Techverse.asia - Fenomena job hugging kekinian marak ditemui di dunia kerja. Untuk diketahui, istilah ini merujuk pada kondisi ketika karyawan bertahan dalam satu pekerjaan yang mereka jalani, walau pun ada peluang berkembang dan berpindah ke tempat lain.
Baca Juga: Stanley Gandeng Jennie Blackpink Hadirkan Quencher Luxe Tumbler dan All Day Slim Luxe Bottle
Menurut Dr. Rini Juni Astuti, yang merupakan Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), fenomena job hugging ini ibarat pedang bermata dua.
“Job hugging bisa meningkatkan loyalitas, tetapi juga berisiko menimbulkan stagnasi. Kuncinya adalah menciptakan lingkungan kerja yang menyeimbangkan stabilitas dengan tantangan perkembangan karier,” ujarnya baru-baru ini kami kutip, Senin (22/9/2025).
Faktor utama yang mendorong karyawan cenderung melakukan job hugging biasanya terkait dengan rasa aman serta persepsi risiko. Banyak pekerja khawatir kehilangan stabilitas finansial maupun psikologis, bahkan ada yang kurang percaya diri menghadapi tantangan baru.
Kondisi tersebut diperkuat oleh budaya kerja di Indonesia yang kolektif, hierarkis, dan paternalistik. Loyalitas kepada atasan maupun organisasi masih sangat dihargai, sehingga meski karier stagnan, karyawan sering memilih tetap bertahan.
Baca Juga: Jumlah Populasi Komodo Sekitar 3.300 Ekor, Terancam Punah Akibat Wisata?
“Budaya Indonesia cenderung menjaga harmoni dan menghindari konflik, sehingga banyak pekerja lebih memilih stabilitas. Loyalitas dianggap sebagai bentuk bakti dan dedikasi,” ujarnya.
Selain itu, katanya, banyak yang lebih menekankan pada job security berupa gaji tetap, tunjangan, dan pensiun, ketimbang tantangan karier. Inilah sebabnya fenomena job hugging sangat kuat, terutama di sektor pemerintahan dan BUMN.
Selain faktor budaya, sistem manajemen SDM perusahaan juga berperan besar. Perusahaan dengan jalur karier tidak jelas, reward statis, budaya paternalistik, serta minim program up-skilling cenderung memperkuat job hugging.
Sebaliknya, praktik manajemen modern seperti talent management, rotasi kerja, sistem reward berbasis kinerja, serta budaya inovasi dapat membantu menguranginya. Perusahaan sebenarnya tidak perlu menghapus job hugging sepenuhnya karena loyalitas tetap bernilai. Namun, fenomena ini harus dikelola dengan baik.
Baca Juga: JobCity.id: Platform Rekrutmen Digital Berbasis Kecerdasan Buatan
“Strategi yang bisa dilakukan antara lain membangun jalur karier yang jelas, memperkuat pelatihan, menerapkan rotasi, hingga menghadirkan coaching dan mentoring. Dengan begitu, karyawan tidak sekadar bertahan, tetapi juga produktif,” katanya.
Bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja, Rini menekankan pentingnya membangun kompetensi dan keberanian menghadapi perubahan.
“Anak muda sebaiknya fokus pada pengembangan diri, berani keluar dari zona nyaman, dan membangun mindset karier jangka panjang. Jangan takut dengan perubahan, perluas jejaring, serta kelola keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan,” imbuhnya.
Menurutnya, titik temu terbaik adalah ketika perusahaan mampu memberikan rasa aman yang sehat sekaligus peluang pengembangan, sementara karyawan memanfaatkan stabilitas tersebut untuk tumbuh dan adaptif.
Baca Juga: Baru Dipecat? Beri Rehat Batinmu, Tidak Usah Terburu Terima Pekerjaan Baru
“Prinsipnya adalah security as a foundation, growth as a direction. Dengan begitu, loyalitas berubah dari job hugging pasif menjadi loyalitas produktif,” tutup Rini.
Ini cara untuk mengenali tanda-tanda utama job hugging di tempat kerja, yang tak lain tanda bahaya dan menyebutkan beberapa tanda yang menyertainya. Pertama, peningkatan stres yang dapat memengaruhi perilaku atau suasana hati tim.
Kedua, performa berubah ketika seseorang berfokus pada area dalam peran yang mereka kuasai untuk menonjolkan kapabilitas mereka, alih-alih area kritis yang paling bermanfaat bagi seluruh tim atau inisiatif terpenting.
Baca Juga: Setelah Lebaran Kamu Resign? Ini 3 Hal yang Perlu Kamu Lakukan untuk Menemukan Pekerjaan Baru
Ketiga, karyawan bersemangat untuk membantu dalam peran atau peluang lain yang dapat bermanfaat bagi tim, jika mereka dapat melanjutkan posisi mereka sendiri dengan baik.
Keempat, pekerja yang telah melampaui peran mereka saat ini, berada di posisi yang salah saat ini dalam karier mereka, dan berpegang teguh pada posisi tersebut karena ketakutan akan pasar.