Techverse.asia - Meta telah mengakuisisi usaha rintisan alias startup di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bernama Manus dengan kesepakatan senilai lebih dari US$2 miliar atau setara dengan Rp33,44 triliun.
Manus adalah startup AI yang berbasis di Singapura yang menjadi perbincangan di Silicon Valley sejak debutnya pada 2025 lalu dengan video demo yang menunjukkan agen kecerdasan buatan melakukan hal-hal seperti menyaring kandidat pekerjaan, merencanakan liburan, hingga menganalisis portofolio saham.
Baca Juga: LG Hadirkan 3 Monitor Gaming UltraGear Evo, Siap Mejeng di CES 2026
Sebelum diakuisisi oleh Meta, Manus sendiri telah memberhentikan sebagian besar karyawannya di Beijing, China, sebelum memindahkan kantor pusatnya ke Singapura dalam upaya untuk berekspansi secara global.
"Bergabung dengan Meta memungkinkan kami untuk membangun fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan tanpa mengubah cara kerja Manus atau cara pengambilan keputusan," kata Chief Executive Officer (CEO) Manus Xiao Hong dalam siaran pers perusahaan kami sadur, Jumat (2/1/2026).
Manus mengklaim bahwa kinerjanya lebih baik daripada Deep Research milik OpenAI. Selain itu, dilaporkan bahwa ini adalah salah satu akuisisi terbesar yang melibatkan startup yang dibina di ekosistem AI asal Negeri Tirai Bambu.
Manus sendiri hadir pada Maret 2025, tak lama setelah startup AI China lainnya, DeepSeek, muncul. Perusahaan (yang saat itu bernama Butterfly Effect) awalnya mendeskripsikannya sebagai "agen kecerdasan buatan umum pertama" yang mampu melakukan tugas-tugas kompleks secara otonom, bukan hanya menghasilkan ide.
Baca Juga: Mengenal DeepSeek: Perusahaan AI yang Viral karena Mampu Saingi OpenAI
Manus dirancang untuk mengotomatiskan tugas-tugas tertentu, seperti riset pasar, pengkodean, analisis data penjualan, dan kloning serta pembuatan situs web. Mereka mengklaim bahwa Manus "sudah melayani kebutuhan sehari-hari jutaan pengguna dan bisnis" dan memiliki pendapatan rata-rata tahunan lebih dari US$100 juta hanya delapan bulan setelah peluncuran.
Pada April 2025, hanya beberapa minggu setelah peluncuran, perusahaan modal ventura Benchmark memimpin putaran pendanaan US$75 juta yang memberikan valuasi pasca-investasi kepada Manus sebesar US$500 juta dan membuat mitra umum Benchmark, Chetan Puttagunta, bergabung dengan dewan direksi perusahaan rintisan tersebut.
Menurut media Tiongkok, beberapa investor besar lainnya telah berinvestasi di Manus pada saat itu, termasuk Tencent, ZhenFund, dan HSG (sebelumnya dikenal sebagai Sequoia China) melalui putaran pendanaan senilai US$10 juta.
Baca Juga: OpenAI Mengakuisisi Rockset, Perpindahan Karyawan Dilakukan Secara Bertahap
Manus juga telah mengumumkan pada pertengahan Desember 2025 bahwa mereka telah berhasil mendapatkan jutaan pengguna dan menghasilkan pendapatan berulang tahunan lebih dari US$100 juta dari pelanggan bulanan dan tahunan untuk layanan keanggotaannya.
Sekitar waktu itulah Meta mulai bernegosiasi dengan Manus, menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), yang menyebutkan bahwa raksasa teknologi itu membayar sekitar Rp33 triliun lebih - valuasi yang dilaporkan dicari Manus untuk putaran pendanaan berikutnya.
Sementara itu, bagi CEO Meta Mark Zuckerberg, yang telah mempertaruhkan masa depan Meta pada teknologi kecerdasan buatan, Manus mewakili sesuatu yang baru yaitu produk AI yang benar-benar menghasilkan uang.
Hal ini sangat relevan mengingat para investor semakin khawatir tentang pengeluaran infrastruktur Meta sebesar US$60 miliar, dan pengeluaran industri teknologi yang lebih luas yang didukung utang untuk pembangunan pusat data.
Meta menyatakan bahwa akan tetap menjalankan Manus secara independen dan mengintegrasikan agen AI startup tersebut ke dalam Facebook, Instagram, dan WhatsApp, di mana chatbot Meta sendiri, Meta AI, yang sudah tersedia untuk pengguna.
Baca Juga: WhatsApp akan Segera Meluncurkan Integrasi Obrolan Pihak Ketiga di Eropa
Akusisi ini tidak sampai satu bulan usai Meta membeli startup Limitless, pembuat 'Pendant' (liontin) bertenaga kecerdasan buatan, untuk mengerjakan pengembangan perangkat keras (hardware) konsumen bagi perusahaan tersebut.