Techverse.asia - Pintu Futures memiliki lima fitur unggulan bagi pengguna aplikasi tersebut untuk mendukung strategi trading derivatif kripto dan meminimalisir risiko. Kelima fitur ini mencakup Adjustable Leverage sampai 25 kali, Initial Margin Buffer, Price Protection, Stop Order, serta Take Profit and Stop Loss.
Head of Product Marketing Pintu Iskandar Mohammad mengatakan bahwa trading derivatif kripto tak cuma sekadar mengejar potensi keuntungan, tapi juga tentang bagaimana seorang trader perlu untuk mengontrol dan mengantisipasi risiko.
"Sepanjang tahun kemarin kami menghadirkan fitur yang inovatif untuk mendukung manajemen risiko trading derivatif, yang kini semuanya sudah dapat dimaksimalkan oleh pengguna Pintu Futures," terangnya.
Baca Juga: Aplikasi Pintu Merilis Web3 Wallet
Adapun produk trading derivatif aset kripto milik PT Pintu Kemana Saja (PINTU) ini telah terdaftar dan diawasi resmi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seiring dengan peralihan pengawasan aset kripto ke otoritas itu.
Pertama, trader dapat menggunakan fitur Adjustable Leverage guna menyesuaikan tingkat leverage, mulai dari satu kali sampai 25 kali, yang sesuai dengan strategi dan profil risiko para trader. Kedua, Initial Margin Buffer berguna untuk menambahkan margin cadangan ke posisi yang telah dipasang supaya enggak cepat terkena likuidasi.
Ketiga, Price Protection yang mampu melindungi posisi dari slippage yang ekstrem ketika pasar sedang volatile yang dapat diatur tingkat toleransinya seperti 0,2 persen, 1 persen, atau 2,5 persen. Keempat, Stop Order memungkinkan trader untuk melakukan pemesanan kala harganya mencapai level tertentu sesuai yang telah ditentukan berdasarkan analisis teknikal.
"Terakhir, Take Profit and Stop Loss, membantu memudahkan para trader melakukan manajemen risiko tentang pengaturan target keuntungan dan batas rugi secara otomatis," ujar dia.
Baca Juga: OJK: Transaksi Kripto di Indonesia Mencapai Rp482 Triliun Sepanjang 2025
Lima fitur itu membantu trader dalam mengelola risiko maupun masuk ke pasar menurut strategi tertentu tanpa harus memantau pergerakan harga secara terus menerus.
Melansir data dari Coinglass, ketika harga Bitcoin anjlok ke level US$60 ribu atau setara dengan Rp1,013 miliar per 6 Februari kemarin, pasar kripto sendiri terus dihantam gelombang likuidasi sebesar US$4,85 miliar.
Dampaknya adalah fear and green turun menjadi enam yang menjadi paling rendah di awal tahun ini. Tapi pada 16 Februari kemarin, Bitcoin berada di kisaran US$68 ribu atau sekitar Rp1,1 miliaran. Padahal Bitcoin pada Oktober tahun kemarin sempat menyentuh angka US$126.210.
"Trading derivatif kripto memberikan fleksibilitas bagi trader di beragam kondisi pasar, mereka dapat mengambil posisi long apabila yakin harganya bakal naik, atau posisi short jika menilai harganya akan turun," ujarnya.
Baca Juga: Pasar Kripto Mengalami Penguatan, Ethereum dan Bitcoin Melesat
Meski begitu, perlu diingat bahwa ini masuk ke dalam kategori produk investasi berisiko tinggi alias high risk high return, maka dari itu, selain ada fitur untuk manajemen risiko, menganalisis kondisi pasar dan menambah informasi juga sangatlah penting.
"Semua informasi soal kondisi pasar dan tips trading derivatif kripto kami berikan melalui pelantar edukasi Pintu Academy dan Pintu News," tambahnya.
Pintu adalah aplikasi pertukaran (exchange) aset kripto berbasis mobile di Indonesia yang dirancang untuk mempermudah pemula maupun profesional dalam membeli, menjual, menyimpan, dan mengirim berbagai jenis kripto. Didirikan oleh Jeth Soetoyo, aplikasi ini resmi berizin dan diawasi oleh Bappebti serta Komdigi.
Pintu sendiri menyediakan lebih dari 320 jenis aset kripto, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), serta berbagai token populer lainnya. Aplikasi ini pun disebut gampang untuk dipakai karena antarmuka aplikasinya terbilang sederhana (user-friendly), memudahkan pemula untuk melakukan investasi.
Baca Juga: Minat Crypto Futures Meningkat, Reku Hadirkan Fitur Flexible Leverage 1-25x
.