Review Para Perasuk: Kontemplasi Diri Melalui Jalur Spiritual dan Kritik Sosial

Maudy Ayunda sebagai Laksmi dalam film Para Perasuk. (Sumber: Rekata Studio)

Techverse.asia - Melalui film barunya berjudul Para Perasuk, sutradara Wregas Bhanuteja mengusung kesenian tradisional jathilan dan ebeg yang dibumbui dengan konflik argaria serta konflik batin pribadi yang dialami oleh karakter utamanya, Bayu yang diperankan Angga Yunanda.

Ini adalah film kedua Angga bersama Wregas setelah Budi Pekerti (2023). Para Perasuk bercerita mengenai Bayu, warga Desa Latas, di mana rumahnya terancam tergusur akibat pembangunan hotel. Tak hanya rumahnya, sumber mata air yang ada di desanya juga akan dibeli oleh pihak pengembang PT Wanaria.

Baca Juga: Sinopsis Film Para Perasuk, Ini Daftar Para Pemainnya

Terlebih lagi mata air itu diyakini merupakan tempat berkumpulnya para roh yang dicari oleh para perasuk. Ya, warga desa latas punya tradisi unik yang disebut Pesta Sambetan, mirip dengan jatilan yang menampilkan seseorang dirasuki oleh 'roh halus'. Bagi mereka, ini merupakan tradisi turun menurun.

Agar tempat tinggalnya tak tergusur atas kepentingan pembangunan, Bayu pun menempuh cara untuk menjadi calon seorang perasuk utama. Dengan begitu, ia bisa menghasilkan uang untuk menebus mata air tersebut serta rumahnya tak ikut dijual. Tapi dalam perjalanannya, dia harus bergulat dengan masa lalu dan ambisinya.

Sejatinya tradisi Sambetan itu hanya menjadi tabir saja. Bayu yang sedang berada di fase quarter life crisis atau krisis seperempat abad dalam hidupnya. Di pikirannya berkecamuk tentang Laksmi (Maudy Ayunda), ayahnya Agus (Indra Birowo), hingga pesaingnya untuk menjadi perasuk yakni Pawit (Chicco Kurniawan) dan Ananto (Brian Domani).

Baca Juga: Review Sinners: Film Vampir Berbalut Sejarah Kelam, Musik, dan Budaya

Itu semua digambarkan lewat perjalanan Bayu guna menjadi seorang perasuk utama di Desa Latas. Wregas memainkan pesta sambetan lengkap dengan instrumen musik seperti slompret, kendang, dan gitar - perpaduan kontemporer dan tradisional - dengan apik.

Menariknya para pemain dalam film ini belajar memainkan alat musik hingga koreografi menyerupai gerak-gerik sejumlah binatang. Adapun pemilihan Anggun untuk memerankan Asri, seorang pemilik sanggar terbesar di Desa Latas adalah langkah yang tepat.

Dia menjadi nilai tambah dan pembeda berkat mantra-mantra absurd yang dilontarkan kala mementaskan sambetan, bukan bernyanyi. Wajahnya yang khas juga fit the profile untuk menjadi seorang guru yang 'memiliki' ilmu supranatural.

Penampilan Angga dan Maudy juga layak untuk dipuji karena keduanya latihan selama berbulan-bulan supaya bisa menguasai koreografi, seperti bulus, semut, lintah, kerbau, kutu, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Review One Battle After Another, Kritik PTA Terhadap Realitas Dunia Barat

Wregas juga menyisipkan humor di dalamnya, meski di beberapa scene kurang tereksekusi dengan baik sehingga terasa enggak lucu. Selebihnya, dialog-dialognya mengundang gelak tawa, dan komedi yang muncul saat prosesi sambetan terasa organik dengan dunia yang ia buat.

Meski begitu, film Para Perasuk bukan tanpa cela, beberapa adegan yang menggunakan sentuhan animasi terlihat sedikit mengganggun dan kurang seamless, tampak seperti dipaksakan.

Sementara dari segi sinematografi yang dikerjakan oleh Gina S. Noer, memang tak begitu memukau karena sepertinya disesuaikan dengan kehidupan di pedesaan. Permainan tone-nya cenderung hangat dan visualnya terasa hidup.

Lebih lanjut, pada babak ketiga film ini terasa ngebut, padahal dalam satu setengah jam pertama, pace-nya dirasa lambat untuk membangun dramatisasi konflik di dalamnya. Di bagian ini ritmenya mulai goyah, karakter Bayu yang mulai berdamai dengan seluruh kondisinya dan kehilangan segalanya langsung ditarik ke bagian resolusinya.

Baca Juga: Top Gun 3 Resmi Sedang Dalam Pengerjaan dengan Tom Cruise Kembali Berperan

Memang, itu menjadi suatu eksekusi yang bagus karena penulis menantikan bagaimana Wregas membungkus akhir film ini melalui klimaks akan peristiwa-peristiwa kelam yang telah dialami oleh Bayu. Secara keseluruhan, Para Perasuk tak menjadikan hal kerasukan sebagai inti sensasi dari film ini, melainkan perjalanan mental spiritual seseorang dan kritik atas penggusuran atas nama pembangunan yang ada di Indonesia.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI