Techverse.asia - Riset terbaru Momentum Works menemukan bahwa pasar perdagangan cepat (quick commerce) di Asia Tenggara menghasilkan nilai barang dagangan kotor (GMV) sebesar US$7,3 miliar atau sekitar Rp130,9 Triliun pada 2025, setara dengan 4,6% dari pasar e-commerce di kawasan tersebut.
Namun, meskipun pertumbuhannya pesat, kategori ini masih menyumbang kurang dari 1% dari total penjualan ritel di seluruh Asia Tenggara. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perdagangan cepat telah melampaui pembuktian permintaan konsumen dan masih berada pada tahap awal adopsi.
Semakin hari, fase pertumbuhan selanjutnya akan dibentuk oleh kekuatan model operasional para operator. Asia Tenggara sering dipandang sebagai satu ekonomi digital, tetapi perdagangan cepat berkembang secara berbeda di setiap pasar.
Tidak seperti Tiongkok, di mana infrastruktur perkotaan yang padat mempercepat adopsi, atau India, di mana ritel terorganisir mengikuti lintasan yang berbeda, Indonesia menggabungkan salah satu pasar konsumen terbesar di kawasan ini dengan penetrasi belanja bahan makanan daring yang relatif rendah.
Baca Juga: Jumlah Pengguna Simplus di Asia Tenggara Tembus 18 Juta Orang
Momentum Works memperkirakan penetrasi belanja bahan makanan online di seluruh Asia Tenggara berada di angka sekitar 4,2%, sementara perkiraan industri sebelumnya menunjukkan Indonesia masih di bawah angka tersebut meskipun memiliki populasi terbesar di kawasan ini dan salah satu pasar perdagangan digital yang tumbuh paling cepat.
Momentum Works juga memperkirakan pasar perdagangan cepat (quick commerce) Indonesia akan berkembang berbeda dari beberapa negara tetangga, dengan platform e-commerce diperkirakan akan memainkan peran yang lebih besar daripada jaringan toko serba ada tradisional.
Peluang Indonesia meluas melampaui ukuran pasar konsumennya. Penetrasi belanja bahan makanan online yang relatif rendah menyisakan ruang yang cukup besar bagi adopsi perdagangan cepat untuk semakin mendalam seiring semakin banyak rumah tangga yang memasukkan saluran digital ke dalam belanja bahan makanan sehari-hari mereka.
Perdagangan cepat sering dikaitkan dengan kecepatan pengiriman, tetapi bahan makanan tetap menjadi kategori yang menjadi dasar ekonomi bisnis ini.
Baca Juga: Merambah Pasar Indonesia, ElectGo Hadirkan Lokapasar Berbasis AI
Tidak seperti fesyen atau elektronik konsumen, pembelian bahan makanan bersifat berulang. Rumah tangga mengisi kembali makanan segar, minuman, dan kebutuhan sehari-hari setiap minggu, menciptakan siklus permintaan yang dapat diprediksi daripada transaksi sesekali.
Seiring meningkatnya frekuensi pembelian, pusat pemenuhan pesanan memproses lebih banyak pesanan, pergerakan inventaris menjadi lebih efisien, dan rute pengiriman menjadi lebih padat. Infrastruktur yang ada menjadi lebih produktif tanpa memerlukan laju perluasan jaringan yang sama.
Seiring waktu, keunggulan kompetitif tidak hanya ditentukan oleh skala jaringan tetapi juga oleh seberapa efektif infrastruktur tersebut dimanfaatkan. Inilah salah satu alasan mengapa produk bahan makanan terus menjadi andalan pasar perdagangan cepat di Asia Tenggara, bahkan ketika operator memperluas ragam produk mereka ke kategori seperti perawatan pribadi dan produk rumah tangga.
Astro, salah satu platform perdagangan cepat di Indonesia, menggambarkan bagaimana operator beradaptasi seiring perkembangan pasar.
Baca Juga: KoltiTrace Shop: Platform Lokapasar yang Menawarkan Beragam Produk Tertelusur dan Produksinya Etis
Didirikan pada 2021, Astro mengoperasikan jaringan dark store dan pusat pemenuhan pesanan mikro yang melayani konsumen di seluruh wilayah perkotaan utama di Indonesia.
Dengan mengelola inventaris dalam jaringan pemenuhan pesanan sendiri, perusahaan mempertahankan kendali yang lebih besar atas ketersediaan dan pemenuhan produk sambil mendukung pengalaman pelanggan yang konsisten.
Perusahaan juga telah memperluas portofolio label pribadinya di samping produk bermerek, memperkuat diferensiasi ragam produk sambil mendukung ekonomi kategori yang lebih sehat. Infrastruktur pemenuhan pesanan yang terlokalisasi, kepemilikan inventaris, dan posisi merek pribadi memposisikan bisnis di sekitar permintaan rumah tangga yang berulang daripada pembelian sekali waktu.
Seiring dengan semakin matangnya perdagangan cepat, dasar persaingan kemungkinan akan meluas melampaui kecepatan pengiriman. Kemampuan untuk meningkatkan produktivitas inventaris, meningkatkan pemanfaatan pemenuhan pesanan, dan mendorong perilaku pembelian berulang mungkin menjadi semakin penting bagi bagaimana operator berkembang dari waktu ke waktu.
Baca Juga: Ada Kesenjangan Gender dalam Akses Modal Startup, AC Ventures Berpartisipasi dalam We Fund Climate
Operator dengan model operasi yang lebih kuat kemungkinan akan berada pada posisi yang lebih baik seiring dengan semakin dalamnya adopsi belanja bahan makanan online.













