Techverse.asia - Mengadaptasi puisi kuno berusia 3000 tahun menjadi film ke layar lebar tentunya bukan perkara mudah, pertimbangan seperti mitologi, keakuratan sejarah, alur cerita, hingga tokoh-tokohnya jadi paralel yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Ini untuk memberikan gambaran besar kepada audiens.
Seperti yang dilakukan oleh Christopher Nolan melalui film terbarunya berjudul The Odyssey yang diilhami dari puisi Odyssey karya Homer (sastarawan Yunani Kuno). Upaya ini bukan barang baru, sebab sebelumnya sudah ada miniseri The Odyssey (1997), Troy (2004) dan The Returns (2024).
Dari semua judul film adaptasi tersebut, tentunya ada banyak cerita yang dibuang, karena kalau mau dinarasikan secara utuh bakal membuat durasi filmnya lebih panjang, termasuk The Odyssey arahan Nolan.
Film ini menggunakan gaya penarasian khas Nolan yang maju-mundur atau tak linear alurnya, membengkokkan waktu, dan menyelipkan cerita di dalam cerita. Menariknya, The Odyssey diceritakan secara lebih manusiawi dan gampang dimengerti dengan konteks manusia saat ini - tak berjalan seperti sastra klasik yang kaku, cliche, dan berdebu.
Baca Juga: Trailer The Odyssey Mengungkap Cuplikan Baru tentang Cyclops dan Robert Pattinson
Meski begitu, Nolan tetap mampu mempertahankan elemen-elemen seperti "mitologi maupun alur ceritanya," memang tak dipungkiri pemilihan para pemerannya mendapat kritik tajam karena dinilai tak akurat sesuai aslinya (Lupita Nyong'o sebagai Helen). Nah, lantas apakah hal ini menjadikan The Odyssey enggak direkomendasikan buat ditonton? Simak ulasan berikut.

The Odyssey mengikuti cerita perjalanan Raja Ithaca yaitu Odysseus yang mau pulang ke kampung halamannya usai ikut berperang dalam Perang Troya yang berlangsung selama sepuluh tahun. Film yang sepenuhnya disyuting menggunakan IMAX ini pembukanya langsung menampilkan Penelope (Anne Hathaway) yang telah menunggu kepulangan Odysseus.
Selain itu, audiens juga menyaksikan putra Odysseus, Telemachus (Tom Holland) yang telah tumbuh dewasa namun tanpa sosok seorang ayah dan bahkan tidak pernah melihatnya secara langsung. Ia pastinya bertanya-tanya apakah ayahnya masih hidup dan kembali pulang.
Di tengah hilangnya Odysseus, Penelope dan Telemachus cuma dapat bertahan sekuat mungkin agar takhta sang ayah tak jatuh ke tangan para bandit, utamanya Antinous (Robert Pattinson) yang berambisi besar bisa menjadi Raja Ithaca baru seraya menikahi Penelope.
Baca Juga: Trailer Pertama Film The Odyssey: Matt Damon Berjuang untuk Pulang
Lebih lanjut, audiens disuguhkan dengan epos perjalanan Odysseus yang tengah berupaya mencari jalan pulang. Dia membawa kondisi trauma setelah Perang Troya, rasa bersalah, dan penyesalan yang mendalam. Nolan menampilkan lini masa Odysseus pulang ke Ithaca secara tak linear, tapi akan bisa dimengerti setelah masuk ke babak ketiga film.

Berbekal pengambilan gambar format IMAX 70 mm, audiens dapat merasakan lokasi-lokasi yang imersif: lautan lepas, kastil, kuda troya, kapal-kapal kecil, tebing, hingga monster, yang dilewati oleh armada Odysseus dalam perjalanan pulang ke Ithaca.
Di fase ini mereka bertemu dengan rintangan ikonik, mulai dari konfrontasi dengan raksasa mata satu yang tak lain adalah Polyphemus sang Cyclops, penyihir Circe (Samantha Morton), nyanyian Sirens serta pusaran air Charybdis. Sirens digambarkan sebagai godaan wanita terhadap para pria di bumi.
Seperti diketahui Nolan sangat menghindari penggunaan CGI pada setiap film-filmnya, untuk itu, saat pengambilan gambar pusaran air Charyabdis, dia menggunakan efek praktikal masif (animatronic dan kolam air raksasa) guna menghasilkan pusaran air raksasa.
Baca Juga: Crunchyroll Games x TMS Rilis Bananya Buddies, Diangkat dari Anime
Setelah melalui itu semua, Odysseus terdampar di sebuah pulau terpencil bersama Calypso (Charlize Theron). Di sini, konflik internal Odysseus mengenai waktu yang terbuang dan kerinduan akan rumah mencapai puncaknya.

Kekuatan utama pada film yang dilaporkan menghabiskan anggaran US$250 juta atau sekitar Rp4 triliun ini adalah kepulangan Odysseus bukan sebagai pahlawan Perang Troya, melainkan awal beban psikologis Odysseus. Dia membawa buah tangan berupa "kegelapan kemenangan" dan rasa bersalah karena merasa perang yang ia menangkan justru menghancurkan dunia.
Odysseus pun harus membayarnya dengan pengakuan dan kehilangan. Di samping itu, sedikit catatan untuk Zendaya sebagai Dewi Athena, yang Nolan upayakan untuk menjembatani luka batin tersebut melalui karakter pembisik ke Odysseus. Namun sayangnya hal ini malah memunculkan tanda tanya mengenai identitas Athena yang kurang mendapat eksplorasi karakter.
The Odyssey enggak lengkap tanpa peran dari skor musik gubahan Ludwig Göransson dan sinematografi karya Hoyte van Hoytema yang begitu memukau. Patut diapresiasi pula tim kostum, desain, efek visual, produksi, hingga tata rias. Semuanya bersinergi menerjemahkan narasi visual Nolan.
Baca Juga: Review Toy Story 5: Benarkah Gawai akan Menggantikan Mainan Tradisional?














