Techverse.asia - Gelaran Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026 bakal hadir dengan format anyar, apabila tahun-tahun sebelumnya acara ini cuma berlangsung satu malam saja, namun kini akan dilaksanakan selama satu minggu penuh.
"WJNC 2026 pelaksanaannya tidak lagi satu malam, melainkan rangkaian kegiatan selama sepekan lewat konsep WJNC Fest," terang Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Pakar Bilang Lebaran Kekinian Menjadi Momen untuk Pamer
Konsep tersebut, lanjutnya, bertujuan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas pergerakan ekonomi di Kota Yogyakarta. Dengan begitu, wisatawan tak cuma datang saat acara puncak saja, tapi juga bisa tinggal lebih lama.
"Dampaknya yakni ke UMKM dan pelaku usaha lokal, bukan hanya di sektor pariwisata saja," ujarnya.
Rangkaian WJNC Fest itu juga ikut melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), mulai dari sektor perdagangan, perindustrian, hingga koperasi dan UMKM, untuk mendorong perputaran ekonomi di masyarakat.
"Kolaborasi ini kami harapkan dapat menggerakkan ekonomi secara menyeluruh, sekaligus memperkuat posisi WJNC sebagai event yang tak cuma memiliki unsur budaya, namun juga punya dampak ekonomi," katanya.
Baca Juga: Gejala-gejala Kanker Ginjal, Begini Upaya Pencegahannya
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan bahwa WJNC tahun ini harus melampaui sekadar tontonan dan mampu menjadi tuntunan, utamanya dalam menyampaikan pesan tentang lingkungan dan pengelolaan sampah.
Kekuatan utama WJNC ada di wayang sebagai medium budaya yang sarat akan nilai. Oleh karenanya, politisi PDI Perjuangan ini mendorong supaya pesan-pesan yang diangkat tak berhenti pada visual karnaval saja, namun juga membentuk kesadaran dan perilaku warga.
"Wayang itu bukan cuma sekadar tontonan, namun juga tuntunan dan tatanan. Jika cuma menghadirkan penonton tapi tak ada hikmah yang bisa diambil, maka kami baru berhasil pada aspek tontonan saja," katanya.
Baca Juga: Ulang Tahun Kota Jogja ke-266: Wayang Jogja Night Carnival Digelar Secara Luring
Dia menekankan bahwa isu lingkungan harus diterjemahkan secara konkret dalam narasi pertunjukkan. Nilai-nilai yang diangkat pun perlu menyentuh aspek kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya untuk menjaga kebersihan dan keteraturan kota.
Ia berharap, setelah menyaksikan WJNC 2026, masyarakat tak cuma terhibur, tetapi juga sadar akan pentingnya pengelolaan sampah, kebersihan, dan keteraturan. Selain itu, ada tantangan dalam mengemas wayang supaya tetap relevan dengan generasi masa kini.
"Saya meminta kepada para kreator mampu mentransformasikan bahasa pewayangan menjadi lebih kontekstual tanpa kehilangan nilai dasarnya. PR besarnya ialah bagaimana budaya itu dapat diterjemahkan dan diadopsi oleh generasi sekarang. Jangan sampai terputus," ujarnya.
Baca Juga: Gerai Pop Mart Hadir di Pulau Bali, Tampilkan Unsur Budaya Lokal
Hasto juga mengaitkan pesan lingkungan dalam gelaran WJNC tahun ini dengan cita-cita Kota Yogyakarta yang tertib, bersih, dan berkelanjutan. Karnaval tersebut harus menjadi media dukasi publik yang efektif dalam membangun budaya anyar, tak terkecuali kesadaran kolektif akan pengelolaan sampah.
"Jika orang selesai menonton kemudian punya kesadaran untuk hidup lebih tertib dan menjaga lingkungan setelah menonton WJNC, maka di situlah acara ini berhasil menjadi tuntunan," katanya.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Destinasi Wisata di Sumbawa, Wisata Alam hingga Wisata Budaya