Techverse.asia - Mastercard dan CrescentRating pada Jumat (26/6/2026) resmi merilis edisi ke-11 Global Muslim Travel Index 2026 (GMTI 2026), yang menyoroti peran kecerdasan buatan (AI), kepercayaan digital, mobilitas regional, dan kesiapan destinasi dalam membentuk fase berikutnya dari perjalanan ramah Muslim.
Laporan tersebut mencatat bahwa 80 persen wisatawan kini menggunakan alat berbasis kecerdasan buatan untuk keperluan perjalanan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perubahan besar dalam cara mereka mencari informasi, menilai pilihan, dan merencanakan perjalanan.
Baca Juga: Sentosa Memperkenalkan Petualangan Pulau Ajaib Bersama Disney Cruise Line
Seiring pergeseran dari pencarian manual ke pengambilan keputusan berbasis AI, destinasi perlu memastikan layanan yang ramah Muslim tidak hanya tersedia, tetapi juga mudah ditemukan secara digital.
Indonesia terus berkembang sebagai destinasi multikultural terdepan dengan memadukan pengalaman spiritual yang kaya, pesona alam yang memukau, dan teknologi smart tourism generasi baru.
Didukung oleh berbagai inisiatif pemangku kepentingan serta upaya komunitas berbasis digital, destinasi ini juga telah meningkatkan sektor wisata halalnya secara signifikan dengan memanfaatkan platform canggih agar perjalanan berbasis nilai keIslaman lebih mudah diakses dan lebih personal.
Melalui pendekatan berbasis teknologi ini, Indonesia memadukan kebutuhan perjalanan berbasis nilai keIslaman dengan beragam penawaran rekreasi yang menarik, sekaligus menghadirkan pengalaman yang aman, nyaman, dan modern bagi seluruh wisatawan Muslim.
Baca Juga: Australia Barat Tawarkan Pengalaman Liburan yang Ramah bagi Umat Muslim
GMTI 2026 mengevaluasi 150 destinasi yang mewakili lebih dari 98 persen kedatangan wisatawan Muslim global, berdasarkan kerangka ACES: Access (Akses), Communications (Komunikasi), Environment (Lingkungan), and Services (Layanan).
Edisi terbaru ini juga memperkenalkan focus yang lebih kuat pada kesiapan teknologi AI, visibilitas digital, infrastruktur destinasi pintar, kepercayaan wisatawan, serta perencanaan ketahanan di tengah lingkungan global yang semakin volatil.
Perencanaan perjalanan kini memasuki era baru, di mana perangkat digital tidak lagi sekadar hadir untuk memudahkan, melainkan menjadi bagian dari sumber tepercaya bagi wisatawan.
Baca Juga: Potensi Wisata Halal Indonesia Mencapai Miliaran Dolar, 2 Faktor Ini Harus Diperbaiki
Platform berbasis AI kini dapat membantu wisatawan untuk mengidentifikasi pilihan tempat makan halal, lokasi ruang Salat, membandingkan rute transportasi, menerima rekomendasi yang dapat dipersonalisasi, serta menelusuri destinasi dengan lebih yakin.
Perubahan ini sangat penting bagi wisatawan Muslim yang kerap perlu memastikan sejumlah kebutuhan berbasis nilai keIslaman sebelum dan selama perjalanan. GMTI 2026 menyoroti bahwa destinasi yang tidak mendigitalisasi dan menata penawaran ramah Muslim berpotensi luput dari sistem rekomendasi berbasis AI, meski memiliki infrastruktur fisik yang memadai.
Indonesia merupakan salah satu negara yang merespons perkembangan tersebut dengan cepat. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia secara resmi memperkenalkan Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA).
Teknologi tersebut merupakan asisten digital berbasis kecerdasan buatan yang berguna untuk membantu wisatawan menyusun itinerary perjalanan. MaiA tersedia di situs Indonesia.Travel dan hadir dengan fitur chatbox yang memudahkan pembuatan rencana perjalanan yang lebih personal.
Baca Juga: Laporan Indeks Daya Saing Digital 2026 Soroti Fase Transformasi Digital Indonesia
Melalui integrasi AI ke dalam platform pariwisata resmi, Indonesia memperkuat kendali atas kualitas informasi, meningkatkan personalisasi, dan memastikan penawaran ramah Muslim menjadi lebih mudah ditemukan serta diakses sejak awal proses perencanaan perjalanan.
Dalam lanskap baru ini, persaingan bergeser dari sekadar ketersediaan layanan menjadi visibilitas algoritmik. Destinasi yang menjadikan informasi mudah dibaca mesin, mutakhir, dan tersedia sesuai konteks akan lebih berpeluang mengubah niat perjalanan menjadi kunjungan nyata.
“Perjalanan wisata Muslim kini mengalami pergeseran yang ditopang oleh kepercayaan digital, kemudahan akses, serta kebutuhan akan kepastian yang lebih besar di setiap tahap perjalanan,” ujar Aisha Islam, Senior Vice President, Customer Solutions Center, Asia Tenggara, Mastercard.
Baca Juga: Nikmati Pengalaman Kuliner bersama Program Asia Gourmet Circle Mastercard
Menurut Aisha, ketika AI semakin terintegrasi dengan perencanaan perjalanan, destinasi dan pelaku bisnis perlu memastikan informasi terpercaya, sistem pembayaran yang aman, serta layanan ramah Muslim semakin lebih mudah ditemukan dan dimanfaatkan.
“Bagi Asia Tenggara, ini menjadi peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai koridor perjalanan yang terhubung, inklusif, dan didukung teknologi digital,” katanya.