Techverse.asia - Pada minggu ini, PT Intervyou Labs Indonesia resmi melansir pelantar persiapan karir bertenaga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) guna menjawab tantangan pengangguran di Indonesia. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi instrumen utama guna menutup kesenjangan antara lulusan baru atau fresh graduate dengan standar kebutuhan industri global.
Dinukil dari Universitas Negeri Malang (UM), startup ini mendigitalisasi metode persiapan kerja konvensional ke simulasi yang adaptif dan lebih terpersonalisasi. Intervyou memperkenalkan fitur CV Analysis and Optimization yang memberikan Matching Score objektif guna memastikan dokumen si pelamar kompatibel dengan sistem Applicant Tracking System (ATS).
Baca Juga: APM Singapore 2026: TransTRACK Tampilkan Solusi Monitoring Maritim Terpadu
Keunggulan utama dari pelantar itu ialah di fitur AI Interview Mockup. Ini menggunakan Computer Vision guna mengevaluasi parameter non-verbal secara presisi. Sistem ini mampu menganalisis kontak mata atau eye contact, postur tubuh, dan gerakan tangan pelamar untuk memberikan umpan balik nyata dan akurat.
Lantas, data dari CV bisa diintegrasikan ke dalam AI Interview Mockup. Artinya, simulasi wawancara telah dipersonalisasi menurut narasi dan deskripsi pekerjaan yang pelamar tuju. Sistem tersebut juga bakal memberikan skor serta umpan balik yang komplet. Sebagai pelengkap berkas administrasi, tersedia juga generator otomatis untuk dokumen lamaran kerja.
Sebagai bagian dari Google for Startups Cloud Program dan Nvidia Inception Program, Intervyou punya akses ke pengolahan data yang berkecepatan tinggi. Dukungan itu turut memastikan simulasi wawancara berjalan tanpa latensi atau kendala, sehingga menciptakan pengalaman yang identik dengan menghadapi rekruter asli.
Baca Juga: Fita dan BPJS Ketenagakerjaan Hadirkan Combo Fit Jamsostek, Dukung Pekerja Informal
Chief Executive Officer (CEO PT Intervyou Azarya Aditya menyampaikan bahwa pentingnya akan penerapan teknologi dalam persiapan karir. Visinya adalah memastikan agar setiap talenta muda punya akses ke mentor AI yang kompeten serta berkualitas tanpa kendala ekonomi.
"Kami dapat mengubah kecemasan menjadi percaya diri yang kompetitif dan terukur," ujar Aditya.
Intervyou, katanya, menggunakan model berbasis token yang efisien, yang memungkinkan pelamar untuk mengakses optimasi daftar riwayat hidup mereka sampai simulasi wawancara secara on-demand tanpa beban biaya langganan bulanan. "Hal ini akan memberikan peluang yang sama bagi setiap individu untuk bersaing di bursa kerja nasional maupun global," terang dia.
Startup yang menyiapkan karir berbasis AI ini didirikan pada tahun lalu oleh Aditya. Dia merupakan mahasiswa Program Studi S1 Teknik Informatika UM bersama timnya. Azarya menilai, persoalan pengangguran tidak hanya disebabkan keterbatasan lapangan kerja, tetapi juga rendahnya kesiapan pencari kerja menghadapi proses rekrutmen.
Baca Juga: Ingin Bekerja Di Startup Jangan Pernah Berharap Zona Nyaman, Miliki Juga Skill Berikut
"Ide awal pembuatan Intervyou dimulai dari keprihatinan kami terhadap tingginya angka pengangguran di Indonesia," ujarnya.
Tahap wawancara kerja, menurutnya, kerap menjadi momok bagi Gen Z dan fresh graduate. "Wawancara adalah tahap yang sangat krusial, tetapi banyak pencari kerja kurang persiapan hingga mengalami interview anxiety," katanya. Kondisi inilah yang mendorong Intervyou dikembangkan sebagai sarana peningkatan kesiapan karir.
Berbeda dengan platform sejenis, Intervyou mengintegrasikan Generative AI dan Computer Vision untuk menghadirkan pengalaman latihan wawancara yang interaktif. "Kami menawarkan solusi yang terpersonalisasi sesuai kemampuan dan tujuan karir pengguna," ujarnya.
Baca Juga: Startup Pin J Beri Tawaran Pinjaman untuk Pekerja Gig dan Informal
Berkat fitur AI Interview Session, pengguna dapat berlatih wawancara berbasis suara dengan kecerdasan buatan, disertai analisis gestur dan ekspresi wajah, evaluasi jawaban, serta rekomendasi pengembangan diri. Ke depan, Azarya berharap IntervYou berkontribusi menurunkan angka pengangguran.
"Kecerdasan buatan bukan untuk menggantikan manusia, tetapi membantu manusia," katanya.













