Jangan Asal Minum Obat, Kenali Efek Sampingya Terhadap Kulit

Rahmat Jiwandono
Jumat 24 Maret 2023, 19:12 WIB
Ilustrasi efek samping obat pada kulit. (Sumber : freepik)

Ilustrasi efek samping obat pada kulit. (Sumber : freepik)

Techverse.asia - Meningkatnya penggunaan obat-obatan, baik karena pengobatan sendiri (self-medication), polifarmasi pada lansia, maupun peningkatan kasus HIV/AIDS diperkirakan akan meningkatkan kejadian efek samping obat (ESO). Kulit merupakan salah satu organ yang paling sering terkena efek samping obat.

Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan bahwa manifestasi ESO pada kulit merupakan manifestasi yang tersering sekitar 35% diikuti dengan gejala sistemik sekitar 20%, dan saluran cerna sekitar 17%. Sayangnya, data ESO, terutama manifestasinya pada kulit, dalam skala nasional hingga saat ini belum ada.

Begitu pula data monitoring efek samping obat (MESO) yang dirintis oleh BPOM masih belum mencerminkan keadaan sebenarnya. Selain itu, manifestasi ESO pada populasi khusus seperti populasi imunokompromais, anak, maupun geriatri belum dilaporkan dengan baik.

Hal ini juga dikaitkan dengan konsumsi bahan obat lebih banyak, baik yang diresepkan dokter atau dibeli sendiri. Efek samping pada kulit akibat tindakan kemoterapi, radioterapi, maupun radiodiagnostik juga semakin sering dijumpai.

Kondisi ini mendorong Departemen Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) cabang Yogyakarta mengadakan simposium dan workshop. Kegiatan yang mengangkat tema “Updates on Adverse Cutaneous Drug Reactions: From Basic to Clinic” ini diselenggarakan pada tanggal 17-19 Maret 2023 dalam rangka rangkaian acara Dies Natalis ke-77 FKKMK UGM.

Ketua panitia kegiatan, dr. Sri Awalia Febriana, M.Kes, Sp.KK(K), Ph.D., menyampaikan tentang pentingnya penerapan pharmacovigilance untuk menjamin keamanan obat yang beredar. Indonesia saat ini tengah berada  dalam tahap mempersiapkan registri nasional dengan nama InaSCAR (Indonesian severe cutaneous adverse reactions) yang akan menjadi pusat data epidemiologi, diagnostik, manajemen, dan prognostik.

Selain registri nasional tersebut, diharapkan juga mulai terbentuk support group pasien dengan kondisi yang sama, seperti komunitas lupus yang merupakan support group untuk pasien dengan penyakit autoimun lupus eritematosus. Dengan adanya support group pada ESO, pasien dapat saling berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai gejala dan dampak pada kualitas hidup pasien dengan ESO.

Sri Awalia menjelaskan, klasifikasi ESO terbaru dibagi menjadi dua tipe reaksi, yaitu reaksi tipe A (on-target) dengan efek samping yang umum ditemukan dan dapat diprediksi, seperti yang sudah tercantum dalam kemasan obat yang sudah beredar, dan reaksi tipe B (off-target) dengan efek samping yang tidak umum dan tidak dapat diprediksi, seperti hipersensitivitas obat

Sementara manifestasi klinis ESOK dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang ringan/tidak mengancam jiwa dan berat/mengancam jiwa. Kelompok ESOK dengan manifestasi ringan adalah erupsi makulopapular, urtikaria, dan erupsi obat fikstum, sedangkan kelompok ESOK dengan manifestasi berat adalah SSJ-NET, AGEP, dan DRESS. Efek samping obat pada kulit dapat terjadi dimulai dari hitungan jam hingga beberapa bulan setelah konsumsi obat yang dicurigai.

Sebagian besar ESOK bersifat ringan, tetapi sekitar 1 dari 1000 pasien dapat mengalami gejala yang berat dan mengancam jiwa,” jelasnya, Jumat (24/3/2023).

Lebih lanjut ia memaparkan, dari data yang dikumpulkan dari beberapa rumah sakit pendidikan di Indonesia dari tahun 2015-2017 menunjukkan bahwa 67% dari ESOK terjadi pada pasien dewasa berusia 19-54 tahun, diikuti oleh lansia berusia lebih dari 55 tahun, dan anak-anak berusia 0-18 tahun.

Dalam mendiagnosis, ESOK dapat ditegakkan dengan penggalian riwayat kesehatan, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan histopatologi, dan pemeriksaan penunjang lain. Uji tusuk merupakan pemeriksaan penunjang yang paling sering digunakan untuk menunjang diagnosis.

ESOK pada lanjut usia dipengaruhi oleh komorbiditas, faktor lingkungan, dan juga faktor sosial yang juga bergantung pada jenis kelamin, status imun, serta genetik pasien. Kondisi usia lanjut juga memperberat ESOK karena penggalian riwayat kesehatan pasien yang lebih kompleks dan pasien seringkali mengonsumsi banyak obat (polifarmasi) yang sering terjadi sehingga dapat menjadi tantangan dalam pengobatan. 

Sementara itu, sebagian besar dari ESOK pada anak disebabkan oleh obat anti-infeksi. Pada umumnya, tanda klinis pada anak yang disebabkan oleh ESO dapat berupa muntah, ruam kulit, pusing, dan diare.

Diagnosis dini, penghentian obat yang menyebabkan ESOK berat, serta edukasi kepada orang tua dan pengasuh sangat krusial dalam tatalaksana kasus ESOK pada anak. Penegakan diagnosis ESOK pada anak terutama disebabkan karena manifestasi klinis yang dapat menyerupai ruam karena infeksi virus.

Dalam simposium tersebut turut dibahasa beberapa obat yang digunakan untuk pengobatan penyakit HIV  dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas obatSelain itu, juga meningkatkan risiko terjadinya adverse reactions, salah satunya alergi.  

Efek samping obat pada kulit juga dapat terjadi pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi akibat politerapi. Setiap obat kemoterapi dapat memiliki efek samping dengan tanda klinis yang berbeda-beda, seperti kerontokan rambut, kulit yang menjadi kehitaman, kuku yang menjadi kehitaman, peradangan mukosa, dan kulit kering.

Follow Berita Techverse.Asia di Google News
Berita Terkini
Automotive29 April 2026, 18:21 WIB

Wuling Resmi Umumkan Harga untuk Eksion, Hadir dengan 2 Varian

SUV 7-seater terbaru Wuling yang memadukan Superior Comfort, Ultra-high Efficiency, dan Versatile Safety.
Wuling Eksion.
Automotive29 April 2026, 17:48 WIB

Pre-order Omoway Omo X di Indonesia Resmi Dibuka, Tersedia 2 Varian

Sepeda motor listrik dibanderol mulai dari Rp44,5 juta plus subsidi eksklusif Rp9 juta dan garansi baterai 7 tahun.
Omoway Omo X.
Techno29 April 2026, 17:16 WIB

Huawei FreeBuds Pro 5 Dijual di Indonesia, Ada 4 Kelir

TWS tersebut resmi diluncurkan dengan peredam bising aktif dan audio lossless.
Huawei FreeBuds Pro 5. (Sumber: Huawei)
Techno29 April 2026, 16:01 WIB

Sennheiser Meluncurkan Headphone HD 480 Pro dengan Desain Tertutup

Respons frekuensi rendah yang akurat dan kenyamanan maksimal untuk perekaman dan pemantauan profesional.
Sennheiser HD 480 Pro. (Sumber: Sennheiser)
Techno29 April 2026, 15:36 WIB

Instagram Sedang Menguji Instants, Aplikasi Berbagi Foto yang akan Menghilang

Instants meluncurkan aplikasi baru di Italia dan Spanyol minggu lalu.
Bocoran aplikasi Instants yang tengah digodok Instagram. (Sumber: Meta)
Techno29 April 2026, 14:20 WIB

Harga dan Spesifikasi Infinix GT 50 Pro, Dibekali Mechanical Light Waves

Gawai ini memperkenalkan Arsitektur Pendinginan Cair HydroFlow, mesin termal khusus yang dirancang untuk mengatasi masalah panas berlebih.
Infinix GT 50 Pro. (Sumber: Infinix)
Lifestyle29 April 2026, 13:43 WIB

Casio G-LIDE Hadir dengan Fitur Pemantauan Detak Jantung dan Grafik Pasang Surut

Jam Tangan G-LIDE Sangat Cocok untuk Olahraga Ekstrem.
Casio G-LIDE GBX-H5600 tersedia dalam dua warna. (Sumber: Casio)
Lifestyle29 April 2026, 13:06 WIB

Survei: 56% Karyawan Enggak Punya Dana Darurat

Stres Finansial Jadi “Biaya Tersembunyi” Perusahaan.
Ilustrasi dana darurat. (Sumber: bank jago)
Techno28 April 2026, 18:54 WIB

Sony Inzone M10S II: Monitor Gaming QHD untuk Gim FPS

Monitor ini dikembangkan bersama tim e-sports ternama global, Fnatic.
Sony Inzone M10S II. (Sumber: Sony)
Startup28 April 2026, 18:38 WIB

Bybit Beri Modal Seri A ke Hata Sebesar US$ 8 Juta, Ini 3 Fokus Utamanya

Pendanaan tersebut juga melibatkan sejumlah family office global yang berfokus pada sektor teknologi dan pasar keuangan di Asia Tenggara.
Para pendiri startup Hata. (Sumber: istimewa)