan memanfaatkan momen Idulfitri untuk pulang kampung guna berkumpul bersama keluarga besar.
Kebijakan pembangunan yang terkonsentrasi di Jakarta selama era Orde Baru memicu perpindahan besar-besaran oleh masyarakat desa ke kota. Dan transformasi budaya mendukung aktivitas mudik yang enggak lagi sekadar kembali ke kampung halaman, melainkan menjadi suatu simbol keberhasilan perantau dan momen guna mempererat tali silaturahmi.
Di sisi lain, menurut data Kementerian Perhubungan (Kemenhub) jumlah pemudik pada lebaran tahun ini sebanyak 147,55 juta orang. Angka ini meliputi seluruh pergerakan masyarakat selama periode angkutan lebaran mulai 13-29 Maret 2026.
Walau pun jumlah tersebut anjlok sekitar 4,57 persen dibanding dengan realisasi pada 2025 yang mencapai 154,6 juta orang, namun jumlah ini tetaplah lebih tinggi 2,53 persen dan prediksi awal survei pemerintah ditaksir sebesar 143,92 juta pemudik.
Baca Juga: Mudik Tanpa Merasa Kelelahan? Ini Tipsnya











