Techverse.asia - Tekanan finansial karyawan di Indonesia bukan lagi masalah pribadi karyawan, namun menjadi risiko bisnis. Survei terbaru dari Finetiks sebagai pelantar pengelolaan keuangan pribadi menunjukkan bahwa Survei terbaru dari Finetiks sebagai pelantar pengelolaan keuangan pribadi, mengungkapkan bahwa 56 persen karyawan profesional tidak memiliki dana darurat yang memadai, sementara 72 pelantar mengaku kondisi finansial mereka berdampak langsung pada performa kerja.
Temuan ini semakin memperkuat urgensi bagi perusahaan untuk memandang financial wellness atau kesehatan finansial karyawan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekedar benefit tambahan. Survei lintas industri dilakukan sepanjang Desember 2025 hingga Maret 2026 ini mencakup sektor teknologi, pendidikan, media digital, kreatif, dan teknologi finansial (fintech), serta mengungkap pola yang konsisten di sektor lainnya.
Cameron Goh sebagai CEO Finetiks mengungkapkan, kesehatan finansial karyawan tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan pribadi saja, namun juga berisiko bagi bisnis.
Baca Juga: Crunchyroll Ani-May: Perayaan Anime Global di Berbagai Platform Streaming, Gim, dan Ritel
“Kesehatan finansial karyawan seringkali dipandang sebagai urusan pribadi, padahal dampaknya sangat terasa dalam operasional bisnis sehari-hari, mulai dari produktivitas hingga kualitas pengambilan keputusan. Alhasil, kesehatan finansial karyawan menjadi risiko bisnis “tersembunyi” yang dampaknya bisa signifikan,” ujarnya pada Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, survei ini juga menunjukkan bahwa tekanan finansial telah menjadi bagian dari keseharian banyak karyawan. Sekitar 58 persen responden mengaku harus menunda kebutuhan penting akibat keterbatasan arus kas, sementara 51 persen masih memiliki utang konsumtif aktif, termasuk PayLater, kartu kredit, dan pinjaman online.
Di sisi lain, tingginya kesadaran akan masalah ini tercermin dari 93 persen responden yang menyatakan kebutuhan akan program financial wellness dari perusahaan. Dampaknya terhadap perusahaan tidak bisa diabaikan. Karyawan yang mengalami tekanan finansial cenderung menghadapi kesulitan dalam berkonsentrasi, mengambil keputusan, hingga berkolaborasi secara optimal.
“Dalam banyak kasus, kondisi ini memicu fenomena “presenteeism”, di mana karyawan tetap hadir bekerja namun tidak sepenuhnya produktif. Dalam jangka panjang, situasi ini juga berpotensi meningkatkan risiko turnover yang menciptakan biaya produktivitas tersembunyi yang tidak terlihat dalam laporan kinerja, serta tidak tercapainya target perusahaan akibat rendahnya produktivitas,” katanya.
Menariknya, pola ini ditemukan secara konsisten di berbagai industri. Di sektor kreatif, seluruh responden atau 100 persen mengaku mengalami stres finansial, sementara sektor pendidikan mencatat tingkat utang konsumtif tertinggi sebesar 69 persen. Sektor media digital juga menunjukkan tingkat tekanan yang tinggi dengan 74 persen responden terdampak.
Bahkan di sektor fintech yang memiliki literasi keuangan relatif lebih baik, tekanan finansial tetap ditemukan, menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup tanpa sistem dan kebiasaan finansial yang kuat. Di sektor teknologi sendiri, sekitar 50 persen karyawan tercatat masih memiliki utang konsumtif aktif, terutama di kalangan millennial.
Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan terhadap financial wellness perlu bergeser dari sekadar edukasi menjadi solusi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Finetiks menilai bahwa program yang efektif harus mampu mendorong perubahan perilaku finansial, mulai dari pengelolaan cash flow, pembentukan dana darurat, hingga implementasi sistem tabungan otomatis dan pendampingan jangka panjang.
“Perusahaan yang mengintegrasikan financial wellness sebagai bagian dari strategi human capital akan memiliki keunggulan dalam menjaga produktivitas dan loyalitas karyawan di tengah tekanan ekonomi yang semakin kompleks,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Finetiks menghadirkan pendekatan berbasis program, MONEY BOSS: Employee Financial Wellness Program, tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membantu karyawan mengimplementasikan strategi keuangan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Atur Keuanganmu, Persiapkan Masa Depanmu














