Sosro Warsito Menjahit Blangkon khas Yogyakarta Lebih dari Setengah Abad

Rahmat Jiwandono
Jumat 05 Juni 2026, 14:17 WIB
Blangkon buatan Sosro Warsito. (Sumber: Pemprov DIY)

Blangkon buatan Sosro Warsito. (Sumber: Pemprov DIY)

Techverse.asia - Di sebuah rumah sederhana di Dusun Clorot, Kelurahan/Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jemari tua Sosro Warsito masih setia merapikan lipatan demi lipatan kain batik.

Dengan ketelitian yang nyaris tak berubah selama lebih dari setengah abad, lelaki yang akrab disapa Sosro Blangkon itu terus merangkai warisan budaya Jawa menjadi sebuah penutup kepala yang sarat makna, yakni blangkon.

Usianya kini telah menginjak 78 tahun. Namun setiap hari, Sosro tetap duduk lesehan di ruang kerjanya selama berjam-jam untuk menyelesaikan pesanan yang datang dari berbagai daerah.

Bagi sebagian orang, membuat blangkon mungkin hanya pekerjaan. Namun bagi Sosro, setiap jahitan adalah bentuk cinta, kesabaran, sekaligus pengabdian kepada budaya Jawa yang diyakininya tak akan pernah mati.

"Saya menekuni pekerjaan ini karena punya keyakinan. Selama orang Jawa masih ada, blangkon tidak akan punah," ujarnya.

Baca Juga: Kali Code Yogyakarta Digagas Menjadi Wahana Wisata Arung Jeram

Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan sejak tahun 1970 sampai hari ini. Perjalanan Sosro menjadi pengrajin blangkon bermula pada 1969. Saat itu, ia aktif dalam kelompok karawitan dan mendapat tugas memesan blangkon kepada seorang pengrajin bernama Kasan Dayat di Piyaman, Wonosari.

Ketertarikannya pada blangkon tumbuh seiring kecintaannya terhadap budaya Jawa yang sejak kecil mengalir dalam kehidupannya melalui seni karawitan.

Tak sekadar memesan, Sosro memberanikan diri untuk belajar atau nyantrik kepada Kasan Dayat. Selama setahun, ia belajar dengan tekun. Tidak hanya membuat blangkon, ia juga membantu berbagai pekerjaan gurunya, termasuk mencari pakan ternak.

Kesungguhan itu berbuah kepercayaan. Saat kondisi kesehatan Kasan Dayat memburuk, seluruh peralatan pembuatan blangkon diserahkan kepada Sosro. Tak lama kemudian, sang guru wafat. "Tahun 1970 saya mulai menerima dan mengerjakan pesanan blangkon sendiri," kenangnya.

Baca Juga: Pendidikan Khas Kejogjaan akan Diimplementasikan Mulai PAUD-SMA

Sejak saat itulah hidup Sosro tak pernah jauh dari kain batik, jarum, dan lipatan-lipatan rumit yang menjadi ciri khas blangkon gaya Yogyakarta. Berbeda dengan banyak pengrajin lain, Sosro hanya membuat blangkon gaya Yogyakarta atau Mataraman Yogyakarta.

Ia tidak menerima pesanan blangkon gaya Surakarta. "Karena dulu saya hanya diajari membuat blangkon Yogyakarta. Sebelum sempat belajar model Surakarta, guru saya sudah meninggal dunia," katanya.

Keputusan itu justru membuatnya dikenal sebagai salah satu maestro blangkon gaya Yogyakarta yang paling konsisten di Gunungkidul. Membuat blangkon bukan pekerjaan yang bisa dilakukan secara tergesa-gesa.

Ada proses wiru atau lipatan yang harus dikerjakan dengan sangat presisi. Pada bagian tertentu, kain harus dilipat hingga 15 sampai 17 lipatan dengan ukuran yang tepat agar motif dan bentuk blangkon tampak sempurna.

Baca Juga: Jamu Sah Jadi Warisan Budaya Tak Benda Milik Indonesia

Bagi Sosro, bagian paling rumit adalah menyusun lipatan-lipatan itu agar rapi, simetris, dan presisi. Kesalahan kecil saja dapat mengubah bentuk keseluruhan blangkon. Karena itu, ia lebih sering memilih mengerjakan sendiri sebagian besar proses pembuatan.

Sang istri, Surami, setia mendampingi, terutama pada pekerjaan menjahit dan beberapa tahapan produksi lainnya. Jika pesanan sedang membludak, Sosro kadang dibantu warga sekitar. Namun, untuk menjaga kualitas, sentuhan akhir hampir selalu berada di tangannya.

Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan sekitar tiga blangkon, terutama jika kain telah melalui proses wiru terlebih dahulu. Meski usianya tak lagi muda, ketelatenannya tetap sama seperti puluhan tahun lalu. Satu per satu blangkon lahir dari tangannya, seolah menjadi cara Sosro merawat waktu dan menjaga denyut budaya Jawa tetap hidup.

Pesanan datang dari berbagai daerah. Tidak hanya dari DIY dan Jawa Tengah, tetapi juga dari Lampung, Kalimantan, Bali, Surabaya, Malang, Kebumen, hingga Pacitan. Menurut Sosro, hal itu menjadi bukti bahwa blangkon masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Baca Juga: Sah! Sumbu Filosofi Yogyakarta Resmi Jadi Warisan Budaya UNESCO

"Yang memakai blangkon sekarang bukan hanya orang Jawa. Banyak dari daerah lain juga memesan. Itu membuat saya semakin yakin bahwa blangkon masih dibutuhkan," ujarnya.

Harga blangkon buatannya pun relatif terjangkau, berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per buah, tergantung jenis kain batik yang digunakan. Motif yang ditawarkan beragam, mulai dari Kumitir Tulis, Modang Tulis, Winarnan, Kumitir Prima, Modang Prima, Poleng Prima, Celeng Kewengen, Kesuma Prima, Wilis, hingga motif polos atau wulung. Di antara semuanya, motif Kumitir menjadi yang paling banyak diminati.

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Travel24 Juli 2026, 20:45 WIB

Hobi Jajan? Coba Kunjungi Enam Destinasi Kuliner Unik di Asia Tenggara

Di destinasi-destinasi tersebut kamu bisa merasakan kuliner tradisional.
Daerah Udon Thani, Tailan. (Sumber: Shutterstock)
Techno24 Juli 2026, 14:32 WIB

Samsung Galaxy Watch 9 Tersedia dalam 2 Ukuran, Ditenagai Prosesor Snapdragon Wear Elite

Galaxy Watch 9: Kesehatan Sehari-hari dengan Kenyamanan Sepanjang Hari dan Baterai Tahan Lama.
Samsung Galaxy Watch 9. (Sumber: null)
Automotive24 Juli 2026, 14:29 WIB

KIA Niro 2027 akan Mengandalkan Sistem Hybrid dengan Teknologi Anyar

Mobil bertenaga hibrida ini tersedia dalam tiga varian.
KIA Niro. (Sumber: null)
Techno24 Juli 2026, 13:11 WIB

Spotify Tambahkan Fitur Chatbot di Aplikasinya, Cuma Bisa Diakses Pelanggan Premium

Fitur Talk to Spotify memungkinkan pengguna membuat daftar putar dan mempelajari lagu dengan perintah suara.
Fitur Talk to Spotify. (Sumber: Spotify)
Lifestyle24 Juli 2026, 12:05 WIB

Perempuan Perlu Atur Stres Supaya Terhindar dari Autoimun

Tantangan dalam penanganan autoimun terdapat pada proses pengobatan dan pemahaman pasien terhadap penyakitnya.
ilustrasi autoimun. (Sumber: null)
Techno24 Juli 2026, 11:38 WIB

Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Punya Kamera Ultrawide yang Lebih Tajam dan Baterai Jumbo

Ultra kini menjadi model unggulan dalam jajaran Z Fold yang terdiri dari dua model baru.
Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra. (Sumber: Samsung)
Startup24 Juli 2026, 09:57 WIB

Ekspansi 1.300 Gerai, Kopi Kenangan Gandeng Privy untuk Digital Trust

Digital trust kini menjadi infrastruktur penting bagi industri ritel dan F&B, bukan sekadar alat tanda tangan elektronik.
Kopi Kenangan x Privy. (Sumber: ist)
Techno24 Juli 2026, 09:55 WIB

Polytron Audivo PHS 5B Hadirkan Audio Kelas Studio di Atas Meja Kerja

Menghidupkan suasana hiburan dan sesi kerja panjang sepanjang hari.
Polytron Audivo PHS 5B. (Sumber: Polytron)
Techno23 Juli 2026, 16:30 WIB

Kacamata Pintar Samsung Resmi Meluncur, Kolaborasi dengan Gentle Monster dan Warby Parker

Samsung membawa ekosistem Galaxy ke kacamata sehari-hari.
Samsung x Google x Warby Parker. (Sumber: null)
Techno23 Juli 2026, 16:27 WIB

ASUS ROG Swift OLED PG27UCWM dan PG32UCWM Resmi Dilansir

Menampilkan teknologi OLED RGB Stripe dengan OLED Care Pro, Dual Mode yang serbaguna, dan solusi efisiensi daya GaNFET.
ROG Swift OLED PG27UCWM. (Sumber: ASUS)