Kisah Perempuan Desa Penyandingan Mendeteksi Ancaman Sebelum Hutan Adat Rusak

Rahmat Jiwandono
Selasa 04 Agustus 2026, 11:22 WIB
Para perempuan di Desa Penyandingan, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, yang berupaya menjaga hutan dan isinya. (Sumber: null)

Para perempuan di Desa Penyandingan, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, yang berupaya menjaga hutan dan isinya. (Sumber: null)

Techverse.asia - Bagi perempuan Desa Penyandingan, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, sungai yang tiba-tiba keruh setelah hujan deras bukan sekadar perubahan warna air. Kondisi itu dapat menjadi tanda bahwa sesuatu sedang terjadi di bagian hulu Hutan Adat Ghimbe Pramunan.

“Kalau hujan deras dan sungai tiba-tiba keruh, itu tanda dari hulu ada masalah. Biasanya ibu-ibu yang pertama sadar,” ujar Ani Tasria, Ketua KUPS Perempuan Anak Belai sekaligus Sekretaris Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Ghimbe Pramunan.

Hutan Adat Ghimbe Pramunan memiliki luas sekitar 43,7 hektare. Kawasan ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Penyandingan karena menyimpan sumber air, sungai, air terjun, serta berbagai tanaman seperti menyan, medang, kopi, rotan, bambu, dan pisang.

Namun, hutan tersebut tidak terlepas dari ancaman. Praktik penebangan tanpa izin adat masih terjadi, terutama di sekitar wilayah perbatasan. Aktivitas itu dapat meningkatkan risiko pohon tumbang dan longsor ketika musim hujan.

Baca Juga: Desa Wisata Wukirsari Raih Predikat Best Tourism Village oleh UN Tourism 2024

Menghadapi ancaman tersebut, perempuan desa tidak tinggal diam. Mereka ikut memantau kondisi hutan melalui pengamatan langsung terhadap aliran sungai, perubahan fisik kawasan, tanda-tanda penebangan, serta ketersediaan sumber daya alam.

Para Ibu Menjadi Mata dan Telinga Hutan

Pemantauan dilakukan secara terjadwal melalui jalur-jalur tertentu di dalam dan sekitar hutan adat. Temuan mereka dicatat, kemudian dibahas dalam pertemuan bulanan LPHA sebagai dasar untuk menentukan langkah pencegahan maupun penegakan aturan adat.

Selain mengamati kondisi sungai dan pepohonan, kelompok perempuan juga memantau ketersediaan bambu, rotan, serta tanaman pisang. Tujuannya memastikan pemanfaatan sumber daya tersebut tetap berada dalam batas yang dapat dijaga oleh hutan.

“Hutan ini dari dulu sudah dijaga nenek moyang kami. Ada batasannya, ada aturannya. Tidak boleh rusak,” kata Ani.

Baca Juga: Nuanu Kolaborasi dengan Kolektif Seni Independen, Perluas Program Seni Kekinian

LPHA Ghimbe Pramunan memiliki sekitar 39 anggota yang terbagi ke dalam dua kelompok usaha, yaitu KUPS Perempuan Anak Belai dan KUPS Puyang Sure Aek Ghibe Ghimbe Pramunan. Keterlibatan perempuan menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan dan pemantauan kawasan.

Penjagaan tersebut berakar pada sistem adat Semende, termasuk konsep tunggu tubang, yang memberikan hak waris atas kekayaan keluarga kepada anak pertama dengan amanah untuk menjaga dan tidak mengeksploitasinya secara berlebihan.

Setelah Hutan Adat Ghimbe Pramunan memperoleh legalitas melalui Surat Keputusan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, aturan adat diperkuat. Penebangan pohon besar tanpa izin dapat dikenai sanksi, mulai dari teguran hingga kewajiban menyembelih kerbau sesuai ketentuan adat.

Menjaga Hutan Juga Harus Memberikan Penghidupan

Bagi masyarakat Desa Penyandingan, perlindungan hutan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan memperoleh penghasilan. Karena itu, perempuan desa mulai mencari cara memanfaatkan hasil alam tanpa membuka atau merusak hutan.

Baca Juga: 7 Hutan Mangrove untuk Dikunjungi, Supaya Siangmu Terasa Sejuk

Pada 2023, mereka membentuk KUPS Perempuan Anak Belai. Kelompok ini beranggotakan 24 ibu rumah tangga dan 10 perempuan lansia yang memiliki keterampilan mengolah pangan serta membuat anyaman bambu.

Pisang kemudian dipilih sebagai salah satu tanaman strategis untuk dikembangkan di lahan agroforestri dan konservasi. Tanaman tersebut dinilai relatif cepat dipanen, dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk, dan tidak membutuhkan pembukaan hutan.

Hingga kini, kelompok perempuan bersama LPHA Ghimbe Pramunan, pemerintah desa, KPH Wilayah VII Semende, dan dinas terkait telah menanam sekitar 100 pohon pisang pada lahan agroforestri seluas satu hektare. Kegiatan tersebut dilakukan dengan pendampingan PINUS Sumatera Selatan.

Baca Juga: Masyarakat Adat Iban Sadap, Merawat Alam dan Tradisi Melalui Tenun

Pisang yang dihasilkan kemudian diolah menjadi keripik bernama Love Bana. Sebelumnya, keripik tersebut hanya dibuat untuk kebutuhan keluarga, tamu, atau kegiatan desa dengan peralatan dan kemasan sederhana.

Pendampingan PINUS Sumatera Selatan membantu kelompok memperbaiki proses produksi dan konsistensi mutu, sekaligus memperkuat kelembagaan, administrasi, pembagian peran, serta pengurusan NIB, PIRT, dan sertifikasi halal.

Penggunaan pisau tradisional yang disebut kuduk dan anak belati tetap dipertahankan sebagai bagian dari pengetahuan dan budaya setempat.

“Kami tidak hanya membantu warga membuat produk jadi, tetapi juga mendampingi prosesnya agar perempuan percaya diri, punya posisi dalam pengambilan keputusan, dan usahanya berkelanjutan,” ujar Direktur PINUS Sumatera Selatan, Yunita Sari.

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkini
Startup08 Agustus 2026, 11:20 WIB

McEasy Kantongi Pendanaan Seri B Sebesar Rp120 Miliar

Pendanaan ini bakal dipakai untuk melakukan ekspansinya ke wilayah Asia Tenggara.
Startup logistik McEasy. (Sumber: istimewa)
Techno08 Agustus 2026, 10:55 WIB

AGON Hadirkan 3 Monitor Gaming Baru, Dibekali Performa Laju Penyegaran Tiga Kali Lipat

Dengan fitur ini akan memudahkan untuk bermain gim dengan tuntutan tinggi.
Agon G4 Series. (Sumber: dok. AOC)
Lifestyle07 Agustus 2026, 22:18 WIB

G-SHOCK Hadirkan Gravitymaster GWRB3000, Terinspirasi oleh Penerbangan Supersonik

Seri jam tangan ini terbaru menggabungkan konstruksi canggih dan desain yang terinspirasi dari dunia penerbangan.
G-SHOCK GWRB3000A-2A. (Sumber: Casio)
Techno07 Agustus 2026, 21:56 WIB

Harga dan Spek Lengkap Tecno Megabook T14 Air, Ada 2 Varian Memori

Selain itu perusahaan juga menghadirkan Megabook T1 15.6.
Tecno Megabook T14 Air. (Sumber: Tecno)
Automotive07 Agustus 2026, 21:46 WIB

GIIAS 2026: Teknologi Keselamatan Jadi Medan Persaingan Baru

Mobil masa depan tak lagi sekadar cepat, tetapi mampu mengenali risiko di jalan.
Teknologi keselamatan pada otomotif buatan Bosch. (Sumber: istimewa)
Techno07 Agustus 2026, 21:34 WIB

Sandisk Hadirkan Inovasi NAND untuk Era Inferensi AI di FMS 2026

Sandisk telah menampilkan berbagai produk dan demonstrasi teknologi terbarunya.
Logo Sandisk. (Sumber: Sandisk)
Hobby07 Agustus 2026, 21:27 WIB

Foto-foto Satwa di Taman Safari Jadi Medium untuk Pesan Konservasi

35 tahun IAPVC hubungkan karya visual, konservasi, dan pengalaman wisata satwa.
Foto Elang Jawa hasil jepretan Adhitiya Wibhawa jadi juara pertama IAPVC 2025. (Sumber: Taman Safari)
Techno07 Agustus 2026, 21:14 WIB

Sony FE 100-400MM F5.6-8.OSS Resmi Dijual di Indonesia, Segini Harganya

Lensa Super-Telephoto Zoom yang sempurna untuk penggemar fotografi.
Sony FE 100-400MM F5.6-8 OSS. (Sumber: Sony)
Travel06 Agustus 2026, 17:17 WIB

Paddle Board Bisa Jadi Wisata Alternatif Saat Berkunjung ke Bantul

Wisata Paddle Board di Pantai Baros, daya tarik baru wisata di Kabupaten Bantul.
Paddle Board di Pantai Baros, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Sumber: null)
Techno06 Agustus 2026, 17:16 WIB

Layanan Streaming Samsung HDR10 Plus Advanced akan Tersedia di Prime Video

Layanan tersebut berlaku mulai Agustus 2026 untuk lini Samsung TV terbaru.
Samsung HDR10 Plus Advanced. (Sumber: null)