Techverse.asia - Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan kesiapan menjadi mitra dalam penjajakan program pengembangan ekosistem kebudayaan dan ekonomi kreatif yang ditawarkan Korea International Cooperation Agency (KOICA) Indonesia.
Dalam penjajakan tersebut, Dinas Kebudayaan DIY mengajukan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) sebagai hub atau simpul pengembangan talenta kebudayaan dan industri kreatif. TBY sendiri terletak di Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY.
Baca Juga: Yogyakarta Gamelan Festival 2025 Pertama Kali Digelar di Taman Budaya Embung Giwangan
Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda DIY, Aria Nugrahadi mengatakan bahwa jawatannya siap menjadi mitra aktif dalam penjajakan kerja sama tersebut. Menurutnya, kerja sama perlu dibangun atas dasar saling memahami, saling percaya, dan kesamaan tujuan.
“Dengan modal kebudayaan, sumber daya manusia serta ekosistem kolaboratif, Daerah Istimewa Yogyakarta siap menjadi mitra yang aktif dan berkomitmen dalam pelaksanaan kerja sama ini,” katanya baru-baru ini kami kutip.
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan bahwa TBY diusulkan tidak hanya menjadi tempat kegiatan kebudayaan dan industri kreatif. TBY juga diarahkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan talenta kebudayaan dan industri kreatif di DIY.
Baca Juga: Main Biliar Bisa Sesekali di Mall, Karena Ada 911 Billiard di Sleman City Hall
Menurut Dian, pengelolaan tersebut dilakukan secara terarah, berkelanjutan, dan berbasis data. “Kami mengusulkan Taman Budaya Yogyakarta sebagai satu hub atau simpul utama yaitu sebagai titik temu, titik tumbuh dan titik laju talenta kebudayaan dan industri kreatif Daerah Istimewa Yogyakarta,” papar Dian.
Pengelolaan tersebut dimulai dari menemukan dan mengidentifikasi potensi, mengembangkan kompetensi, membangun karier, memberikan kesempatan berkarya, memperluas jejaring dan mobilitas, memberikan rekognisi, hingga mempertahankan dan meregenerasi talenta kebudayaan.
Konsep tersebut juga diarahkan untuk mempertemukan talenta dengan kesempatan yang lebih luas di tingkat nasional maupun global. Dian menyatakan, konsep tersebut menempatkan talenta manusia sebagai bagian utama dalam pengembangan ekosistem kebudayaan dan industri kreatif.
“Yogyakarta 2.0 sesungguhnya merupakan perubahan paradigma dari membangun ruang menuju membangun perjalanan talenta,” ujarnya.
Baca Juga: Inovatif, Mie Lethek Khas Bantul Kini Tersedia dalam Bentuk Kemasan
Oleh karena itu, Pemda DIY ingin mengambil peran aktif dalam kerja sama yang tengah dijajaki. “Saya tidak ingin hanya menjadi penerima bantuan, tetapi kami ingin menjadi co-investor dan co-creator,” tuturnya.
Program Officer KOICA Indonesia, Nurul Hafizah menjelaskan, program Indonesia Culture and Creative Economy Ecosystem yang ditawarkan KOICA diarahkan untuk mengeksplorasi pemanfaatan aset kebudayaan dan potensi ekonomi kreatif. Program tersebut ditujukan untuk mendukung ekosistem kebudayaan dan industri kreatif yang lebih berkelanjutan.
Program tersebut diperkirakan bernilai sekitar 10 juta dolar AS. Namun, Nurul mengatakan nilai tersebut masih bergantung pada kebutuhan dan kesiapan Pemda DIY serta pemerintah pusat, sementara saat ini program masih berada dalam tahap penjajakan dan selanjutnya akan melalui proses evaluasi.
Sementara, Country Director KOICA Indonesia, Kim Jin-hee mengatakan, proses prefeasibility study kali ini melibatkan perwakilan dari berbagai lembaga dan pakar dari sejumlah bidang. Keterlibatan tersebut dilakukan untuk melihat kemungkinan pelaksanaan program di Yogyakarta.
Baca Juga: ICS 2026: Ratusan Karya Custom Unjuk Gigi di Yogyakarta
Ia menyebut, keterlibatan banyak pihak dalam penjajakan ini menunjukkan besarnya keinginan KOICA agar program dapat berjalan. “Di tahap awal seperti ini kita tidak bisa langsung mengucapkan bahwa kita akan menjalankan projek ini karena masih banyak variabel yang bisa terjadi,” ujarnya.
Penjajakan tersebut akan dilanjutkan dengan penyusunan Project Concept Paper (PCP) bersama Bappenas yang ditargetkan selesai pada Oktober 2026. Jika lolos proses evaluasi, tahapan berikutnya berupa feasibility study dan in-depth study akan dilakukan pada 2027, dengan target penandatanganan dokumen kerja sama pada 2028.