Pakar: Film Lokal Dominasi Bioskop Indonesia tapi Kualitas Masih Diabaikan

Rahmat Jiwandono
Kamis 09 April 2026, 18:22 WIB
Ilustrasi ruangan bioskop (Sumber: Unsplash)

Ilustrasi ruangan bioskop (Sumber: Unsplash)

Techvrse.asia - Film-film asli buatan karya anak bangsa kekinian mendominasi layar bioskop, baik secara jumlah penonton atau pun kuantitas, yang jauh melebihi film impor. Sebut saja beberapa film yang saat ini masih tayang di bioskop seperti Senin Harga Naik, Danur, Suzzanna, Tunggu Aku Sukses Nanti, dan Na Willa.

Dominasi tersebut tak sekadar fenomena belaka namun mencerminkan perubahan struktur pasar, strategi industri, hingga pergeseran demografi penonton.

Menurut pengamat perfilman Hikmat Darmawan, film-film nasional yang menunjukkan penguatan, bahkan sebelum sejak pandemi Covid-19 dan lebih menguat lagi setelahnya. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 2019 silam, preferensi untuk menonton film lokal sudah terlihat sejak saat itu.

Baca Juga: Zona Merah Merambah Layar Lebar, Ini Daftar Pemeran Barunya

Data itu menunjukkan bahwa anak Generasi Z dan Milenial (umur 15-30 tahun) sekarang lebih memilih film buatan Indonesia dibandingkan dengan film luar negeri, sedangkan kelompok umur di atas 40 tahun cenderung lebih memilih film Hollywood. Dengan demikian, telah terjadi pergeseran dominasi lokal yang sesungguhnya sudah teridentifikasi sebelum pandemi Covid-19, seiring menguatnya generasi muda sebagai penonton utama bioskop.

"Beberapa laporan industri turut mencatat bahwa pangsa pasar film lokal sekarang sudah konsisten ada di atas 50 persen, bahkan dalam beberapa periode bisa tembus hingga 60 persen lebih dari total penonton bioskop nasional," kata Hikmat.

Pada tahun kemarin, total penonton bioskop untuk film lokal sendiri tembus hingga 80,27 juta penonton atau sekitar 64 persen dari total 124,75 juta penonton bioskop dengan jumlah film yang tayang sebanyak 201 judul. Sementara itu, sisanya menonton film impor dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, China, India, atau Tailan.

Baca Juga: Judul One Piece Season 3 di Netflix Resmi Diumumkan, Tayang Mulai 2027

"Dominasi itu umumnya terjadi di kota-kota besar yang punya bioskop-bioskop modern, seperti Jakarta serta kota-kota dengan mall yang dapat menampung jaringan bioskop seperti CGV, XXI, Cineplex, dan Cinepolis," terang dia.

Hikmat menyatakan bahwa fenomena itu bukan semata karena kualitas film yang dibuat, melainkan pengaruh oleh demografi dan preferensi pasar. Ia juga menekankan bahwa sejatinya dominasi film lokal enggak sepenuhnya mencerminkan kualitas atau keberagaman konten.

Industri perfilman dalam negeri, lanjutnya, sangat dipengaruhi oleh sistem mekanisme pasar dan strategi eksibitor. Para eksibitor bioskop pun memiliki peran gatekeeping, menentukan slot tayang serta jatah layar, jadi film-film tertentu yang biasanya dikerjakan oleh rumah produksi (PH) besar akan mendapatkan kesempatan yang jauh lebih besar baik dalam jumlah layar maupun slor waktu penyangan di musim ramai.

Baca Juga: Dua Alumni UMY Raih Penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia

"Struktur industri perfilman Indonesia saat ini hanya berfokus pada penjualan kursi dari kualitas film itu sendiri. Okupansi dan jumlah layar menjadi indikator utamanya, sehingga strategi pemasarannya juga dan upaya FOMO (fear of missing out) sering dipakai buat menarik perhatian audiens," ujarnya.

Dia mencontohkan, film dengan alokasi layar yang besar mampu mendorong jumlah penonton secara cepat, walau pun kualitas filmnya tak selalu jadi faktor utama. Selain itu, tren genre film yang diusung pun mencerminkan strategi pasar. Dia tak menampik kalau film horor dan komedi masih merajai perfilman nasional.

Hal itu tak lepas dari pola global yang menunjukkan bahwa film horor yang dibuat dengan anggaran tak terlalu besar malah sering mendulang keuntungan yang masif. Seperti film KKN di Desa Penari yang membuktikan tren FOMO serta strategi pemasaran berperan penting dalam mencapai jumlah penonton yang banyak.

Tapi untuk genre seperti aksi, animasi, dan fiksi ilmiah masih terbatas. Penyebabnya ialah kekinian para produser lebih cenderung mengambil risiko kecil dan memilih genre yang dinilai aman secara finansial.

Baca Juga: Dukung Keberlanjutan, Cinema XXI Gandeng TUKR Olah Limbah Minyak Jelantah

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkait Berita Terkini
Startup08 Agustus 2026, 11:20 WIB

McEasy Kantongi Pendanaan Seri B Sebesar Rp120 Miliar

Pendanaan ini bakal dipakai untuk melakukan ekspansinya ke wilayah Asia Tenggara.
Startup logistik McEasy. (Sumber: istimewa)
Techno08 Agustus 2026, 10:55 WIB

AGON Hadirkan 3 Monitor Gaming Baru, Dibekali Performa Laju Penyegaran Tiga Kali Lipat

Dengan fitur ini akan memudahkan untuk bermain gim dengan tuntutan tinggi.
Agon G4 Series. (Sumber: dok. AOC)
Lifestyle07 Agustus 2026, 22:18 WIB

G-SHOCK Hadirkan Gravitymaster GWRB3000, Terinspirasi oleh Penerbangan Supersonik

Seri jam tangan ini terbaru menggabungkan konstruksi canggih dan desain yang terinspirasi dari dunia penerbangan.
G-SHOCK GWRB3000A-2A. (Sumber: Casio)
Techno07 Agustus 2026, 21:56 WIB

Harga dan Spek Lengkap Tecno Megabook T14 Air, Ada 2 Varian Memori

Selain itu perusahaan juga menghadirkan Megabook T1 15.6.
Tecno Megabook T14 Air. (Sumber: Tecno)
Automotive07 Agustus 2026, 21:46 WIB

GIIAS 2026: Teknologi Keselamatan Jadi Medan Persaingan Baru

Mobil masa depan tak lagi sekadar cepat, tetapi mampu mengenali risiko di jalan.
Teknologi keselamatan pada otomotif buatan Bosch. (Sumber: istimewa)
Techno07 Agustus 2026, 21:34 WIB

Sandisk Hadirkan Inovasi NAND untuk Era Inferensi AI di FMS 2026

Sandisk telah menampilkan berbagai produk dan demonstrasi teknologi terbarunya.
Logo Sandisk. (Sumber: Sandisk)
Hobby07 Agustus 2026, 21:27 WIB

Foto-foto Satwa di Taman Safari Jadi Medium untuk Pesan Konservasi

35 tahun IAPVC hubungkan karya visual, konservasi, dan pengalaman wisata satwa.
Foto Elang Jawa hasil jepretan Adhitiya Wibhawa jadi juara pertama IAPVC 2025. (Sumber: Taman Safari)
Techno07 Agustus 2026, 21:14 WIB

Sony FE 100-400MM F5.6-8.OSS Resmi Dijual di Indonesia, Segini Harganya

Lensa Super-Telephoto Zoom yang sempurna untuk penggemar fotografi.
Sony FE 100-400MM F5.6-8 OSS. (Sumber: Sony)
Travel06 Agustus 2026, 17:17 WIB

Paddle Board Bisa Jadi Wisata Alternatif Saat Berkunjung ke Bantul

Wisata Paddle Board di Pantai Baros, daya tarik baru wisata di Kabupaten Bantul.
Paddle Board di Pantai Baros, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Sumber: null)
Techno06 Agustus 2026, 17:16 WIB

Layanan Streaming Samsung HDR10 Plus Advanced akan Tersedia di Prime Video

Layanan tersebut berlaku mulai Agustus 2026 untuk lini Samsung TV terbaru.
Samsung HDR10 Plus Advanced. (Sumber: null)