Techverse.asia - X/Twitter belum lama ini telah meluncurkan fitur baru bernama "Tentang akun ini (about this account)" yang kalau diklik akan menampilkan lebih banyak informasi tentang akun pengguna.
Baca Juga: Spotify Wrapped 2025 Tambahkan Selusin Fitur Baru, Apa Saja?
Tak hanya menampilkan informasi tentang akun tersebut, namun juga termasuk lokasinya, berapa kali akun tersebut mengubah nama penggunanya, tanggal awal bergabung, hingga bagaimana pengguna mengunduh aplikasi X.
Informasi baru ini dihadirkan dengan tujuan untuk mengurangi interaksi yang tidak autentik di pelantar atau platform, di mana bot sering kali berpura-pura menjadi manusia - sebuah masalah yang bisa semakin sulit diatasi di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Media sosial milik Elon Musk untuk menghadirkan fitur ini sebenarnya pertama kali diumumkan pada Oktober 2025, ketika Kepala Produk di X, Nikita Bier menyebut merema bereksperimen dengan menampilkan informasi ini di profil, dimulai dengan akunnya sendiri dan profil karyawan X.
Idenya adalah, dengan mengungkap detail ini, maka pengguna X akan dapat membuat keputusan yang lebih tepat tentang apakah mereka berinteraksi dengan akun yang autentik atau apakah akun tersebut bot atau pelaku kejahatan yang ingin menyebarkan perselisihan atau misinformasi.
Baca Juga: Berkonflik dengan Uni Eropa, Mantan Karyawan Twitter Peringatkan Elon Musk
Misalnya, jika informasi di bio akun X mengklaim pengguna berasal dari negara bagian di Amerika Serikat (AS), tetapi informasi akun mereka menunjukkan bahwa mereka berbasis di luar negeri, pengguna patut curiga mereka punya agenda lain. Sejak fitur itu tersedia, semakin banyak orang yang melihat fitur about this account di banyak profil orang.
Untuk dapat melihat informasi akun kamu maupun oramg lain di web atau di aplikasi seluler X/Twitter, caranya klik tanggal "Bergabung (joined)" di profilmu.
Dari sini, kamu selanjutnya akan diarahkan ke halaman yang menampilkan tanggal kapan bergabung dengan Twitter/X, lokasi akun, berapa banyak perubahan nama pengguna yang telah dilakukan dan kapan terakhir kali, serta bagaimana seseorang terhubung ke X - misalnya melalui App Store atau Google Play Store.
Selain itu, pengguna yang mengakses X/Twitter melalui VPN mungkin memiliki pernyataan di profil mereka yang berbunyi, "Negara atau wilayah mungkin tidak akurat." Bier pun sebelumnya pernah mengatakan bakal ada "tombol privasi" yang akan disorot di profil pengguna jika mereka memilih untuk mengaktifkannya.
Baca Juga: X Gunakan Grok AI untuk Merangkum Berita dan Menempatkannya di Stories
Secara khusus, X memungkinkan pengguna untuk menyesuaikan apakah fitur tersebut menampilkan negara mereka atau hanya menampilkan wilayah geografis mereka.
Awalnya, ini akan menjadi opsi di wilayah di mana kebebasan berbicara dapat dikenakan sanksi, tetapi ditemukan bahwa bahkan pengguna di AS dapat memilih untuk mengatur profil mereka agar menampilkan negara atau wilayah/benua mereka.
Untuk melakukan perubahan, kamu dapat mengakses pengaturan "Tentang akun Anda" di bawah pengaturan "Privasi dan Keamanan" aplikasi X.
X sejatinya bukanlah pelantar media sosial pertama yang menyediakan tingkat transparansi ini kepada pengguna. Ia cuma mengikuti jejak platform lainnya, seperti yang telah terlihat pada transparansi halaman Facebook dan akun tentang ini milik Instagram yang serupa.
Baca Juga: Alamat Web Twitter Sekarang Resmi Menjadi X.com
Meski demikian, terdapat hal ganjil pada fitur tersebut, misal akun X/Twitter milik Edward Snowden yang sama sekali tidak menampilkan detail yang disebutkan di atas. Saat mengklik 'about this account' pada profilnya, hanya muncul tanggal dia bergaung dan kapan akunnya mendapat centang biru.
Tidak ada keterangan tentang lokasinya serta informasi terhubungnya melalui web, bukan Google Play Store atau App Store. Menurut penjelasan dari chatbot Grok, informasi tersebut tak tersedia karena 'alasan tertentu' mengingat faktor keamanan Snowden.
Informasi, Edward Joseph Snowden, lahir pada 21 Juni 1983 di North Carolina, AS, adalah mantan kontraktor intelijen dan whistleblower Badan Keamanan Nasional (NSA) AS yang membocorkan dokumen rahasia yang mengungkapkan keberadaan program pengawasan global.













