Norwegia Larang Siswa SD Pakai AI Generatif, Ada Apa?

(ilustrasi) kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) (Sumber: Freepik)

Techverse.asia - Norwegia akan memberlakukan larangan ketat terhadap penggunaan alat AI generatif oleh anak-anak sekolah dasar sekaligus menerapkan pembatasan terhadap pemakaiannya di bidang pendidikan anak-anak yang lebih tua guna mencegah dampak negatif terhadap kegiatan belajar mengajar.

Alasannya, banyak anak-anak sekolah dasar di Norwegia menghadapi penurunan luas dalam nilai ujian pendidikan. Sebelumnya, pemerintah pada 2024 juga telah melarang penggunaan ponsel pintar di sekolah dan telah memberikan kembali lebih banyak wewenang kepada guru untuk menegakkan disiplin di kelas, yang terbukti berhasil.

Upaya itu sukses menyebabkan pengurangan perundungan, nilai yang lebih baik, dan penurunan yang signifikan dalam jumlah kunjungan ke psikolog untuk masalah kesehatan mental. Hasil ini terutama terlihat pada anak perempuan.

Baca Juga: Oppo Enco Air 5S: Earbud Semi-in-Ear Pertamanya Resmi Dilansir

Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Stoere menyatakan dalam konferensi pers bahwa Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan memungkinkan anak-anak melewati langkah-langkah penting dalam pendidikan mereka dan bahwa sekolah harus fokus pada pengajaran cara membaca, menulis, dan berhitung.

"Hal terpenting di sekolah adalah anak-anak kita belajar membaca, menulis, dan berhitung," kata Stoere kami kutip pada Selasa (30/6/2026).

Ia menambahkan bahwa standar baru akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru yang dimulai pada akhir Agustus tahun ini. Larangan tersebut juga bakal berdampak pada siswa kelas satu hingga kelas tujuh, usia enam hingga 13 tahun.

Namun begitu, kebijakan ini juga bakla diperluas ke remaja, meskipun dalam skala yang lebih terbatas. Anak-anak yang berusia 14 hingga 16 tahun dapat menggunakan AI generatif, tetapi hanya dengan pengawasan guru.

Baca Juga: Komdigi Batasi Akses ke Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun

Lebih jauh, untuk di pendidikan menengah atas, dari usia 17 hingga 19 tahun, siswa harus belajar menggunakan kecerdasan buatan secara tepat agar mereka siap untuk pendidikan dan pekerjaan lebih lanjut.

Sekadar diketahui, Norwegia sendiri mulai mengadopsi komputer di ruang kelas pada tahun 1990-an dan tablet setelah diperkenalkannya iPad mulai tahun 2010 dan seterusnya, mengurangi ketergantungan pada buku dan tulisan tangan.

Tapi dalam pernyataan terkait baru-baru ini, pemerintah Norwegia juga mengatakan akan mengusulkan undang-undang (UU) untuk mendanai penggunaan lebih banyak buku di ruang kelas, membalikkan tren menuju tablet komputer.

Selain itu, pemerintah Norwegia pada April lalu juga telah mengumumkan rencana untuk melarang anak-anak menggunakan media sosial hingga mereka berusia 16 tahun, mengikuti tren yang dipelopori oleh Australia dan beberapa negara lain untuk mengurangi penggunaan perangkat elektronik oleh kaum muda.

Baca Juga: Partai Politik di Denmark Ini Tidak Dipimpin Manusia Melainkan Sebuah Kecerdasan Buatan

Rancangan UU itu akan diajukan ke parlemen pada akhir tahun. Di samping itu, Amerika Serikat (AS) juga perlahan-lahan mengambil langkah untuk membatasi waktu yang dapat dihabiskan anak-anak dengan chatbot bertenaga AI.

Senat dan DPR telah membahas rancangan undang-undang yang akan mewajibkan perusahaan AI untuk menerapkan proses verifikasi usia dan melarang mereka menyediakan chatbot kepada anak di bawah umur.

Teknologi AI memang terlihat canggih dan serba bisa, bahkan ia mampu membuat kerja lebih efisien dan efektif. Meskipun demikian, yang namanya teknologi buatan manusia tentu tetap ada cacat atau sisi kurangnya.

Menurut Maximilian Gahntz, seorang peneliti kebijakan senior di Mozilla Foundation, menjelaskan bahwa walaupun AI adalah hal yang menarik dan merupakan perangkat yang kreatif, hari ini harus diakui jika dunia AI masih belum bisa dikatakan aman untuk privasi kita.

Baca Juga: SailPoint Umumkan Integrasi Baru dengan Claude Compliance API

Akademisi Universitas Cambridge itu melanjutkan, AI terbukti mereproduksi sebuah bias yang berbahaya, dan dapat memuat sebuah konten disinformasi.

"Sebagai salah satu contohnya adalah Stable Diffusion, yang mengumpankan miliaran gambar di internet, hingga mengasosiasikan kata dan konsep tertentu. Text-generatingnya dapat mudah saja diakali untuk mendukung pandangan yang cukup ofensif, atau menghasilkan konten yang menyesatkan," ujarnya.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI