Tips Belanja Online yang Aman Saat Ramadan 2026

(ilustrasi) belanja online (Sumber: Pixabay)

Techverse.asia - Saat Ramadan 2026, aktivitas belanja online di Indonesia diproyeksikan kembali meningkat, seiring semakin luasnya adopsi kanal digital. Bank Indonesia mencatat nilai transaksi mencapai Rp44,4 triliun pada Juli 2025 dan diperkirakan terus tumbuh setiap tahun.

Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia dan berbagai laporan industri digital, nilai transaksi lokapasar nasional diperkirakan terus tumbuh dua digit setiap tahunnya, terutama menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri yang secara historis menjadi puncak konsumsi digital masyarakat.

Meski demikian, dengan meningkatnya transaksi digital di momen-momen penting seperti Ramadan, pelaku kejahatan siber sering kali semakin memanfaatkan periode ini untuk melancarkan berbagai modus penipuan, mulai dari phishing, situs palsu, hingga upaya pencurian data pribadi.

Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan modus yang paling banyak ditemukan adalah phishing berbasis pesan instan, impersonasi customer service, serta penyalahgunaan tautan pelacakan pengiriman palsu.

Baca Juga: Waspada Penipuan Memanfaatkan AI, Menyasar Konsumen Belanja Online

"Risiko keamanan transaksi online memang masih menjadi tantangan nyata di Indonesia dan menjadi tanggung jawab bersama untuk menjawab tantangan ini. Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online, khususnya menjelang Ramadan, konsumen perlu semakin waspada terhadap modus penipuan digital yang kian beragam," katanya, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, literasi keamanan digital menjadi kunci agar masyarakat dapat menikmati kemudahan lokapasar tanpa mengorbankan keamanan dan kenyamanan. Guna mendukung keamanan dan kenyamanan pelanggan berbelanja daring, Pratama membagikan lima tips praktis dan efektif belanja online.

Pertama, lindungi data diri dengan mengganti kata sandi (password) akun Anda di platform lokapasar secara rutin. Pastikan untuk memilih password yang unik dan tidak mudah ditebak, seperti misalnya gabungan antara huruf, angka, dan karakter khusus lainnya untuk menciptakan kode unik.

"Selain itu, jangan gunakan password yang sama untuk setiap akun online, sehingga bila ada kebocoran di satu akun, akun lainnya akan tetap terlindungi," katanya.

Baca Juga: Tips dan Teknik Mengendarai Mobil di Tanjakan Curam

Aktifkan juga fitur autentikasi dua faktor atau verifikasi biometrik yang tersedia di aplikasi untuk memberikan lapisan perlindungan tambahan terhadap akunmu.

Kedua, saat ini banyak modus penipuan yang meminta masyarakat untuk mengakses tautan (link) dengan iming-iming tertentu, mulai dari hadiah, diskon khusus, atau keuntungan lainnya. Yang terbaru, ada modus penipuan yang mengatasnamakan jasa logistik atau ekspedisi, di mana pelanggan diminta untuk mengakses link tertentu untuk menelusuri paket ataupun memproses pengembalian dana.

Ini adalah percobaan penipuan, di mana tautan semacam ini sering kali digunakan pihak tidak bertanggung jawab untuk mengambil alih kontrol perangkat dan mencuri informasi pribadi konsumen

Ketiga, pastikan hanya berbelanja di aplikasi serta situs resmi dan tepercaya. Selalu periksa kembali alamat URL situs web sebelum mengisi data pribadi atau melakukan transaksi. Platform e-commerce tidak bisa melakukan penelusuran apabila transaksi dilakukan di luar platform.

Baca Juga: Indonesia Masuk Daftar 10 Negara Paling Hobi Belanja Online

Keempat, kode OTP digunakan untuk memverifikasi identitas dan melindungi akun pengguna dari akses yang tidak sah. Jangan pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun. Kalau menerima permintaan untuk memberikan kode OTP, lakukan verifikasi terlebih dahulu melalui kanal komunikasi ataupun media sosial resmi dari perusahaan sebelum memberikan informasi apa pun.

Kelima, modus untuk install aplikasi dalam bentuk pesan instan atau tautan yang enggak resmi di luar App Store atau Google Play Store. Praktik ini biasanya dalam bentuk file APK yang rawan akan pencurian data karena pengguna akan dimintai izin ke akses seperti notifikasi, kamera, membaca SMS, dan pengendalian dari jarak jauh.

Pelaku penipuan pun sering meminta korban untuk mengaktifkan fitur berbagi layar dengan dalih membantu proses transaksi atau pengembalian dana, yang memungkinkan mereka melihat seluruh aktivitas layar secara real-time - termasuk aplikasi mobile banking, PIN, dan kode OTP.

Penting untuk dipahami bahwa tidak ada pelantar lokapasar, bank, atau perusahaan logistik resmi yang akan meminta pelanggan untuk menginstal aplikasi di luar kanal resmi atau mengaktifkan berbagi layar untuk memproses transaksi.

Baca Juga: Igloo Bagikan 4 Tips Belanja Online Selama Bulan Ramadan dan Idul Fitri

Tags :
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI