Etika Bermedia Sosial, Mengumbar Privasi Orang Lain Tak Membuat Kita Jadi Pahlawan

privacy / freepik

Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan dengan gambar-gambar yang disebarkan oleh sebuah akun media sosial, yang isinya foto kebersamaan antara Jennie Blackpink dan V BTS. Agensi yang menaungi mereka, masing-masing tak bisa memberikan keterangan secara gamblang karena hal itu merupakan privasi keduanya, baik V maupun Jennie. 

Jauh sebelumnya, kita melihat wajah anak seorang penyanyi Indonesia Raisa Andriana diperlihatkan oleh seorang pengguna media sosial. Padahal selama ini Raisa, suami, segenap keluarga dan sahabat keduanya selalu menyembunyikan wajah sang putri dari media sosial. Alasannya? privasi keluarga dan anak.

Beberapa peristiwa bocornya privasi orang-orang terkenal itu ke publik, semakin membuat kita meyakini, bahwa bagi sebagian orang, teramat sulit untuk berpartisipasi merahasiakan privasi orang lain. Tetapi justru dengan bangganya mampu menyebarkan ke media sosial. Etika dalam bermedia sosial sepertinya sudah selalu digaungkan oleh banyak orang, namun tak dipungkiri wawasan itu hanya menguap dan tak dipraktikkan.

Tahan Diri Untuk Membocorkannya

Masih banyak orang yang ingin dikenal apa adanya. Namun beberapa orang meyakini, mereka harus memiliki citra baik di hadapan orang lain, termasuk di media sosial.

Segala unggahan yang ada di media sosial tentang mereka, bisa direspons secara bebas oleh orang-orang, bahkan oleh orang-orang yang tidak dikenal. Unggahan akan menuai reaksi negatif dan reaksi positif. 

Sangat penting bagi kita dalam membagikan informasi yang berkaitan orang lain kepada khalayak umum, hendaknya mencegah mengunggah materi-materi yang berhubungan dengan informasi pribadi dan keluarga mereka. Bagikanlah informasi yang bersifat umum, hindari membagikan informasi yang bersifat privasi. Selain hal itu membuat orang lain tidak nyaman, hal itu bisa berpotensi menjadikan orang tersebut pada akhirnya menerima komplain dan perundungan di media sosialnya.

Minta Persetujuan Mereka

Kendati bersifat informatif, foto maupun video yang kita dapatkan adalah materi yang sangat berharga untuk sejumlah orang, tak ada salahnya kita menahan diri untuk mengabarkannya. Apalagi orang yang privasinya kita unggah, belum menyampaikannya kepada teman yang lain atau khalayak umum. Mintalah persetujuan mereka. Risiko bila informasi yang kita sebarkan menimbulkan kesalahpahaman dari beberapa pihak, akan membebani mereka. 

Baca Juga: Nomor HP Ditelepon Marketing Judi Online? Tetap Tenang dan Lakukan Ini

Tunjukkan Rasa Hormat Pada Budaya dan Nilai yang Berbeda

Setiap orang punya pandangan, definisi dan nilai masing-masing soal bagaimana sebuah momen atau peristiwa masuk dalam ranah privasi atau bukan. Kembali berkaca pada budaya dan nilai yang kita yakini. Pahami bahwa apa yang tidak kita anggap sebagai privasi, bisa jadi privasi dalam budaya dan nilai hidup orang lain, demikian juga sebaliknya. Bila privasi yang sedemikian rupa kita jaga, dibocorkan atau dimuat di media sosial orang lain, bagaimana perasaan dan pikiran kita saat itu terjadi?

Mengindahkan norma-norma yang berlaku di dunia nyata untuk dibawa di dunia maya bisa menjadi sangat penting. Bila tak ingin suatu saat kelak privasi kita diganggu, maka ada baiknya kita sebagai pengguna media sosial juga harus bijak untuk tidak menginformasikan privasi orang lain.

Membocorkan Privasi Orang Lain Tak Akan Membuat Kita Jadi Pahlawan

Di negara-negara maju, hak privasi sangat diperhatikan, termasuk gambar pribadi. Mengambil gambar orang lain tanpa sepengetahuan mereka adalah tindakan yang tidak etis, apalagi menyebarluaskannya. Belum lagi, bila materi yang kita sebarkan itu adalah konten yang sangat dijaga oleh mereka. 

Bertemu selebriti, teman dekat memang sangatlah menyenangkan. Membocorkan apa yang selama ini mereka rahasiakan, tak akan membuat kita menjadi pahlawan. Ingat, itu tidak keren.

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI